Pendidikan Jasmani Adaptif   1 comment


KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr.Wb.

Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa yang selalu memberikan rahmat dan nikmatnya kepada hamba-hambanya yang selalu memelihara iman dan taqwanya. Tidak lupa ucapan sholawat salam kepada nabi akhir zaman tidak lain dan tidak bukan junjungan Nabi Besar Muhammad SAW. Yang telah membawa seluruh umat dari jalan kegelapan ke jalan terang benderang dengan ajaran agama islam.

Penulis mengakui bahwa penulisan makalah ini jauh dari kesempurnaan. Oleh sebab itu, penulis sangat menghargai adanya masukan dan kritik yang membangun guna bekal untuk penulisan makalah yang lainya.

Makalah ini dapat diselesaikan karena adanya bantuan dari berbagai pihak oleh karena itulah, pada kesempatan ini penuli ingin memberikan ungkapan rasa terima kasih kepada:

1. Bapak Dr.Slamet Raharjo, S.Pd, M.Or selaku dosen pembina mata kuliah pendidikan jasmani adaftif.

2. Segenap pembina Panti Rehabilitasi Tuna Netra ”BUDI MULYA”, yang banyak membantu penulis menyelesaikan makalah ini.

3. Para pelajar Panti Rehabilitasi Tuna Netra ”BUDI MULYA” Malang.

Wassalamualaikum Wr.Wb.

Malang, 21 Maret 2009

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR……………………………………………………………………………..

DAFTAR ISI…………………………………………………………………………………………..

BAB I PENDAHULUAN………………………………………………………………………….

  1. Latar Belakang……………………………………………………………………
  2. Rumusan Masalah………………………………………………………………
  3. Tujuan Masalah…………………………………………………………………

BAB II PEMBAHASAN…………………………………………………………………………….

  1. Penyandang Tuna Netra………………………………………………………….
  2. Kegiatan Observasi Di PRSBCN “Budi Mulya” Malang…………….
    1. Sejarah Berdirinya PRSBCN “Budi Mulya” Malang………..
    2. Pengertian (Peraturan Daerah Propinsi Jawa Timur No. 14 Tahun 2002 tentang Dinas Sosial)…………………………………..
    3. Tugas Pokok Dan Fungsi (SK Gubernur Jawa Timur No. 51 Tahun 2003)…………………………………………………………………
    4. Visi Dan Misi………………………………………………………………
    5. Tujuan Pelayanan…………………………………………………………
    6. Program Rehabilitasi Sosial………………………………………….
  3. Kegiatan Belajar Mengajar Pendidikan Jasmani di PRSBCN “Budi Mulya” Malang Materi Stretching Dan Kalestenik…………………….

BAB III PENUTUP…………………………………………………………………………………….

  1. Kesimpulan………………………………………………………………………….
  2. Saran…………………………………………………………………………………..

DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………………………………………

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Memiliki kondisi fisik yang cacat bukanlah hal yang diinginkan oleh setiap individu karena harus menjalani hidup dengan keterbasan fisik, sehingga dapat menghambat sebagian aktivitas yang harus dilakukan layaknya individu dalam kondisi normal.

Kondisi cacat fisik, salah satunya adalah penyandang tuna netra.cacat netra tidak hanya dalam kondisi mata mereka yang buta, tetapi mencakup juga kondisi mata mereka yang mampu melihat tapi sangat terbatas dan kurang dapat di manfaatkan untuk kepentingan hidup sehari hari. Keterbatasan dalam melihat mengakibatkan para penyandang cacat netra tidak memiliki gambaran jelas tentang bagamaina menggerakkan dianggota tubuh mereka, kemudian memposisikanya dan mengkoordinasikan gerakkan tubuh dengan apa yang di pikirkan atau di inginkan, sehingga banyak diantara mereka yang tidak atau kurang memahami konsep dan penampilan diri. Begitu pula dalam hal memperoleh sumber informasi. Terganggunya sistem syaraf pada indra penglihatan, tidak dapat dipung kiri dapat mengurangi perolehan informasi kegiatan sehari harinya pada umumnya dan informasi tentang pendidikan jasmani pada khususnya.

Penyandang tuna netra belum tentu seseorang yang tidak mampu untuk beraktivitas fisik dalam hal ini adalah olah raga. Berdasarkan pemaparan di atas sudahlah jelas bahwa pendidikan jasmani adaptif untuk tuna netra sangatlah penting sehingga kemudian observasi ke PRSBCN”Budi Mulya” Malang dilakukan.

B. RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan uraian latar belakang yang telah dipaparkan di atas, maka dapat dirumuskan beberapa permasalahan, diantaranya:

1. Bagaimana penyandang tuna netra melakukan kegiatan olah raga?

2. Hal-hal apa saja yang dapat di peroleh penyandang tuna netra di PRSBCN”Budi Mulya” Malang?

C. TUJUAN MASALAH

1. Untuk mengetahui penyandang tuna netra dalam melakukan kegiatan olahraga.

2. Untuk mengetahui hal-hal apa saja yang dapat diperoleh penyandang tuna netra di PRSBCN”Budi Mulya” Malang.

BAB II

PEMBAHASAN

A. PENYANDANG TUNA NETRA

  1. Pengertian Penyandang Tuna Netra

Menurut buku petunjuk teknis pelaksanaan penanganan masalah sosial (1999) penyandang cacat netra adalah orang yang tidak dapat menghitung jari-jari tangan pada jarak 1 meter di depannya dengan menggunakan indra penglihatan.

WHO menyebutkan penyandang tuna netra merupakan orang yang derajad ketajaman penglihatannya pada jarak terbaik setelah koreksi maksimal tidak lebih dari pada kemampuan untuk menghitung jari pada jarak 3 meter.

Semantara itu, persatuan tuna netra indonesia mengartikan penyandang tuna netra adalah mereka yang tidak memiliki penglihatan sama sekali (buta total) hingga mereka yang masih memiliki sisa penglihatan tetapi tidak mampu menggunakan penglihatanya untuk membaca tulisan biasa berukuran 12 poin dalam keadaan cahaya normal meskipun di bantu kaca mata/kurang awas (pertuni, agustus 2007).

Pada umumnya yang digunakan sebagai patokan apakah seseorang termasuk tuna netra atau tidak ialah berdasarkan pada tingkat ketajaman penlihatannya. Untuk mengetahuai ketunanetraan dapat digunakan suatu tes yang dikenal sebagai tes snellen card. Perlu ditegaskan bahwa dikatakan tuna netra bila ketajaman penglihatannya (visusnya) kurang dari 6/21. artinya, berdasarkan tes orang hanya mampu membaca huruf pada jarak 6 meter yang oleh orang awas dapat membaca padak jarak 21 meter (Somantri, 2006)

Berdasarkan acuan tersebut, anak tuna netra dapat di kelompokan 2 macam, yaitu :

a. Buta

Dikatakan buta jika sama sekali tidak mampu menerima rangsang cahaya dari luar. Tuna netra memiliki keterbatasan dalam penglihatan antara lain :

  1. Tidak dapat melihat gerakan tangan pada jarak kurang dari 1 meter

  2. Ketajaman penglihatan 20/200 kaki yaitu ketajaman yang mampu melihat suatu benda pada jarak 20 kaki.

  1. Low Vision

Bila masih mampu menerima rangsang cagaya dari luar, tetapi ketajamannya lebih dari 6/21, atau jika hanya mampu membaca headline pada surat kabar.

Berdasarkan definisi word health organition (WHO), seseorang dikatakan low vision apabila :

  1. memiliki kelainan fungsi penglihatan meskipun telah dilakukan pengobatan, misalnya operasi atau koreksi refraksi standart (kaca mata atau lensa).

  2. mempunyai ketajaman penglihatan kurang dari 6/18 sampai dapat menerima refsefsi cahaya.

  3. luas penglihatan kurang dari 10 drajad dari titik fiksasi.

Dari beberapa pendapat di atas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa penyandang tuna netra adalah mereka yang memiliki keterbatasan (cacat) pada indra penglihatan baik total maupun masih memiliki sisa penglihatan.

B. KEGIATAN OBSERVASI DI PRSBCN ”BUDI MULYA” MALANG

1. Sejarah Berdirinya PRSBCN “Budi Mulya” Malang :

          1. 1954 dirintis oleh Inspeksi Sosial Propinsi Jawa Timur dengan nama Tempat Latihan Kerja Menetap “Budi Mulyo” yang bertempat di Sumenep Madura.
          2. 1960 Tempat Latihan Kerja Menetap “Budi Mulyo” berubah nama menjadi Pusat Pendidikan dan Pengajaran Kegunaan Tuna Netra (P3KT) ”Budi Mulyo” di Sumenep Madura.
          3. 1966 Pusat Pendidikan dan Pengajaran Kegunaan Tuna Netra (P3KT) “Budi Mulyo” dari Sumenep dipindahkan ke Kediri.
          4. 1976 Pusat Pendidikan dan Pengajaran Kegunaan Tuna Netra (P3KT) dindahkan ke Malang, dan berdasarkan SK Menteri Sosial RI No. 41/HUK/Kep/XI/79 berubah nama menjadi Rehabilitasi Penderita Cacat Netra (PRPCN).
          5. 1994 berdasarkan SK Menteri Sosial RI No. : 22/HUK/1994 PRPCN berubah nama menjadi Panti Sosial Bina Netra (PSBN) ”Budi Mulyo” sampai sekarang.
          6. 2000 PSBN “Budi Mulyo” Malang salah satu Panti Peralihan dari Kanwil Departemen Sosial Propinsi Jawa Timur (menjadi UPTD Dinas Sosial Propinsi Jawa Timur) berdasarkan Perda No. 12 Tahun 2002 PSBN “Budi Mulyo” Malang berubah menjadi PRSBCN “Budi Mulya” Malang.

2. PENGERTIAN (Peraturan Daerah Propinsi Jawa Timur No. 14 Tahun 2002 tentang Dinas Sosial)

Panti Rehabilitasi Sosial Bina Cacat Netra (PRSBCN) “Budi Mulya” Malang sebagai Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Dinas Sosial Propinsi Jawa Timur yang mempunyai tugas pokok memberikan pelayanan rehabilitasi sosial kepada para penyandang cacat netra di Jawa Timur.

3. TUGAS POKOK DAN FUNGSI (SK Gubernur Jawa Timur No. 51 Tahun 2003)

      • Tugas Pokok :

Melaksanakan sebagai tugas Dinas Sosial Propinsi Jawa Timur di bidang penyantunan, rehabilitasi, bantuan, bimbingan, pengembangan, dan resosialisasi bagi para penyandang cacat netra di Jawa Timur.

Fungsi :

          1. Pelaksanaan penyantunan dan rehabilitasi
          2. Pelaksanaan penyaluran dan pembinaan lanjut

          3. Pelaksanaan praktek pekerjaan sosial bidang Rehabilitasi Cacat Netra/Mata

          4. Pelaksanaan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Kepala Dinas

  1. VISI DAN MISI

Visi

Terwujudnya klien penyandang cacat netra PRSBCN ”Budi Mulya” Malang yang mandiri dan mampu bekerja untuk meningkatkan kesejahteraannya serta mampu menyesuaikan diri di masyarakat.

Misi

Memberdayakan dan memberikan pelayanan serta rehabilitasi sosial pada penyandang cacat netra untuk meningkatkan harga diri, kepercayaan diri dan kemampuan diri melalui :

        1. Bimbingan mental dan sosial agar klien mampu melaksanakan fungsi sosialnya secara wajar.

        2. Bimbingan fisik agar meningkatkan kondisi fisik dan kesehatan klien sebagai bekal untuk persiapan kerja.

        3. Pelatihan keterampilan kerja untuk meningkatkan kemampuan klien sebagai bekal untuk persiapan kerja.

        4. Penyaluran klien kembali ke keluarganya, pembentukan kelompok kerja, bekerja mandiri, bekerja di panti pijat atau bekerja di instansi kerja (workshop).

        5. Bimbingan lanjut melalui mekanisme Dinas Kesejahteraan Sosial/Kantor Kesejahteraan Sosial Daerah Kabupaten/Kota, evaluasi keluarga klien, kelompok kerja, pengusaha panti pijat dan instalasi kerja (workshop).

  1. TUJUAN PELAYANAN

PSBN ”Budi Mulya” Malang sebagai lembaga pelayanan dapat melaksanakan tugasnya secara berdaya guna dan berhasil guna sesuai dengan fungsi-fungsi yang telah ditentukan.

Adapun tujuannya adalah agar para penyandang cacat netra :

  1. Mandiri

  2. Dapat melaksanakan fungsi sosialnya secara wajar

  3. Mampu menyesuaikan diri

  1. PROGRAM REHABILITASI SOSIAL

a. Tahap pendekatan awal

1. Orientasi dan konsultasi

Yaitu untuk mendapatkan dukungan serta kemudahan kemudahan bagi kelancaran pelaksanaan rehabilitasi,di dalam panti yang menyangkut pengumpulan data rehabilitasi sosial,resosialisasai pembinaan lanjut dan pelayanan jarak jauh serta penggalian dan pengembangan sumber sumber kemasyarakatan.

2. Identifikasi

Untuk memperoleh gambaran yang lebih jelas tentang data permasalahan penyandang cacat netra guna penetapan calon kelayakan di panti.

3. Motivasi

Menumbuhkan kemauan masya rakat ,lingkungan,tokoh tokoh orsos,ormas,orpol dan keluarga serta para penyandang cacat netra untuk dapat mendukung dan mengikuti program pelayanan di panti.

4. Seleksi

Untuk memutuskan penyandang cacat netra yang lyak latih dan layak didik untuk memperoleh pelayanan di panti.

b. Tahap penerimaan

1. Memeriksa kelengkapan administrasi klien dan sosialisasi tata tertib yang harus dipatuhi klien selama berada di panti.

2. Penempatan di asrama

Klien yang sudah dinyatakan di terima, ditempatkan dalam asrama dibekali beberapa peralatan sebagai berikut :

– Peralatan tulis(papan petak,paku,reglet,pen,kertas)

– Peralatan OM(tongkat)

– Peralatan makan(sendok,gelas)

– Peralatan tidur(selimut ,sprei)

– Peralatan cuci dan mandi (sabun cuci, sikat gigi, sabun mandi pasta gigi,shampo)

Perlu kami informasikan bahwa asrama berjumlah 9 asrama yang terdiri dari 6 arama putra yang masing masing wisma dihuni kurang lebih 16 orang dan 3 asrama putri yang masing masing wisma di huni oleh kurang lebih 12 orang.

Selain mendapatkan fasilitas tersebut di atas,klien juga mendapat fasilitas pakaian seragam harian dan olah raga.juga makan tiga kali sehari.

3. Penelaahan dan pengungkapan masalah.

Untuk memahami kondisi obyektif permasalahan lain tentang kadar kecacatan, penelusuran minat dan bakat guna menetapkan program pelayanan,maka dilakukan sidang kasus.

Kegiatan ini di laksanakan oleh tim rehabilitas yang beranggotakan pekerja sosial, dokter, psikolog, instruktur, kepala seksi, kepala asrama dan kepala panti.

4. Penempatan dalam program

Dari hasil pelaksanaan sidang kasus tentang penelusuran penelaahan,pengungkapan masalah serta penelusuran minat dan bakat anak melalui assigment di tentukan bentuk bentuk pelayanan apa saja yang akan di berikan pada klien.adapun pelaksanaan pelayanan bimbingan rehabilitasi yang ada di panti di bagi menjadi beberapa kelas:

1. Persiapan A

Diperuntukan bagi klien yang belum pernah baik formal maupun SLB serta belum mengetahi/mengenal huruf Braille.Penekanan pada kelas persiapan A di titik baratkan pada materi meteri pengetahuan BTB, OM, dan ADL.

2. Persiapan B

Kelas ini merupakan kelanjutan dari kelas persiapan A, serta penekananya masih pada materi BTB,OM,ADL ditambah keterampila kerajinan tangan (pembuatan kaset) dan industri kerumah tanggaan (HI).

3. Dasar

Kelas ini di peruntukan bagi klien yang sudah mengenal dan lancar BTB, OM, ADL karena pada kelas ini klien mulai dikenalkan pada teori dan praktik pijat baik Shiatsu,massage maupun refleksi.

4. Kejuruan

Merupaka kelas lanjutan dari kelas dasar,yang mana pada kelas ini klien sudah mulai mahir,mengerti dan memahami baik teori maupun praktik pemijatan serta sudah siap secara mental untuk di terjunkan di masyarakat.

5. Praktis

Kelas ini diperuntukkan bagi klien yang mempunyai hambatan/kendala,mengalami kesulitan untuk menerima materi materi yang berhubungan teori di kelas,maupun klien yang mempunyai kemampuan terbatas sehingga pada kelas ini penekanannya pada segi keterampilan pijat saja yang sifatnya praktis/sederhana.

c. Tahap Bimbingan Sosial Dan Bimbingan Keterampilan

Dari beberapa penjelasan kelas persiapan A dan kelas praktis di atas, untuk kenaikan kelas dilaksanakan 1 tahun sekali setelah sebelumnya di adakan evaluasi semester yang dilakukan setiap 6 bulan sekali, kecuali persiapan A klien dapat bergeser sewaktu-waktu ke kelas berikutnya tergantung dari prestasi yang di miliki. Dan dari kelas persiapan A sampai dengan kelas praktis semua mendapatkan bimbingan sebagai berikut :

1. Bimbingan fisik dan mental

Untuk membina ketakwaan terhadap tuhan YME serta terwujudnya kemauan dan kemampun klien agar dapat memulihkan harga diri, kepercayaan diri, serta kestabilan emosi agar tercipta suatu kematangan pribadi.

a. Bimbingan agama :

Bimbingan ini bertujuan agar klien menjadi manusia yang bertakwa kepada allah SWT serta berahlak mulya sebagai pribadi dan anggota masyarakat.

b. Olahraga

agar klien mempunyai fisik yang sehat, terhindar dari berbagai macam penyakit.

c. Orientasi mobilitas

agar klien mampu melakukan gerakan dari satu tempat ke tempat lain tanpa bantuan orang lain.

d. ADL

Bimbingan yang diberikan kepada klien agar klien mempunyai kemampuan untuk melakukan kegiatan sehari-harinya tanpa menggantungkan diri kepada orang lain.

2. Bimbingan sosial

Untuk membentuk sikap sosial yang berlandaskan pada kesetiakawanan dan berkebersamaan serta tanggung jawab sosial.

a. Baca tulis braille

pengenalan huruf braille sebagai media komonikasi bagi penyandang cacat netra.

b. Bahasa indonesia

agar klien dapat berkomunikasi dengan menggunakan bahasa indonesia dengan baik dan benar.

c. Berhitung

agar klien dapat melakukan penghitungan secara sederhana mudah dan cepat.

d. Pendidikan kewaganegaraan

agar dapat mengamalkan nilai-nilai pancasila dalam kehidupan sehari-hari

e. Kewiraswastaan

menumbuhkan semangat dan jiwa wira usaha melalui pengembangan pengetahuan, keterampilan dan kepribadian sesuai kapasitas.

3. Bimbingan keterampilan usaha/kerja

Agar penyandang cacat netra memiliki keterampilan kerja dan usaha untuk menjamin masa depannya, yang sesuai dengan kemampuan dan kondisi lingkungannya.

Kegiatan bimbingan keterampilan usaha/kerja meliputi :

a. Kerajinan tangan

Bentuk keterampilan usaha yang diberikan kepada klien dalam bidang pembuatan keset.

b. Industri kerumahtanggaan

untuk memberikan bekal keterampilan usaha produktif sebagai usaha menambah penghasilan rimah tangga.

c. Pijat :

1. Massage :

suatu teknik pijatan yang menggunakan teori dari jerman yang bertujuan untuk memberikan pijat penyegaran (capek capek) dan pijat penyembuhan(segmentasi) bagi penderita yang indikasi massage.

2. Shiatsu :

teknik pijatan yang mengutamakan tekanan untuk membenahi keadaan tubuh dari ketidak normalan kearah normal sekaligus untuk meningkatkan fungsi peredaran darah dan meningkatkan daya tahan tubuh.

3. Refleksi :

Pijat penyembuhan yang ditekankan pada titik titik syaraf tertentu terutama daerah kaki,tubuh dan tangan.

d. Kesenian musik band dan karawitan

e. Seni baca Al quran/qiroah

4. Penempatan dalam masyarakat

Untuk mempersiapkan lulusan di masyarakat di ambil langkah langkah sebagai berikut:

a. Resosialisasi

Resosialisasi ini dilaksanakan empat bulan menjelang rehabilitasi sosial dan latihan keterampilan kerja selesai.Kegiatan ini berupa praktek belajar kerja.

b. Setiap lulusan diberi modal kerja sebagai bekal kerja yang sesuai dengan jenis keterampilan yang dimiliki.

5. Pembinaan lanjut

Pembinaan lanjut dilaksanakan melalui:

a. Cabang dinas sosial

b. Home visit (kunjungan rumah) oleh petugas panti

c. Korespondensi dalam huruf Braille

d. Pelatihan pengembangan

e. Reuni/temu karya

Pembinaan lanjut tersebut bukan hanya mengenai penjajakan lapangan kerja saja,tetapi juga penyesuaian sikap para lulusan lebih lanjut di masyarakat.

Diharapkan dengan rehabilitasi sosial dan latihan keterampilan usaha/kerja selama dalam panti yang bersangkutan akan memenuhi masa depanya dengan penuh tanggungjawab dan mampu menyesuaikan tantangan hidupnya.

    1. KEGIATAN BELAJAR MENGAJAR PENDIDIKAN JASMANI DI PRSBCN ”BUDI MULYA” MALANG MATERI STRETCHING DAN KALESTENIK

Pada saat kami melakukan obsaervasi di PRSBCN”Budi Mulya” Malang, bapak dan ibu pembina cacat netra mempersiapkan para klien untuk melakukan senam, khususnya stetching dan kalestenik. Proses persiapan melakukan senam pada cacat netra ini pada dasarnya sama halnya seperti orang pada umumnya, hanya saja klien cacat netra di dampingi beberapa pembina untuk mengontrol agar kegiatan berjalan dengan baik.

Tahapan tahapan senam cacat netra antara lain:

1. Para klien berbaris dengan petunjuk aba aba dari pembina, salah satu pembina memberi aba aba yang lain membantu untuk berbaris.

2. Pembina mulai memberi aba aba untuk stretching. Aba aba pada saat melakukan streching :

a. Are you ready

b. gerakkan kedua tangan ke atas tinggi

c. Bengkokkan kekiri-kekanan

d. Gerakkan ke depan

e. Gerakkan ke belakang atas

f. Miringkan kepala ke kiri-ke kanan dan tangan lurus

g. Angkat kepala ke atas

h. Tundukkan kepala ke bawah

i. Tangan di atas kepala bengkokkan kekiri, kebalikkanya

j. Putar badan ke kiri, kebalikkanya

k. Menyentuh kaki kiri dengan tangan kanan, kebalikkanya

l. Mencium lutut kiri dan kanan, kaki kangkang

m. Mencium kedua lutut, kaki lurus

n. Sikap gerak pesawat terbang

o. Mengangkat kaki kiri ke depan,samping, dan belakang, ganti kaki kanan

3. Senam kalestenik, di lakukan dengan iringan musik dan di barengi aba- aba, contoh aba aba kalestenik : Pendek-pendek, lebar-lebar, gerakkan huruf L, gerakkan huruf S, tangan di pinggang dan kaki lebar.

Selain senam juga ditambah beberapa gerakkan push up, sit up dan meloncat, contoh aba aba : Ambil posisi push up naik turun, tidur telentang gerakkan sit up tarik tidur.

BAB III

PENUTUP

    1. KESIMPULAN

    1. Penyandang tuna netra adalah mereka yang memiliki keterbatasan (cacat) pada indra penglihatan baik total maupun masih memiliki sisa penglihatan.

    2. Gerakan-gerakan olahraga (stretching dan kalestenik) pada dasarnya adalah sama, perbedaannya hanya pada perlakuan oleh pembina terhadap klien yang harus lebih terkontrol.

    1. SARAN

Saran yang dapat diberikan penulis berkaitan dengan observasi yang dilakukan, sebagai berikut :

    1. Kepada sesama Penyandang Tuna Netra, diharapkan agar selalu berfikir tentang hal-hal positif tentang dirinya dan optimis dalam menghadapi segala situasi dan perubahan, sehingga dapat lebih mudah dalam mengaktualisasikan kemampuan diri.
    2. Kepada anggota keluarga dan masyarakat, diharapkan agar memperlakukan para penyandang tuna netra sebagaimana memperlakukan orang yang tidak memiliki keterbatasan fisik dan tidak menjauhi mereka.

    3. Kepada penulis selanjutnya, diharapkan agar melakukan observasi dengan waktu yang tepat sehingga didapatkan hasil observasi yang lebih baik.

DAFTAR PUSTAKA

Buku Propil Panti Rehabilitasi Sosial Bina Cacat Netra ”BUDI MULYA” Malang.

Posted Januari 6, 2010 by downixs in kumpulan makalah

Tagged with ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: