Preses Penilaian   1 comment


EVALUASI HASIL BELAJAR

BAB – I

PENDAHULUAN

1. Umum.

a. Kegiatan Evaluasi Hasil Belajar merupakan salah satu upaya pencapaian tujuan pendidikan karena hasil evaluasi ini merupakan indicator dari keberhasilan pencapaian tujuan pendidikan baik secara parsiil maupun dari keseluruhan proses belajar mengajar yang dapat digunakan sebagai bahan therapy kegagalan belajar.

b. Evaluasi hasil belajar merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari usaha-usaha pendidikan secara keseluruhan termasuk untuk mengukur tingkat efisiensi dan efektifitas dari segenap aspek kurikulum pendidikan yang meliputi penentuan bahan ajaran, kualitas dan kuantitas alat instruksi, metoda mengajar, bimbingan dan pengasuhan dengan menggunakan waktu dan kualitas serta kuantitas tenaga pendidik yang tersedia.

c. Kegiatan evaluasi hasil belajar pada hakekatnya adalah kegiatan pengukuran dan penilaian terhadap perkembangan peserta didik sebagai hasil dari proses belajar mengajar. Dan dengan terbatasnya waktu yang tersedia untuk setiap mata pelajaran dalam menyelenggarakan suatu pendidikan, maka perlu adanya penyesuaian penggunaan metoda evaluasi hasil belajar yang praktis dan sistematis.

2. Maksud dan tujuan.

a. Maksud. Evaluasi hasil belajar ini dimaksudkan sebagai pedoman umum untuk mencapai keseragaman dalam penggunaan evaluasi hasil belajar yang berdaya guna dan tepat guna agar tercapai tujuan pendidikan.

b. Tujuan. Evaluasi hasil belajar ini bertujuan untuk mencapai hasil didik yang sebaik-baiknya dalam suatu proses belajar mengajar.

3. Ruang Lingkup dan Tata Urut. Naskah ini meliputi penjelasan tentang pokok-pokok evaluasi hasil belajar, evaluasi aspek jasmani peserta didik sebagai hasil proses belajar mengajar. Disusun dengan tata urut sebagai berikut :

  1. Pendahuluan.
  2. Pokok-pokok evaluasi hasil belajar.
  3. Penentuan nilai perkembangan peserta didik.
  4. Evaluasi akhir pelajaran.
  5. Penutup.

4. Pengertian-Pengertian. Lihat Lampiran A.

BAB II

POKOK-POKOK EVALUASI HASIL BELAJAR

5. Umum. Pokok-pokok evaluasi hasil belajar terdiri dari tujuan, fungsi, obyek, cirri-ciri dan tahap-tahap kegiatan evaluasi perkembangan peserta didik yang meliputi aspek-aspek penilaian yaitu aspek sikap dan perilaku, aspek pengetahuan dan keterampilan serta aspek jasmani.

6. Tujuan Evaluasi Hasil Belajar. Tujuan evaluasi hasil belajar adalah mengukur tingkat keberhasilan pencapaian tujuan pendidikan setiap Peserta didik yang memiliki aspek sikap dan perilaku , aspek pengetahuan dan aspek ketrampilan serta aspek jasmani.

7. Fungsi Evaluasi Hasil Belajar. Fungsi evaluasi hasil belajar untuk mengetahui tingkat kemampuan peserta didik yang dapat digunakan dalam :

a. Therapi bagi peserta didik yang mengalami kegagalan belajar.

b. Menentukan keberhasilan (lulus/tidak lulus).

c. Menentukan klasisifikasi dan reklasifikasi personel.

d. Perbaikan penyelenggaraan proses pendidikan (umpan balik).

8. Obyek dan Ciri Alat Evaluasi Hasil Belajar yang baik.

a. Perkembangan sikap dan perilaku.

b. Perkembangan pengetahuan dan ketrampilan.

c. Perkembangan jasmani.

9. Ciri-ciri alat evaluasi hasil belajar yang baik. Ciri-ciri alat evaluasi hasil belajar yang baik adalah :

a. Valid. Alat evaluasi hasil belajar yang valid adalah yang dapat mengukur apa yang seharusnya diukur, setiap kegiatan evaluasi hasil belajar ditujukan untuk memperoleh gambaran yang seharusnya tentang kemampuan Peserta didik dalam hasil proses belajar mengajar.

b. Obyektif. Alat evaluasi hasil belajar yang obyektif adalah alat evaluasi hasil belajar yang dapat memberikan gambaran yang benar tentang sesuatu yang dievaluasikan.

c. Reliabel. Alat evaluasi hasil belajar yang realibel adalah alat evaluasi hasil belajar yang stabil dan dapat dipercaya dimana apabila digunakan berulang-ulang akan menunjukan hasil yang relatif sama.

d. Mempunyai kemampuan membanding . Alat evaluasi hasil belajar yang mempunyai kemampuan membanding adalah alat evaluasi hasil belajar yang dapat mem-bedakan tingkat intensitas belajar antara Peserta didik yang satu dengan lainnya dan antara yang pandai dengan Peserta didik yang kurang pandai.

e. Memenuhi kemampuan sampling. Alat evaluasi hasil belajar yang memenuhi kriteria sampling adalah alat evaluasi hasil belajar yang memuat persoalan-persoalan yang mewakili setiap bagian materi pelajaran secara sistimatis dan merata.

f. Sesuai dengan tingkat belajar peserta didik. Alat evaluasi hasil belajar yang sesuai dengan tingkat berfikir Peserta didik adalah alat evaluasi hasil belajar yang menggunakan bahasa peristilahan sesuai dengan taraf berfikir Peserta didik. Hendaklah dihindari adanya alat evaluasi hasil belajar yang tidak dapat dikerjakan oleh peserta didik hanya dikarenakan tidak dimengertinya maksud bahasa dan peristilahan yang digunakan.

10. Tahap-Tahap Kegiatan Evaluasi. Tahap-tahap kegiatan evaluasi perkembangan Peserta didik dalam proses belajar mengajar terdiri dari : pre tes, tes selama proses belajar mengajar dan tes akhir meliputi aspek-aspek penilaian yaitu aspek sikap dan perilaku, aspek pengetahuan dan ketrampilan dan aspek jasmani, sebagai berikut :

a. Tes awal. Yang dimaksud dengan tes awal adalah usaha untuk mengukur tingkat kemampuan Peserta didik pada awal memasuki pendidikan dari seluruh aspek penilaian yang meliputi aspek-aspek sikap dan perilaku, pengetahuan dan ketrampilan serta jasmani.

1) Tujuan tes awal.

a. Bahan untuk pengelompokan peserta didik dalam kelompok-kelompok belajar.

b. Bahan untuk penentuan kegiatan binbingan dan pengasuhan.

2) Tes awal aspek sikap dan perilaku. Tes awal aspek sikap dan perilaku dilaksanakan hanya apabila diperlukan bagi kepentingan lembaga khususnya untuk mengetahui motivasi Peserta didik dalam mengikuti pendidikan yang bersangkutan. Tes dilaksanakan melalui penyiapan cekhlis isian yang disusun oleh lembaga sesuai kebutuhan, selanjutnya hasil tes digunakan sebagai data peserta didik dalam aspek sikap dan perilaku . Bagi pendidikan yang tidak melaksanakan pre tes aspek sikap dan perilaku , data sikap dan perilaku awal peserta didik diambilkan dari data yang dibawa sebagai persyaratan administrasi awal, khususnya tentang data sikap dan perilaku seperti : Hasil psikotes, daftar penilaian dari satuan pengirim dan lain-lain.

3) Tes awal aspek pengetahuan dan ketrampilan. Tes awal aspek pengetahuan dan ketrampilan atau lebih dikenal dengan istilah diagnostik I dilaksanakan untuk mengetahui apakan calon Pserta didik sudah mengetahui pengetahuan dasar yang dipersyaratkan dalam menerima pengetahuan dari berbagai pelajaran yang akan didapat dari pendidikan yang bersangkutan. Bentuk tes awal aspek pengetahuan dan ketrampilan menggunakan tehnik tes dengan berbagai bentuk baik tes obyektif maupun tes subyektif sesuai dengan kebutuhan, jenis pendidikan serta tingkat intelektualitas Peserta didik.

4) Tes awal aspek Jasmani. Tes awal aspek jasmani dilakukan sebagai bahan input jasmani peserta didik berupa tes kesegaran jasmani. Pelaksanaannya didahului dengan pemeriksaan kesehatan yang diperlukan untuk mengikuti tes kesegaran jasmani selanjutnya bentuk tes berupa tes kesegaran A dan tes kesegaran B sesuai petunjuk penyelenggaraan tes kesegaran jasmani yang diberlakukan.

b. Tes selama proses belajar mengajar. Yang dimaksud dengan tes selama proses belajar mengajar tes yang dilakukan untuk mengukur pencapaian tujuan pendidikan pada tahapan tujuan instruksional umum (TIU) maupun tujuan instruksional khusus (TIK).

1) Tujuan.

a) Untuk mengetahui perkembangan kemajuan belajar Peserta didik.

b) Untuk mengetahui kesulitan Peserta didik dalam menerima pelajaran.

2) Tes aspek sikap dan perilaku. Evaluasi aspek sikap dan perilaku selama proses belajar mengajar dilaksanakan dengan tehnik tes mata pelajaran dalam subyek Bin Kejuangan dan Kepribadian serta menggunakan tehnik non tes yaitu berupa : Observasi dan wawancara.

3) Tes aspek pengetahuan dan keterampilan. Tes selama proses belajar mengajar pada aspek pengetahuan dan keterampilan, dilakukan dengan :

a) Tes formatif yaitu tes yang dilakukan untuk mengetahui sejauh mana Peserta didik telah terbentuk setelah mengikuti suatu progaram tertentu.

Dalam pelaksanaanya tes formatif menggunakan semua bentuk tes yang diberlakukan dalam evaluasi aspek pengetahuan dan ketrampilan, hasilnya secara komuilatif akan diperhitungkan bersama tes-tes lainnya baik tes diagnostik maupun tes akhir.

b) Tes disgnostik yaitu tes yang digunakan untuk mengetahui kelemahan-kelemahan tersebut dapat dilakukan pemberian perlakuan yang tepat. Tes diagnostik diperlukan apabila terjadi kesulitan belajar diantara peserta didik hasil tes tersebut akan digunakan untuk mengetahui penyebab dan mencari therapi penyembuhan. Tes diagnostik ini apabila dilaksanakan nilaianya secara komulatif digabungkan beserta nilai-nilai tes lainnya yang hasil akhirnya merupakan prestasi Peserta didik dalam mata pelajaran tersebut.

4) Tes aspek Jasmani. Tes selama proses belajar dalam aspek jasmani dilaksanakan dengan tehnik tes mata pelajaran ketangkasan jasmani yang terdapat dalam subyek Bin jasmnai yang hasilnya secara komulatif akan diperhitungkan bersama tes kesegaran jasmani dan tes evaluasi fisik pada tes akhir

c. Tes Akhir. Yang dimaksud dengan tes akhir atau dikenal dengan istilah tes sumatif, adalah tes yang dilakukan setelah program setiap bidang studi atau setiap kegiatan kurikuler selesai dilaksanakan seluruhnya.

1) Tujuan.

a) Untuk mengukur pencapaian tujuan kurikuler .

b) Daftar dalam penghitungan pencapaian prestasi setiap Peserta didik.

2) Tes akhir aspek sikap dan perilaku. Evaluasi aspek sikap dan perilaku menggunakan tehnik non tes yaitu berupa : observasi dan wawancara yang hasil/nilainya digabung dengan teknik tes terhadap hasil/nilai prestasi materi pelajaran (bila ada) yang terpadat pada subyek Bin Kejuangan dan Kepribadian dalam RPP Kurikulum.

3) Tes akhir aspek pengetahuan dan ketrampilan. Evaluasi aspek pengetahuan dan ketrampilan atau dikenal dengan istilah tes sumatif, merupakan tes yang mutlak dilaksanakan dalam rangka evaluasi aspek pengetahuan dan ketrampilan setelah kegiatan program pengajaran dari suatu mata pelajaran selesai dilaksanakan. Hasil/nilai tes akhir ini digabungkan dengan nilai tes lainnya untuk satu mata pelajaran dengan menggunakan rumus :

N MP = NTf + NTd + NTs

n

N MP = Nilai prestasi dalam MP tertentu.

NTf = Nilai tes formatif (apabila ada).

NTd = Nilai tes diagnostik. (apabila ada).

NTs = Nilai tes sumatif.

n = Jumlah banyaknya tes yang dilaksanakan.

3) Tes akhir aspek jasmani. Tes akhir aspek jasmani merupakan kegiatan dalam evaluasi aspek jasmani meliputi tes kesegaran dan tes evaluasi fisik dengan didahului oleh observasi terhadap postur tubuh, yang pelaksanaannya sebagai berikut :

a) Kesegaran, dengan tes kesegaran A dan Tes kesegaran B.

b) Evaluasi fisik dengan tes ketangkasan pada setiap jenis ketangkasan jasmani yang ditentukan, sesuai dengan jenis dan macam pendidikannya, meliputi : Berenang, Lintas Medan, Halang Rintang, Ketahanan Mars dan Kecepatan Mars.

11. Evaluasi aspek dan perilaku. Tujuan evaluasi aspek sikap dan perilaku adalah untuk mengukur tingkat keberhasilan pencapaian tujuan pendidikan dibidang sikap dan perilaku.

12. Unsur-unsur yang di evaluasi aspek sikap dan perilaku

a. Bentuk non tes, yaitu :

1) Mental spiritual, terdiri dari :

a) Ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

b) Kejujuran.

c) Penguasaan diri.

d) Toleransi sosial dalam kehidupan beragama.

2) Mental Idiologi, terdiri dari :

a) Keyakinan dan pengalaman terhadap Pancasila dan UUD 1945.

b) Rasa persatuan dan kesatuan bangsa.

3) Mental keprajuritan, terdiri dari :

a) Disiplin.

b) Ketabahan dan keuletan.

c) Keberanian.

d) Rasa Tanggung Jawab.

e) Percaya kepada diri sendiri.

f) Kemampuan menyelesaikan tugas.

g) Inisiatif.

h) Loyalitas trimarga.

i) Kemampuan menyatakan kehendak.

j) Keterbukaan.

k) Kewibawaan.

l) Kemampuan kerja sama

m) Kemampuan mengambil keputusan.

n) Kemampuan merencanakan.

o) Kemampuan meyesuaiakan diri.

p) Kemampuan mengembangkan diri.

q) Kemampuian berorganisasi.

b. Bentuk tes yaitu materi pelajaran yang terpadat pada subyek Bin Kejuangan dan Kepribadian dalam RPP Kurikulum pendidikan yang bersangkutan.

13. Tehnik dan alat yang digunakan :

a. Bentuk non tes.

1) Tehnik. Tehnik evaluasi yang digunakan dalam mengevaluasi aspek sikap dan perilaku berupa tehnik non tes, yaitu :

a) Observasi

(1) Observasi dilakukan selama dalam proses belajar mengajar, termasuk pada saat kritis seperti tes jasmani , latihan, kegiatan non kurikulum dan lain-lain.

(2) Observasi dilakukan oleh segenap personel lemdik yang tugas atau jabatannya berhubungan langsung dengan peserta didik, sehingga memungkinkan untuk melakukan observasi.Yang termasuk katagori ini adalah :

(a) Komandan-komandan Satuan Pendidikan.

(b) Tenaga Pendidik.

(c) Para pembimbing/pengasuh Peserta didik.

b) Wawancara.

(1) Wawancara dilakukan untuk melengkapi data evaluasi sikap dan perilkau yang telah dilakukan dengan observasi.

(2) Wawancara dilakukan terutama oleh Komandan Satuan Pendidikan.

2) Alat. Alat yang digunakan dalam mengevaluasi aspek sikap dan perilaku adalah :

a) Observasi menggunakan cekhlist observasi.

b) Wawancara menggunakan pedoman wawancara.

b. Bentuk tes yaitu teknik dan alat yang digunakan sama dengan teknik dan alat pada aspek pengetahuan dan keterampilan.

14. Tata cara pelaksanaan.

a. Pelaksanaan evaluasi.

1) Bentuk non tes. Evaluasi sikap dan perilaku dilaksanakan secara periodik setiap bulan dan didokumentasikan di staf yang terkait dengan pengajaran, dengan tujuan untuk kepentingan therapi dan menjamin obyektifitas penilaian.

2) Bentuk tes. Evaluasi sikap dan perilaku dilaksanakan setelah satu mata pelajaran yang terdapat dalam subyek Bin Kejuangan dan Kepribadian pada RPP Kurikulum selesai diajarkan.

b. Pembobotan.

1) Bentuk non tes.

a) Pembobotan dibedakan untuk setiap jenis pendidikan

b) Pembobotan ditentukan sebagai berikut :

NOMOR URUT UNSUR PENILAIAN BOBOT
DIK GOL PA DIK GOL BA
1 2 3 4
1. Mental Spiritual
  1. Ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
  2. Kejujuran
  3. Penguasaan diri
  4. Toleransi sosial dalam kehidupan beragama
50

50

45

35

50

50

45

35

2. Mental Ideologi
  1. Keyakinan dan Pengamalan terhadap Pancasila dan UUD 45.
  2. Rasa Persatuan dan Kesatuan Bangsa
50

50

50

50

3. Mental Keprajuritan
  1. Disiplin
  2. Ketabahan dan keuletan
  3. Keberanian
  4. Rasa Tanggung Jawab
  5. Percaya pada diri sendiri
  6. Kemampuan menyelesaikan tugas
  7. Inisiatif
  8. Loyalitas Tri Marga
  9. Kemampuan menyatakan kehendak
  10. Keterbukaan
  11. Kewibawaan
  12. Kemampuan kerja sama
  13. Kemampuan mengambil keputusan
  14. Kemampuan merencanakan
  15. Kemampuan menyesuaikan diri
  16. Kemampuanemengembangkan diri
  17. Kemampuan berorganisasi
50

45

45

45

45

45

45

45

35

45

45

35

45

35

45

40

40

50

50

40

45

50

40

50

50

40

35

35

40

35

40

40

35

35

Jumlah 1000 1000

c) Kriteria penilaian untuk setiap unsur penilaian dari aspek sikap dan perilaku dapat dilihat pada lampiran “B”.

2) Bentuk tes.

a) Pembobotan nilai dari materi pelajaran (apabila ada yang terdapat dalam subyek Bin Kejuangan dan Kepribadian pada RPP Kurikulum, dengan menggunakan rumus :

Bobot Mata Pelajaran = JJP X B X 1000

(5 X JM) + (3 X JP) + (2 X JF)

Keterangan :

JJP = Jumlah Jam Pelajaran (sesuai bobot MP yang dicari)

B = Bobot sesuai katagori (sesuai bobot katagori MP yang cari, Mutlak : 5, Penting : 3, Faedah : 2)

JM = Jumlah jam pelajaran katagori mutlak

JP = Jumlah jam pelajaran katagori penting

JF = Jumlah jam pelajaran katagori faedah

Contoh.

Pada pendidikan Secaba PK Tahap I terdapat materi pelajaran dalam subyek Bin Kejuangan dan Kepribadian pada RPP Kurikulum, sebagai berikut :

(1) Peanan Agama dalam kehidupan sehari-hari = 10 JP, katagori Mutlak.

(2) Pancasila = 15 JP, katagori Mutlak

(3) Binwasitalid = 16 JP, katagori Penting

(4) GBHN = 13 JP, katagori Berfaedah

Mencari bobot materi pelajaran tersebut, sebagai berikut :

(1) MP Peranan Agama dalam kehidupan sehari-hari =

JJP X B X 1000 = 50.000 = 251

(5 X JM) + (3 X JP) + (2 X JF) 199

(2) MP Pancasila = 377

(3) MP Binwasitalid = 241

(4) MP GBHN = 131

3) Kriteria penialan untuk setiap unsur penilaiandari aspek sikap dan perilaku bentuk non tes dapat dilihat pada lampiran C.

4) Cara menghitung nilai masak

a) Bentuk non tes. Cara menghitung nilai masak tiap-tiap unsur menggunakan rumus sebagai berikut :

NM = å N x B

1000

NM = Nilai masak setiap unsur penilaian.

N = Nilai Mentah setiap unsur penilaian.

B = Bobot

Contoh perhitungan nilai masak :

Unsur penilaian dalam kriteria aspek sikap dan perilaku pada unsur penilaian keberanian dalam kriteria mental prajurit = 800

Bobot nilai pada unsur penilaian keberanian = 40.

Nilai masak pelajar A pada unsur penilaian keberaniaan, adalah :

800 x 40 = 32

1000

Jika rata-rata dari 23 unsur penilaian hasil nilai mentah bobot nilai pelajar A seperti tersebut diatas, maka nilai masak pelajar A dlaam aspek sikap perilaku adalah :

  1. x 32 = 736

b) Bentuk tes. Cara menentukan nilai masak, dengan cara : Nilai mentah tiap-tiap materi X bobot tiap-tiap materi pelajaran.

(1) MP Peranan Agama Dalam kehidupan

sehari-hari, nilai = 80

(2) MP Pancasila = 70

(3) MP Binwasitalid = 75

(4) MP GBHN = 80

Menentukan nilai masak, dengan cara :

(1) MP Peranan Agama X Bobot

80 x 251 = 20080

(2) MP Pancasila X Bobot

70 x 377 = 26390

(3) MP Binwasitalid x Bobot

75 x 241 = 18075

(4) MP GBHN x Bobot

80 x 131 = 10480

5) Cara menghitung nilai prestasi. Urutan menghitung nilai prestasi murni, sebagai berikut :

  1. Cari nilai prestasi dari hasil bentuk non tes.
  2. Cari nilai prestasi dari hasil bentuk tes (apabila ada)
  3. Perbandingan indeks hasil nilai prestasi bentuk non tes dengan indeks hasil prestasi bentuk tes adalah = 70 : 30

Mencari nilai prestasi masing-masing tes, menggunakan rumus sebagai berikut :

a) Bentuk non tes.

NP = å NM

NP = Nilai prestasi

NM = Jumlah nilai masak.

b) Bentuk tes.

NP = å NM

100

NP = Nilai prestasi

NM = Jumlah nilai masak.

Contoh :

(1) Nilai prestasi pelajar A dalam bentuk non tes =

23 x 32 = 736

(2) Nilai prestasi pelajar A dalam bentuk tes =

2080 x 26390 x 18075 x 10480 = 75025 = 750,25

100 100

Menentukan nilai prestasi murni hasil perbandingan bobot nilai prestasi bentuk non tes dan nilai prestasi bentuk tes adalah sebagai berikut :

Npm = Npnt X 70 + Npt X 30

100 100

= 736,00 X 70 + 750,25 X 30

100 100

= 515,2 + 225,075 = 740,275

Catatan : Apabila pada kurikulum tidak terdapat materi pelajaran dalam subyek bin kejuangan dan kepribadian (ekstra kurikuler), maka nilai prestasi yang digunakan adalah prestasi bentuk non tes.

15. Evaluasi aspek Ilmu pengetahuan dan ketrampilan. Tujuan evaluasi aspek pengetahuan dan ketrampilan adalah untuk mengukur tingkat kecakapan dibidang akademik baik berupa ilmu pengetahuan maupun ketrampilan sebagai bagian dari pengukuran tingkat keberhasilan pencapaian tujuan pendidikan secara keseluruhan.

16. Unsur-unsur yang dievaluasi.

a. Pengetahuan.

1) Penguasaan materi secara teoritis sesuai tingkat kecakapan yang dituntut.

2) Kemampuan memecahkan persoalan secara logis dan sistimatis.

b. Keterampilan.

1) Mempunyai kemampuan melaksanakan suatu pekerjaan sesuai tingkat kecakapan yang harus dicapai.

2) Mempunyai kemampuan memecahkan persoalan yang berkaitan dengan suatu pekerjaan secara logis dan sistimatis.

17. Tehnik dan bentuk evaluasi aspek ilmu pengetahuan dan ketrampilan.

a. Teknik. Teknik evaluasi yang digunakan dalam mengevaluasi aspek pengetahuan dan ketrampilan berupa tehnik tes, meliputi :

  1. Tes tertulis.
  2. Tes lisan (oral).
  3. Tes praktek baik berupa aplikasi, ketrampilan maupun ketangkasan.

b. Bentuk. Bentuk tes yang digunakan tergantung tehnik evaluasi yang dipilih, meliputi :

1) Tes tertulis. Tes tertulis adalah jenis tes yang diberikan secara tertulis, dengan bentuk :

a) Tes obyektif, terdiri dari :

(1) Benar – salah.

(a) Hal-hal yang harus diperhati-kan dalam menyusun soal Benar-Salah:

i. Beri petunjuk pengerjaan-nya dengan jelas dan memakai kalimat sederhana yang dapat dipahami oleh Peserta idik dengan mudah.

ii. Kalimat pernyataan harus tegas, benar atau sebaliknya.

iii. Hindarkan pemakaian per-nyataan yang terlalu umum, juga kata-kata yang memberikan petunjuk secara tidak langsung bahwa pernyataan tersebut benar atau salah.

iv. Hindarkan penggunaan kata-kata yang negatif seperti tidak, bukan dan lain-lain.

(b) Cara menentukan nilai, dengan menggunakan rumus :

Score = Jumlah jawaban benar = B – S

Score

Nilai = X Indek soal B – S

Jumlah soal

(2) Pilihan Jamak.

(a) Soal tes bentuk pilihan jamak, terdiri atas pembawa pokok persoalan dan pilihan jamak.

(b) Pembawa pokok persoalan dapat dikemukakan dalam bentuk pernyataan dan dapat pula dalam bentuk pertanyaan yang belum lengkap, sering disebut Stem.

(c) Pilihan jawaban itu kalimat disebut Option.

i. Option yang tidak merupakan jawaban yang benar.

ii. Analisa hubungan antar hal, yaitu yang dapat diguna-kan untuk melihat kemampuan peserta didik dalam meng-analisis hubungan antara pertanyaan dengan alasan.

iii. Variasi negatif artinya setiap pertanyaan mempunyai beberapa kemungkinan jawaban, diantaranya disediakan satu kemungkinan jawaban yang salah. Tugas peserta didik adalah memilih jawab yang salah tersebut.

iv. Variasi berganda, artinya memilih beberapa kemungkinan jawaban yang semua betul, tetapi ada jawaban yang paling betul. Tugas peserta didik adalah mencarai jawaban yang paling betul tersebut.

v. Variasi yang tidak lengkap, artinya memiliki beberapa kemungkinan jawaban yang ke-semuanya belum lengkap. Tugas peserta didik mencari satu kemungkinan dan menyelesaikan-nya.

(d) Hal-hal yang harus diperhati-kan dalam menyusun tes tertuis dengan bentuk pilihan jamak.

i. Berilah petunjuk menger-jakannya yang jelas.

ii. Jangan memasukan materi yang tidak relevan dengan kenyataan.

iii. Pernyataan dan option hendaknya merupakan kesatuan kalimat yang tidak terputus.

iv. Panjang option pada suatu soal hendaknya sama.

v. Usahakan agar sistem dann option tidak mudah diasosiasi-kan.

vi. Dalam penyusunannya, pola kemungkinan jawaban yang betul hendaknya jangan sistimatis.

(e) Cara menentukan nilai dengan menggunakan rumus :

Score = Jumlah jawaban benar = å B

Score

Nilai = X indeks soal pilihan jamak

Jumlah soal

(3) Isian.

(a) Bentuk isian merupakan soal yang menghendaki jawaban dengan suatu perkataan atau suatu bilangan yang jawabannya hanya dapat dinilai benar atau salah.

(b) Kalimat sependek mungkin.

(c) Usahakan memberikan kemung-kinan jawaban dengan kata atau kalimat yang pasti kebenarannya.

(d) Jumlah yang dikosongkan (option) tipe soal maksimal 4.

(e) Tidak dibenarkan option yang pertama diletakan didepan kalimat.

(f) Option harus dapat digabungkan /disatukan dengan pernyataan.

(g) Cara menentukan nilai, dengan menggunakan rumus :

Score = å B

Score

Nilai = X Indek soal uraian

Jml option yang harus diisi

b) Tes subyektif berupa uraian (essay)

(1) Tes uraian terutama bertujuan untuk mengukur kemampuan menguraikan apa yang terdapat dalam pikiran tentang suatu masalah yang diajukan.

Jawaban diberikan dalam bentuk uraian berupa kalimat yang berangkai dan disusun secara sistimatis. Bentuk jawaban dari tes uraian ini, secara garis besar dapat digolongkan kedalam dua golongan, yaitu :

(a) Uraian bebas (convergan), yakni tes yang harus dijawab dengan uraian secara bebas.

Contoh : Salah satu prinsip pen-didikan TNI-AD adalah “Pendidikan Militer merupakan pendidikan yang bertingkat dan berlanjut” Jelaskan maknanya.

(b) Uraian terikat (divergan), yakni tes yang harus dijawab dengan uraian yang berdasarkan teori tertentu.

Contoh : Katdaldik adalah seperang-kat dukumen pendidikan sebagai alat kendali dalam operasi pendidikan yang merupakan perwujudan kurikulum pendidikan TNI AD. Uraikanlah sruktur Katdaldik TNI AD.

(2) Hal-hal yang harus diperhatikan dalam menyusun tes tertulis bentuk uraian (essay) :

(a) Petunjuk harus tegas dan jelas.

(b) Unsur-unsur yang harus di-uraikan, disusun secara sistimatis.

(c) Kelengkapan jawaban harus merupakan satu uraian yang me-nerangkan satu permasalahan.

(3) Cara menentukan nilai tes uraian .

(a) Cari dahulu nilai uraian sesuai dengan tingkat kesukarannya, caranya adalah sebagai berikut :

i. Tentukan nilai bobot indek kesukaranya, yaitu :

Bobot uraian sekar = 5

Bobot uraian sedang = 3

Bobot uraian mudah = 2

ii. Cari nilai setiap soal uraian dengan menggunakan rumus sebagai berikut :

Untuk soal sukar :

5

X Nur

5 n1 + 3 n2 + 2 n3

Untuk soal sedang :

3

X Nur

5 n1 + 3 n2 + 2 n3

Untuk soal mudah :

2

X Nur

5 n1 + 3 n2 + 2 n3

Catatan :

Nur = Nilai mentah maksimal untuk soal uraian.

n1 = Jumlah soal sukar.

n2 = Jumlah soal sedang.

n3 = Jumlah soal mudah.

  1. Sediakan kunci jawaban yang berisi pokok-pokok jawaban yang tercantum nilai idealnya (hasil perhitungan tersebut a di atas).
  2. Jawaban yang menyimpang sama sekali dari pokok jawaban diberi nilai mulai nilai 0.

2) Tes Lisan.

a) Tes lisan adalah tes yang digunakan untuk mengetahui response yang diuji melalui pertanyaan-pertanyaan atau instruksi lisan. Tujuan nya untuk :

(1) Menilai kemampuan dalam memecahkan masalah.

(2) Menilai proses berpikir, terutama kemampuan melihat hubungan sebab akibat.

(3) Menilai kemampuan menggunakan bahasa lisan / berbicara efektif.

(4) Menilai kemampuan mempertanggung jawabkan suatu pendapat atau konsep yang dikemukakan.

b) Bentuk tes lisan.

(1) Tes lisan berstruktur, yaitu tes lisan yang menuntut jawaban yang sistimatis sesuai dengan pemintaan penguji.

(2) Tes lisan bebas, yaitu tes lisan yang memintakan jawaban tidak menekankan sistimatis jawabannya, tetapi lebih mengutamakan kelengkapannya.

c) Alat yang dipersiapkan dalam tes lisan :

(1) Pedoman pertanyaan, berisi pokok-pokok pertanyaan evaluasi yang akan diajukan,. Ketentuannya sama seperti penyiapan tes tertulis bentuk uraian (essay).

(2) Lembaran penilaian, berupa format yang akan digunakan untuk mencatat score hasil penilaian keberhasilan menjawab pertanyaan yang diajukan.

d) Cara penilaian, sama seperti cara penilaian tes tertulis bentuk uraian (essay), cekhlis penilaian lihat lampiran D dan E.

  1. Digunakan apabila diperlukan sebagai pelengkap tes tertulis.

3) Tes praktek.

a) Tes aplikasi.

(1) yang dimaksud dengan tes aplikasi adalah tes tes dalam bentuk pemberian penugasan untuk mengaplikasikan bentuk antara lain :

(a) Penugasan karya tulis.

(b) Pemecahan masalah.

(c ) Aplikasi pekerjaan staf.

(d) Menyusun perencanaan suatu kegiatan.

(2) Digunakan terutama pada pendidikan pada golongan perwira.

(3) Alat yang dipersiapkan untuk tes aplikasi :

(a) Lembar penugasan dengan disertai data yang diperlukan untuk memecah persoalan.

(b) Jawaban sekolah sebagai salah satu alternatif jawaban.

c) Checklist penilaian.

b) Tes praktek baik ketrampilan maupun ketangkasan.

(1) Tes praktek ketrampilan/ketangkasan adalah tes yang dilaksanakan dengan jawaban yang menggunakan perbuatan atau tindakan, dengan demikian berfungsi sebagai penilaian terhadap kemampuan melakukan sesuatu perbuatan.

(2) Kegunaan tes ini :

(a) Untuk mengetahui kemampuan menggunakan suatu alat yang diajarkan.

(b) Untuk mengetahui kemampuan melakukan suatu perbuatan berdasarkan petunjuk atau teori tertentu.

(c) Untuk mengetahui kemampuan yang susah dilakukan verbalisasi (diucapkan dengan kata-kata).

(3) Alat yang diperlukan untuk pelak-sanaan tes praktek baik ketangkasan maupun ketrampilan.

(a) Checklist tugas yang harus dikerjakan, sebagai bahan pertanya-an dilemparkan.

(b) Bahan berupa alins/alongins yang diperlukan.

(c) Checklist penilaian.

(4) Tes ini digunakan terutama pada pendidikan pembentukan, pendidikan pengembangan spesialisasi dan pendidikan ilpengtek.

(5) Cara penilaian, berupa checklist lihat contoh pada lampiran H.

18. Tata cara pelaksanaan.

a. Alternatif cara yang digunakan. Aspek pengetahuan dan ketrampilan dapat memilih salah satu alternatif bentuk sebagi berikut :

NO. BENTUK ALTERNATIF KET
I II III IV V VI VII
1. Tes Tertulis Obyektif
  1. Benar – Salah
  2. Pilihan Jamak
  3. Isian
X

X

X

X

X

X

X

X

2. Tes Tertulis Subyektif
Uraian (Essay) X X X X X X X
3. Tes Aplikasi/praktek ketangkasan
keterampilan X X X X

b. Jumlah jam ujian khusus tertulis. Jumlah jam evaluasi khusus tes tertulis disesuaikan dengan jumlah jam yang keseluruhan khusus teori dari mata pelajaran tersebut yang tercantum dalam RPP dengan ketentuan sebagai berikut :

NO. JUMLAH JP MATA PELAJARAN YBS DALAM RPP JUMLAH JAM EVALUASI
1 S/D 4 JP Ujian singkat 1 x 15 menit
5 S/D 9 JP 1 x 1 Jam Pelajaran
10 S/D 20 JP 1 x 2 Jam Pelajaran
21 S/D 39 JP 1 x 3 Jam Pelajaran
40 S/D 59 JP 2 x 2 Jam Pelajaran
60 JP Keatas 3 x 2 Jam Pelajaran

c. Jumlah soal

1) Ujian singkat selama 15 menit, terdiri dari :

a) B-S = 3 soal

b) Pilihan jamak = 2 soal

c) Isian = 1 soal

d) Uraian = –

2) Selama 1 Jam pelajaran, terdiri dari :

  1. a) Alternatif I dan II.

(1) B-S = 5 soal

(2) Pilihan jamak = 5 soal

(3) Isian = 3 soal

(4) Uraian = 2 soal

b) Alternatif III dan IV.

(1) Isian = 5 soal

(2) Uraian = 3 soal

c) Alternatif V dan VI.

(1) Uraian = 5 soal

3) Selama 2 jam pelajaran, terdiri dari :

a) Alternatif I dan II.

(1) B-S = 10 soal

(2) Pilihan jamak = 10 soal

(3) Isian = 5 soal

(4) Uraian = 3 soal

b) Alternatif III dan IV.

(1) Isian = 10 soal

(2) Uraian = 5 soal

c) Alternatif V dan VI.

(1) Uraian = 8 soal

4) Selama 3 jam pelajaran, terdiri dari :

a) Alternatif I dan II.

(1) B-S = 15 soal

(2) Pilihan jamak = 15 soal

(3) Isian = 8 soal

(4) Uraian = 4 soal

b) Alternatif III dan IV.

(1) Isian = 15 soal

(2) Uraian = 6 soal

c) Alternatif V dan VI.

(1) Uraian = 10 soal

d. Pembobotan. Jumlah nilai mentah untuk setiap bentuk berdasarkan alternatif tersebut diatas, ditentukan sebagai berikut :

NO. BENTUK ALTERNATIF KET
I II III IV V VI VII
1. Tes Tertulis Obyektif
  1. Benar – Salah
  2. Pilihan Jamak
  3. Isian
20

20

20

20

20

20

25

25

2. Tes Tertulis Subyektif
Uraian (Essay) 40 40 75 75 100 100
3. Tes Aplikasi/praktek ketangkasan
keterampilan 100 100 100

Perbandingan bobot tes tertulis dan praktek pada alternatif II, IV dan VI adalah :

Tes tertulis : tes praktek = 40 : 60

e. Angka mati, ujian ulang dan ujian susulan.

1) Angka mati. Angka mati ditentukan hanya untuk mata pelajaran katagori mutlak dengan nilai mentah sama dengan atau lebih kecil dari nilai 39,99.

2) Ujian ulang.

a) Ujian ulang dapat diberikan kepada peserta didik yang mendapatkan angka mati atau nilai kurang dari 65.

b) Pada prinsipnya ujian ulang diberikan hanya 1 (satu) kali, kecuali bagi yang memperoleh angka mati apabila setiap ujian ulang masih tetap memperoleh angka mati diberikan kesempatan maksimum 2 (dua) kali.

c) Nilai yang diberikan maksimal 65, apabila nilai hasil ujian ulang lebih kecil dari pada nilai semula maka yang dipakai adalah nilai semula.

3) Ujian susulan.

a) Diberikan kepada peserta didik yang tidak dapat mengikuti ujian dengan alasan yang sah sesuai ketentuan.

b) Ujian susulan menggunakan naskah baru.

19. Evaluasi aspek jasmani. Tujuan evaluasi aspek jasmani adalah untuk mengukur tingkat kemampuan jasmani sebagai bagian dari pengukuran tingkat keberhasilan pencapaian tujuan pendidik secara keseluruhan.

20. Unsur-unsur yang dievaluasi dalam aspek jasmani. Unsur-unsur yang dievaluasi dalam aspek jasmani meliputi kemampuan jasmani yang dipunyai oleh Peserta didik dilihat dari 3 komponen, yaitu :

a. Postur tubuh, yaitu menunjukan sikap, gerak dan bentuk yang harmonis tegap dan kokoh sehingga menunjukan wibawa lahiriah sebagai seorang prajurit TNI AD. Terdiri dari :

1) Sikap.

2) Gerak.

3) Bentuk tubuh.

4) Struktur anatomi.

b. Kesegaran jasmani, yaitu menunjukan tingkat kemampuan jasmani dalam mengatasi dan menyelesaikan tugas-tugas fisik dengan baik tanpa mengakibatkan suatu kelelahan yang berati. Unsur-unsur , terdiri dari

1) Kekuatan.

2) Daya/tenaga.

3) Kecepatan.

4) Daya tahan.

5) Kelincahan

6) Ketepatan.

7) Koordinasi

8) Keseimbangan.

9) Kelenturan.

c. Evaluasi fisik, yaitu kegiatan mengukur dan menilai yang menunjukkan tingkat keadaan dan kesanggupan serta kemampuan seseorang dengan seua organnya dalam mengatur sikap dan gerak dalam mengatasi dan menyelesaikan pekerjaan jasmani. Unsur-unsurnya terdiri dari :

1) Kondisi daya kemampuan gerak.

2) Kondisi kemampuan perkembangan gerak yang dimiliki.

3) Kondisi daya penyesuaian terhadap gerakan yang telah diajarkan.

d. Ketangkasan jasmani, yaitu menunjukan kecakapan dalam mengatur gerak untuk mengawasi macam dan bentuk gerakan baik yang bersifat umum maupun yang khusus dalam perkembangan gerak selanjutnya untuk digunakan sesuai dengan keperluan. Unsur-unsurnya :

1) Daya kemampuan gerak.

2) Perkembangan kemampuan gerak yang dimiliki.

3) Daya penyesuaian terhadap gerakan yang baru dilihat/diajarkan.

4) Kecakapan khusus.

21. Tehnik dan bentuk evaluasi.

a. Tehnik evaluasi. Tehnik evaluasi yang digunakan dalam pelaksanaan evaluasi aspek jasmani, adalah :

1) Tehnik non tes untuk evaluasi postur tubuh.

2) Tehnik tes untuk evaluasi kesegaran dan ketangkasan gerak.

b. Untuk evaluasi.

1) Evaluasi postur tubuh. Evaluasi postur tubuh dilaksanakan dengan tehnik non tes dalam bentuk observasi dengan meengunakan cekhlis, dimana hasil penilaiannya digunakan sebagai bahan penilaian postur secara keseluruhan dan tidak dalam bentuk nilai yang diperhitungkan sebagai prestasi hasil belajar.

2) Evaluasi kesegaran jasmani. Evaluasi kesegaran jasmani dilaksanakan dengan tehnik tes dalam bentuk tes kesegaran jasmani meliputi tes kesegaran A dan tes kesegaran B yang pelaksanaannya berdasarkan ketentuan yang diberlakukan, nilai tes kesegaran jasmani ini merupakan hasil konversi nilai murni kesegaran jasmani.

3) Evaluasi fisik. Evaluasi fisik dilaksanakan dengan teknik tes dalam bentuk tes ketangkasan gerak dengan materi-materi :

a) Berenang.

b) Kecakapan mengatasi rintangan bangunan .

c) Kecakapan mengatasi rintangan medan.

d) Ketahanan mars/jalan kaki.

e) Kecepatan mars/jalan kaki.

Catatan :

(1) Macam materi ketangkasan gerak yang dinilai sesuai dengan kebutuhan dari jenis/macam pendidikannya.

(2) Tehnik penilaian sesuai dengan ketentuan yang diberlakukan.

4) Evaluasi ketangkasan jasmani. Evaluasi ketangkasan jasmani dilaksanakan dengan teknik tes dalam bentuk tes ketangkasan dengan materi pelajaran ketangkasan jasmani yang terdapat didalam RPP Kurikulum Pendidikan yang diselenggarakan. Secara umum dalam setiap macam pendidikan terdapat evaluasi pelajaran ketangkasan jasmani sebagai berikut :

a) Medan tangkas, terdiri dari :

  1. Halang Rintang.
  2. Lintas Medan.
  3. Kecepatan Mars.
  4. Ketahanan Mars.
  5. Renang Militer, meliputi :
    1. Renang Dasar.
    2. Renang Taktis.
    3. Renang Ponco.
  1. Loncat Kendaraan.
  2. Mountenering, meliputi :
    1. Tali Baru
    2. Tali Lama
  3. Ralasuntai.
  4. Senam Militer.
  5. Perkelahian Militer, meliputi :
    1. BDM
    2. Perkelahian Sangkur
    3. Lempar pisau dan kampak.

22. Tata cara penilaian aspek jasmani. Tata cara penilaian yang akan dibahas dalam pasal ini adalah tata cara penilaian materi jasmani yang merupakan materi penilaian aspek jasmani, meliputi :

a. Kesegaran jasmani.

1) Mencari nilai mentah kesegaran jasmani.

a) Cari nilai kesegaran jasmani sesuai dengan tata cara tes kesegaran jasmani yang berlaku yang terdiri dari

(1) Nilai tes kesegaran A.

(2) Nilai tes kesegaran B.

b) Gabungan nilai tes kesegaran A dan nilai tes kesegaran B, dengan rumus :

Nilai Murni = Nilai tes A + nilai tes B

2

c) Konversikan nilai tersebut kedalam nilai mentah.

2) Nilai mentah kesegaran jasmani tersebut merupakan prestasi Peserta-didik aspek jasmani khusus tentang kesegaran jasmani yang bersangkutan.

b. Ketangkasan jasmani. Untuk mencari nilai mentah ketangkasan jasmani, cara pengukuran prestasi menggunakan table penilaian/nilai di lapangan. Nilai ini merupakan nilai prestasi peserta didik pada aspek jasmani khusus kelompok ketangkasan jasmani.

c. Evaluasi fisik. Untuk mencari nilai nilai mentah evaluasi fisik, cara pengukuran prestasi menggunakan table penilaian. Nilai ini merupakan nilai prestasi peserta didik pada aspek jasmani khusus kelompok evaluasi fisik.

d. Cara menentukan nilai masak.

1) Apabila hanya terdapat materi kesegaran jasmani dan evaluasi fisik dalam subyek Bin Jasmani pada RPP Kurikulum, cara menentukan nilai masak sebagai berikut :

a) Nilai kesegaran jasmani lapangan dikonfersi ke dalam nilai mentah.

b) Nilai mentah kesegaran jasmanai dan nilai mentah masing-masing unsur evaluasi fisik dikalikan dengan harga nilai (HN) dengan rumus sebagai berikut :

å unsur nilai evaluasi fisik X HN

Contoh :

Peserta didik A adalah pelajar Secaba PK Tahap I memperoleh nilai mentah Kesegaran Jasmani dan evaluasi fisik sebagai berikut :

(1) Nilai Kesegaran Jasmani = 70

(2) Nilai Berenang = 72

(3) Nilai Lintas Medan = 70

(4) Nilai Halang Rintang = 68

(5) Nilai Ketahanan Mars = 70

(6) Nilai Kecepatan Mars = 68

Nilai Masak kesegaran jasmani dan evaluasi fisik peserta didik A adalah :

(1) Nilai masak kesegaran jasmani = 70 x 300 = 21000

(2) Nilai masak Evaluasi Fisik :

(a) Nilai Berenang = 72 x 150 = 10800

(b) Nilai Lintas Medan = 70 x 125 = 8750

(c) Nilai Halang Rintang = 68 x 150 = 10200

(d) Nilai Ketahanan Mars = 70 x 175 = 12250

(e) Nilai Kecepatan Mars = 68 x 100 = 6800

2) Apabila tercantum materi kesegaran jasmani, evaluasi fisik dan ketangkasan jasmani dalam subyek bin jasmani pada RPP kurikulum, cara menentukan nilai masak sebagai berikut :

a) Nilai kesegaran jasmani dan nilai evaluasi fisik.

(rumus sama point (1), hanya bobot HN berbeda)

b) Nilai ketangkasan jasmani. Urut-urutan penentuan nilai masak sebagai berikut :

(1) Cari bobot nilai materi pelajaran ketangkasan jasmani yang terdapat pada kurikulum (bila ada) dengan menggunakan rumus :

JJP X B X 300

Bobot MP =

(5 X JM) + (3 X JP) + (2 X JF)

Keterangan :

JJP = Jumlah Jam Pelajaran (sesuai bobot MP yang dicari)

B = Bobot sesuai katagori (sesuai bobot katagori MP yang dicari, Mutlak = 5, Penting = 3, Faedah = 2)

300 = HN Ketangkasan

JM = Jumlah Jam Pelajaran Katagori Mutlak

JP = Jumlah Jam Pelajaran Katagori Penting

JF = Jumlah Jam Pelajaran Katagori Berfaedah

Contoh :

Pada pendidikan Secaba PK Tahap I Pria terdapat materi pelajaran ketangkasan jasmani (sesuai dengan materi pelajaran ketangkasan jasmani yang terdapat dalam RPP kurikulum) sebagai berikut :

(a) Senam Praktek = 10 JP, Mutlak

(b) Senam Senapan = 15 JP, Mutlak

(c) Loncat Kendaraan = 16 JP, Penting

(d) Bela Diri Militer = 13 JP, Berfaedah

Mencari bobot materi pelajaran tersebut sebagai berikut :

(a) Bobot MP Senam Praktek =

10 X 5 X 300

=

(5 X 25) + (3 X 16) + (2 X 13)

= 15000 = 75,37 (Dibulatkan menjadi 75)

(b) Bobot Senam Senapan = 113,06 (113)

(c) Bobot Loncat Kendaraan = 72,36 (73)

(d) Bobot Bela Diri Militer = 39,19 (39)

Catatan :

Didalam pertimbangan karena ada pembulatan jumlah keseluruhan HN tersebut = 300, maka perlu penyesuaian pada perhitungan bobot setiap MP ketangkasan jasmani sehingga jumlah menjadi tepat = 300.

(2) Nilai Mentah Pelajar A hasil transfer dari table penilaian atau dari nilai lapangan adalah :

(a) MP Senam Praktek, Nilai = 80

(b) MP Senam Senapan, Nilai = 70

(c) MP Loncat Kendaraan, Nilai= 75

(d) MP Bela Diri Militer, Nilai = 80

(3) Menentukan nilai masak dengan menggunakan rumus:

Nm = Nmt X B

Keterangan :

Nm = Nilai Masak setiap MP

Nmt = Nilai Mentah setiap MP

B = Bobot setiap MP

Contoh :

(a) Nilai Masak MP Senam Praktek

= 80 X 75 = 6000

(b) Nilai Masak MP Senam Senapan

= 70 X 113 = 7910

(c) Nilai Masak MP Loncat Kendaraan

= 75 X 73 = 5475

(d) Nilai Masak MP Bela Diri Militer

= 80 X 39 = 3120

c) Nilai prestasi akhir aspek jasmani. Untuk mencari nilai prestasi akhir aspek jasmani sebagai berikut :

1) Nilai mentah kesegaran jasmani dan nilai mentah pada unsur-unsur materi evaluasi fisik dikalikan dengan HN unsur penilaian aspek jasmani yang tergantung pada jenis pendidikannya.

2) Nilai mentah ketangkasan jasmani dikalikan bobot nilai yang telah ditentukan (sesuai rumus perhitungan bobot pada cara menentukan nilai masak).

Catatan : Apabila pada kurikulum harga nilai hanya terdapat materi kesegaran jasmani dan evaluasi fisik, maka bobot ketangkasan jasmani tersebut tidak berlaku.

3) Apabila terdapat materi kesegaran jasmani dan evaluasi fisik dalam subyek bin jasmani pada RPP kurikulum, cara menentukan nilai prestasi aspek jasmani menggunakan rumus :

å NM

Np =

100

Keterangan :

Np = Nilai prestasi

NM = Jumlah Nilai Masak tiap unsur

Contoh :

Pelajar A mendapat nilai masak kesegaran jasmani dan evaluasi fisik.

a) Nilai masak kesegaran jasmani : 70 X 300 = 2100

b) Nilai masak evaluasi fisik :

(1) Nilai Berenang = 72 x 150 = 10800

(2) Nilai Lintas Medan = 70 x 125 = 8750

(3) Nilai Halang Rintang = 68 x 150 = 10200

(4) Nilai Ketahanan Mars= 70 x 175 = 12250

(5) Nilai Kecepatan Mars= 68 x 100 = 6800

N Jasmani=2100 + 10800 + 8750 + 10200 + 12225 + 6800

100

= 698

(4) Apabila terdapat materi kesegaran , evaluasi fisik dan ketangkasan jasmani dlaam subyek bin jasmani pada RPP Kurikulum, cara menentukan nilai prestasi menggunakan rumus :

a) Nilai Prestasi kesegaran Jasmani dan evaluasi fisik

å NM

Np =

100

Keterangan :

Np = Nilai prestasi

NM = Jumlah Nilai Masak tiap unsur

Contoh :

Pelajar A mendapat nilai masak kesegaran jasmani dan evaluasi fisik :

a) Nilai masak kesegaran jasmani : 70 X 210 = 14700

b) Nilai masak evaluasi fisik :

(1) Nilai Berenang = 72 x 105 = 7560

(2) Nilai Lintas Medan = 70 x 87 = 6090

(3) Nilai Halang Rintang = 68 x 105 = 7140

(4) Nilai Ketahanan Mars=70 x 123 = 8610

(5) Nilai Kecepatan Mars=68 x 70 = 4760

N Jasmani=14700 + 7560 + 6090+ 7140 + 8610 + 4760

100

= 488,8

b) Nilai prestasi ketangkasan jasmani :

å NM

Np =

100

Keterangan :

Np = Nilai prestasi

NM = Jumlah Nilai Masak tiap unsur

Contoh :

Pelajar A membuat nilai masak ketangkasan jasmani, sebagai berikut :

(a) MP Senam Praktek = 80 X 75 = 6000

(b) MP Senam Senapan = 70 X 113 = 7910

(c) MP Loncat Kendaraan = 75 X 73 = 5457

(d) MP Bela Diri Militer = 80 X 39 = 3120

Nilai prestasi ketangksan jasmani dan evaluasi fisik Pelajar A adalah :

N Jasmani= 6000+ 7910 + 5457 + 3120

100

= 225,05

f. Apabila seorang peserta didik memiliki kemampuan oleh raga serta berpotensi dalam mewakili lembaga TNI AD, daerah maupun Nasional, maka nilai jasmani diberikan kredit point sebagai berikut :

1) Nilai aspek jasmani murni (contoh) = 713,65

2) Nilai tambahan (1000-713,65) X 10% = 28,64

3) Nilai jasmani keseluruhan yang merupakan prestasi akhir peserta didik tersebut adalah :

= Nilai jasmani + Nilai tambahan

= 713,65 + 28,64

= 742,29

23. Evaluasi.

a. Dalam mengevaluasi aspek sikap dan perilaku ada dua tehnik yaitu observasi dan wawancara. Jelaskan bagaimana cara mengevaluasi dengan tehnik observasi dan siapa-siapa yang melaksanakannya.

b. Bagaimanan tata cara melaksanakan evaluasi aspek sikap dan perilaku.

c. Tes tertulis adalah jenis tes yang diberikan secara tertulis dengan bentuk tes obyektif dan tes subyektif berupa uraian. Terdiri dari apa saja tes obyektif dan jelaskan.

d. Jumlah soal yang dibuat, harus menyesuaiakan dengan jumlah jam pelajaran. Jelaskan berapa soal yang harus dibuat untuk evaluasi selam 2 Jam pelajaran.

e. Sebutkan 3 unsur yang dievaluasi dari aspek jasmani.

f. Sebutkan tehnik evaluasi yang digunakan dalam pelaksanaan evaluasi aspek jasmani.

BAB III

PENENTUAN NILAI PERKEMBANGAN PESERTA DIDIK

24. Umum. Penentuan nilai perkembangan peserta didik meliputi tujuan, nilai batas lulus, ketentuan tidak lulus dan penentuan nomor urut kecakapan.

25. Tujuan penentuan lulus dan nomor urut kecakapan. Tujuan menentukan lulus dan nomor urut kecakapan adalah :

a. Untuk menentukan lulus tidaknya seorang peserta didik.

b. Menjamin kualitas lulusan.

c. Memberi motivasi belajar bagi peserta didik.

26. Nilai batas lulus. Seorang peserta didik dinyatakan tidak lulus apabila :

a. Hasil evaluasi perkembangan sikap dan perilaku, pengetahuan dan keterampilan serta jasmani dinyatakan secarakualitatif yaitu dalam bentuk angka dalam skala nilai 1000.

b. Nilai batas lulus ditentukan sebagai berikut

1) Pendidikan pertama dan pembentukan

a) Nilai prestasi sikap dan perilaku = 700

b) Nilai prestasi pengetahuan dan keteram-pilan = 650

  1. Nillai prestasi jasmani = 650

2) Pendidikan pengembangan umum

a) Nilai prestasi sikap dan perilaku = 700

b) Nilai prestasi pengetahuan dan keterampilan = 650

c) Nilai prestasi jasmani = 600

3) Pendidikan Pengembangan Spesialisasi .

  1. Nilai prestasi sikap dan perilaku = 700

b) Nilai prestasi pengetahuan dan keterampilan = 650

c) Nilai prestasi jasmani = 600

(Khusus Komando dan Jas = 650 )

4) Pendidikan Peralihan

a) Nilai prestasi sikap dan perilaku = 700

b) Nilai prestasi pengetahuan dan keterampilan = 650

c) Nilai prestasi jasmani = 650

27. Ketentuan tidak lulus. Seorang peserta didik dinyatakan tidak lulus apabila :

a. Mendapat angka mati.

b. Nilai prestasi dari salah satu aspek atau lebih dibawah norma lulus yang ditentukan.

c. Apabila 25% dari mata pelajaran mutlak mendapat nilai mentah kurang dari 65.

d. Terkena peraturan administrasi tentang ketentuan tidak lulus.

28. Penentuan nomor urut kecakapan.

a. Bobot yang digunakan untuk menentukan nomor urut kecakapan adalah sebagai berikut :

NO. URUT ASPEK PENILAIAN DIKMA DIKTUK DIK BANG UM DIK BANG SPES DIK ALIH
T

A

B

A

P

A

B

A

P

A

PUR / BANPUR NON PUR/ BAN PUR B

A

P

A

T

A

B

A

P

A

1. Sikap dan Perilaku 35 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30
2. Pengetahuan dan 30 35 40 35 40 50 40 45 50 55 35 40
Keterampilan
3. Jasmani 35 35 30 35 30 20 30 25 20 15 35 30
Jumlah 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100

Catatan :

Agar dalam penilaian hasil belajar peserta didik sambil menunggu hasil revisi Bujuknik tentan EHB berpedoman kepada ST Dankodiklat TNI AD Nomor : ST/342/2001 tanggal 30 Oktober 2001, tentang ketentuan bobot ranking kelulusan/nomor urut kecakapan peserta didik hasil sidang Wankurad (lihat lampiran)

b. Cara menghitung prestasi akhir. Cara menghitung prestasi akhir adalah sebagai berikut :

PA =(PsP x Bsp)+(Ppk x Bpk)+(Pj x Bj)

100

PA = Prestasi akhir.

Psp = Prestasi sikap dan perilaku.

Ppk = Prestasi pengetahuan dan ketrampilan.

Pj = Presatasi Jasmani.

Bsp = Bobot sikap dan peilaku

Bpk = Bobot pengetahuan dan ketrampilan.

Bj = Bobot Jasmani.

c. Penentuan nomor urut kecakapan dimulai dari nilai prestasi akhir terbesar sampai dengan terkecil. Apabila terdapat nilai prestasi yang sama, maka pertimbangan berikutnya secara berturut turut adalah nilai prestasi aspek sikap dan perilaku, aspek intelek dan aspek jasmani. Apabila masih tetap sama maka keputusan terkhir ada di tangan Komandan Lembaga Pendidikan.

d. Contoh cara menghitung prestasi akhir dan menentukan nomor urut lulus lihat lampiran.

29. Evaluasi.

a. Sebutkan ketentuan seorang peserta didik dinyatakan tidak lulus dengan mengikuti suatu pendidikan.

b. Jelaskan cara menentukan nomor urut kecakapan siswa.

BAB – IV

EVALUASI AKHIR PELAJARAN

(BUKAN NASKAH UJIAN)

30. Evaluasi.

  1. Sebutkan cirri-ciri alat evaluasi belajar yang baik.
  2. Jelaskan apa yang dimaksud dengan alat evaluasi mempunyai kemampuan membanding.
  3. Apa perbedaan tes selama proses belajar mengajar dengan tes akhir pelajaran ?
  4. Mengapa tes awal perlu dilaksanakan ?
  5. Sebutkan tata cara mengevaluasi aspek sikap dan perilaku.
  6. Sebutkan bentuk dari tes tertulis.
  7. Sebutkan unsure-unsur yang dievaluasi dalam aspek jasmani.
  8. Sebutkan ketentuan seorang peserta didik dinyatakan tidak lulus dalam mengikuti suatu pendidikan.
  9. Jelaskan cara menentukan nomor urut kecakapan siswa.

BAB – V

PENUTUP

31 Penutup. Demikian Naskah Evaluasi Hasil Belajar ini disusun sebagai bahan ajaran siswa Susgumil.

Posted Januari 6, 2010 by downixs in kumpulan makalah

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: