Pengertian Pedoman Latihan   Leave a comment

Pedoman Latihan adalah kumpulan atau hal pokok yang menjadikan dasar untuk  memberikan petunjuk bagaimana sesuatu harus dilakukan dalam latihan sehingga mencapai perkembangan kondisi latihan dalam rangka mencapai tujuan tertentu.

Posted Februari 29, 2012 by downixs in Education

Ahlussunnah Wal Jama’ah ( Aswaja )   5 comments

Aswaja

I Pengantar

Telaah terhadap Ahlussunnah Wal Jama’ah ( Aswaja ) sebagai bagaian dari kajian keislaman –merupakan upaya yang mendudukkan aswaja secara proporsional, bukannya semata-mata untuk mempertahankan sebuah aliran atau golongan tertentu yang mungkin secara subyektif kita anggap baik karena rumusan dan konsep pemikiran teologis yang diformulasikan oleh suatu aliran, sangat dipengaruhi oleh suatu problem teologis pada masanya dan mempunyai sifat dan aktualisasinya tertentu.

Pemaksaan suatu aliran tertentu yang pernah berkembang di era tertentu untuk kita yakini, sama halnya dengan aliran teologi sebagai dogma dan sekaligus mensucikan pemikiran keagamaan tertentu. Padahal aliran teologi merupakan fenomena sejarah yang senantiasa membutuhkan interpretasi sesuai dengan konteks zaman yang melingkupinya. Jika hal ini mampu kita antisipasi berarti kita telah memelihara kemerdekaan (hurriyah); yakni kebebasan berfikir (hurriyah al-ra’yi), kebebasan berusaha dan berinisiatif (hurriyah al-irodah) serta kebebasan berkiprah dan beraktivitas (hurriyah al-harokah) (Said Aqil Siradj : 1998).

Berangkat dari pemikiran diatas maka persoalan yang muncul kemudian adalah bagaimana meletakkan aswaja sebagai metologi berfikir (manhaj al-fikr)?.Jika mengharuskan untuk mengadakan sebuah pembaharuan makna atau inpretasi, maka pembaharuan yang bagaimana bisa relevan dengan kepentingan Islam dan Umatnya khususnya dalam intern PMII. Apakah aswaja yang telah dikembangkan selama ini didalam tubuh PMII sudah masuk dalam kategori proporsional? Inilah yang mungkin akan menjadi tulisan dalam tulisan ini.

II Aswaja Dan Perkembangannya

Melacak akar-akar sejarah munculnya istilah ahlul sunnah waljamaah, secara etimologis bahwa aswaja sudah terkenal sejak Rosulullah SAW. Sebagai konfigurasi sejarah, maka secara umum aswaja mengalami perkembangan dengan tiga tahab secara evolutif. Pertama, tahab embrional pemikiran sunni dalam bidang teologi bersifat eklektik, yakni memilih salah satu pendapat yang dianggap paling benar. Pada tahab ini masih merupakan tahab konsolidasi, tokoh yang menjadi penggerak adalah Hasan al-Basri (w.110 H/728 M). Kedua, proses konsolidasi awal mencapai puncaknya setelah Imam al-Syafi’I (w.205 H/820 M) berhasil menetapkan hadist sebagai sumber hukum kedua setelah Al- qur’an dalam konstruksi pemikiran hukum Islam. Pada tahab ini, kajian dan diskusi tentang teologi sunni berlangsung secara intensif. Ketiga, merupakan kristalisasi teologi sunni disatu pihak menolak rasionalisme dogma, di lain pihak menerima metode rasional dalam memahami agama. Proses kristalisasi ini dilakukan oleh tiga tokoh dan sekaligus ditempat yang berbeda pada waktu yang bersamaan, yakni; Abu Hasan al-Asy’ari (w.324 H/935 M)di Mesopotamia, Abu Mansur al-Maturidi (w.331 H/944 M) di Samarkand, Ahmad Bin Ja’far al-Thahawi (w.331 H/944 M) di Mesir. ( Nourouzzaman Shidiqi : 1996). Pada zaman kristalisasi inilah Abu Hasan al-Asy’ari meresmikan sebagai aliran pemikiran yang dikembangkan. Dan munculnya aswaja ini sebagai reaksi teologis-politis terhadap Mu’tazilah, Khowarij dan Syi’ah yang dipandang oleh As’ari sudah keluar dari paham yang semestinya.

Lain dengan para Ulama’ NU di Indonesia menganggap aswaja sebagai upaya pembakuan atau menginstitusikan prinsip-prinsip tawasuth (moderat), tasamuh (toleran) dan tawazzun (seimbang) serta ta’addul (Keadilan). Perkembangan selanjutnya oleh Said Aqil Shiroj dalam mereformulasikan aswaja sebagai metode berfikir (manhaj al-fikr) keagamaan yang mencakup semua aspek kehidupan yang berdasarkan atas dasar modernisasi, menjaga keseimbangan dan toleransi, tidak lain dan tidak bukan adalah dalam rangka memberikan warna baru terhadap cetak biru (blue print) yang sudah mulai tidak menarik lagi dihadapan dunia modern. Dari sinilah PMII menggunakan aswaja sebagai manhaj al fikr dalam landasan gerak. Baca entri selengkapnya »

Posted Januari 6, 2010 by downixs in Education, kumpulan makalah

Tagged with

Sosiologi Olahraga   8 comments

BAB I

PENDAHULUAN

1.Latar belakang

Kajian olahraga terhadap ilmu olahraga diawali dengan keterlibatan sosiologi sebagai salah satu ilmu yang digunakan untuk mengkaji fenomena keolahragaan. Konsep sosiologi dipaparkan sebagai dasar untuk memahami konsep-konsep sosiologi olahraga, khususnya berkaitan dengan proses sosial yang menyebabkan terjadinya dinamika dan perubahan nilai keolahragaan dari waktu ke waktu. Fenomena olahraga mengalami perkembangan begitu pesat sampai kedalam seluruh aspek olahraga. Olahraga tidak hanya dilakukan untuk tujuan kebugaran badan dan kesehatan, tetapi juga menjangkau aspek politik, ekonomi, sosial,dan budaya. Oleh karenanya pemecahan masalah dalam olahraga dilakukan dengan pendekatan inter-disiplin, dan salah satu disiplin ilmu yang dimanfaatkan adalah sosiologi.

Dari sisi pelaku dan proses sosial yang terbentuk, semakin memantapkan keyakinan bahwa olahraga merupakan kegiatan yang kecil dan dilakukan dalam perikehidupan masyarakat, artinya fenomena-fenomena sosial yang terjadi dalam masyarakat telah tercermin dalam aktivitas olahraga dengan terdapatnya nilai, norma, pranata, kelompok, lembaga, peranan, status, dan komunitas.

Sosiologi berupaya mempelajari masyarakat dipandang dari aspek hubungan antar individu atau kelompok secara dinamis, sehingga terjadi perubahan-perubahan sebagai wujud terbentuknya dan terwarisinya tata nilai dan budaya bagi kesejahteraan pelakunya untuk peningkatan harkat dan martabat kemanusiaan secara utuh menyeluruh. Manusia memiliki hasrat bermain dan bergerak sebagai wujud nyata aktualisasi dirinya untuk mengembangkan dan membina potensi yang dimilikinya yang berguna bagi keperluan hidup sehari-hari. Olahraga yang kita lihat pada era sekarang pada hakekatnya merupakan aktivitas gerak fisik yang sudah mengalami pelembagaan formal. Disana terdapat nilai dan norma baku yang bersifat mengikat para pelaku, penyelenggara, dan penikmatnya agar olahraga bisa berlangsung dengan adil, tertib, dan aman.

2.Rumusan masalah

1.Apa pengertian dari ilmu sosiologi olahraga ?

2.Bagaimana kontribusi olahraga dilihat dari ilmu sosiologi olahraga ?

3.Tujuan

1.Mengetahui arti sebenarnya ilmu sosiologi olahraga.

2.Mengetahui kontribusi olahraga dilihat dari sisi ilmu sosiologi olahraga.

BAB II

PEMBAHASAN

A.PENGERTIAN SOSIOLOGI

Secara umum, sosiologi merupakan ilmu yang mempelajari masyarakat dan proses-proses social yang terjadi di dalamnya antar hubungan manusia dengan manusia, secara individu maupun kelompok, baik dalam suasana formal maupun material, baik statis maupun dinamis.

Menurut Selo Soemardjan dan Soelaeman Soemardi, sosiologi diartikan sebagai ilmu masyarakat yang mempelajari struktur sosial dan proses sosial,termasuk perubahan sosial. Struktur sosial adalah keseluruhan jalinan antara unsur-unsur sosial yang pokok yaitu kaidah sosial (norma), lembaga sosial, kelompok serta lapisan sosial. Proses social adalah pengaruh timbale balik antara berbagai segi kehidupan bersama, misalnya pengaruh timbale balik antara kemampuan ekonomi yang tinggi dengan stabilitas politik dan hukum, stabilitas politik dengan budaya, dan sebagainya.

Telaah yang lebih dalam tentang sifat hakiki sosiologi akan menampakkan beberapa karakteristiknya yaitu :

1.Sosiologi adalah ilmu sosial berbeda jika dibandingkan dengan ilmu alam / kerohanian.

2.Sosiologi merupakan disiplin ilmu kategori bukan normatif, artinya bersifat non etis yakni kajian dibatasi pada apa yang terjadi, sehingga tidak ada penilaian dalam proses pemerolehan dan penyusunan teori.

3.Sosiologi merupakan disiplin ilmu pengetahuan murni, bukan ilmu pengetahuan terapan, artinya kajian sosiologi ditujukan untuk membentuk dan mengembangkan ilmu pengetahuan secara abstrak.

4.Sosiologi meupakan ilmu pengetahuan empiris dan rasional artinya didasarkan pada observasi obyektif terhadap kenyataan dengan menggunakan penalaran.

5.Sosiologi bersifat teoritis yaitu berusaha menyusun secara abstrak dari hasil observasi. Abstrak merupakan kerangka unsur yang tersusun secara logis, bertujuan untuk menjelaskan hubungan sebab akibat berbagai fenomena.

6.Sosiologi bersifat komulatif, artinya teori yang tersusun didasarkan pada teori yang mendahuluinya.

Obyek suatu disiplin ilmu dibedakan menjadi obyek material dan obyek formal. Obyek material adalah sesuatu yang menjadi bidang/kawasan kajian ilmu, sedang obyek formal adalah sudut pandang / paradigma yang digunakan dalam mengkaji obyek material.

Sebagai ilmu sosial,obyek material sosiologi adalah masyarakat, sedang obyek formalnya adalah hubungan antar manusia, dan proses yang timbul dari hubungan manusia dalam masyarakat. Konsepsi masyarakat (society) dibatasi oleh unsur – unsur :

  • Manusia yang hidup bersama.
  • Hidup bersama dalam waktu yang relatif lama.
  • Mereka sadar sebagai satu kesatuan.
  • Mereka merupakan suatu sistem hidup bersama yang mampu melahirkan kebudayaan.

Secara khusus, sosiologi merupakan ilmu yang mempelajari masyarakat dipandang dari aspek hubungan antara individu atau kelompok. Hubungan yang terjadi karena adanya proses sosial dilakukan oleh pelaku dengan berbagai karakter, dilakukan melalui lembaga sosial dengan berbagai fungsi dan struktur sosial. Keadaan seperti ini ternyata juga terdapat dalam dunia olahraga sehingga sosiologi dilibatkan untuk mengkaji masalah olahraga.

B.PENGERTIAN SOSIOLOGI OLAHRAGA

Sosiologi olahraga merupakan ilmu terapan, yaitu kajian sosiologis pada masalah keolahragaan. Proses sosial dalam olahraga menghasilkan karakteristik perilaku dalam bersaing dan kerjasama membangun suatu permainan yang dinaungi oleh nilai, norma, dan pranata yang sudah melembaga. Kelompok sosial dalam olahraga mempelajari adanya tipe-tipe perilaku anggotannya dalam mencapai tujuan bersama, kelompok sosial biasanya terwadahi dalam lembaga sosial, yaitu organisasi sosial dan pranata. Beragam pranata yang ada ternyata terkait dengan fenomena olahraga.

C.BIDANG KAJIAN SOSIOLOGI OLAHRAGA

Bidang kajian sosiologi olahraga sangat luas, mengingat hal itu para ahli berupaya mencari batasan bidang kajian yang relevan misalnya:

a.Heizemann menyatakan bagian dari teori sosiologi yang dimasukkan dalam ilmu olahraga meliputi:

  • Sistem sosial yang bersangkutan dengan garis sosial dalam kehidupan bersama, seperti kelompok olahraga, tim, dan klub olahraga lainnya.
  • Masalah figure sosial, seperti figure olahragawan, Pembina, yang berkaitan dengan usia, pendidikan, dan pengalaman.

b.Plessner dalam studi sosiologi olahraga menekankan pentingnya perhatian yang harus diarahkan pada pengembangan olahraga dan kehidupan dalam industri modern dengan mengkaji teori kompensasi.

c.G Magname menguraikan tentang kedudukan olahraga dalam kehidupan sehari-hari, masalah olahraga rekreasi, masalah juara, dan hubungan antara olahraga dengan kebudayaan.

d.John C.Phillips mengkaji tema yang berhubungan dengan olahraga dan kebudayaan, pertumbuhan, dan rasional dalam olahraga.

e.Abdul Kadir Ateng menawarkan pokok kajian sosiologi olahraga yang meliputi pranata sosial, seperti sekolah, dan proses sosial seperti perkembangan status sosial atau prestise dalam kelompok dan masyarakat.

Berikut ini contoh-contoh sosiologi olahraga yang dinyatakan oleh Abdul Kadir Ateng:

  • Pelepasan emosi (dengan cara yang dapat diterima masyarakat).
  • Pembentukan pribadi (mengembangkan identitas diri)
  • Kontrol sosial (penyerasian dan kemampuan prediksi)
  • Sosialisasi (membangun perilaku dan nilai-nilai bersama yang sesuai)
  • Perubahan sosial (interaksi sosial, asimilasi dan mobilitas)
  • Kesadaran (pola tingkah laku yang benar)
  • Keberhasilan (cara pencapaian dengan turut aktif atau sebagai penikmat)

BAB III

KESIMPULAN

Olahraga sebagai suatu aktivitas yang melibatkan banyak pihak telah disikapi secara dinamis dari pemahaman terhadap yang dianggap sebagai aktivitas primitive untuk mempertahankan hidup berubah menjadi proses sosial yang menghasilkan karakteristik perilaku dalam bersaing dan bekerja sama membangun suatu permainan yang dinaungi oleh nilai, norma, dan pranata lembaga.

Kajian sosiologis yang berkaitan dengan kelompok sosial dapat dikenakan pada olahraga berdasarkan pada beberapa hal yakni situasi kondisi dan struktur, serta fungsi kelompok olahraga. Sarat dengan situasi dan kondisi yang kental akan persaingan dan tata aturan yang relative ketat sehingga tercipta rasa senang, santai, dan gembira.

Berangkat dari paparan diatas, bentuk interaksi sosial dapat berupa kerja sama, persaingan dan pertikaian, sehingga membutuhkan penyelesaian sementara waktu, menyadari keterkaitan dan keterikatannya dengan individu lain. Manusia membentuk kelompok sosial untuk memecahkan masalah hidupnya dengan mengunakan pendekatan ilmu sosiologi.

Olahraga telah diapresiasikn sedemikian tinggi sebagai media untuk menunjukkan hegemoni, sehingga untuk menyelenggarakan,dan menciptakan para pelakunya, telah diupayakan berbagai pendekatan dengan melibatkan berbagai disiplin ilmu, yang disebut pendekatan inter-disiplin adalah pendekatan yang didasarkan pada pengetahuan dari ilmu psikologo, sosiologi, anatomo, dan fisiologi. Sedangkan pendekatan cros-disiplin adalah pendekatan yang difokuskan pada ilmu motor learning, psikologi olahraga, dan sosiologi olahraga.

DAFTAR PUSTAKA

SAPTO ADI DAN MU’ARIFIN (2007)“SOSIOLOGI OLAHRAGA”UPT PERPUS UM, MALANG

Posted Januari 6, 2010 by downixs in kumpulan makalah

Tagged with ,

Tugas Perkembangan Remaja   3 comments

BAB II

PEMBAHASAN

TUGAS – TUGAS PERKEMBANGAN REMAJA

DAN PELAKSANAANYA

1.ARTI DAN MAKNA TUGAS – TUGAS PERKEMBANGAN

Pendapat beberapa ahli tentang pengertian perkembangan;

  1. Ahli biologi oleh Drs. H.M.Arifin, M.Ed yaitu suatu perubahan dalam tubuh dan integritasberbagai bagian kedalam kesatuan fungsional (dapat diamati) yang saling berkesinambungan, contoh melihat kelakuan para remaja.
  2. Menurut Doring, langfeld, dan Weld perkembangan dicakup dalam satu kata yaitu”kematangan” yaitu suatu perubahan pisik dan psikis telah mengalami tumbuh dan berkembang pada tingkat tertentu sebagai akibat dari pengaruh mengenai kehidupan organisme, contoh seorang remaja yang dapat berkencan tanpa diajarkan terlebih dahulu.

Aspek pisik yaitu jasmani, kelenjar-kelenjar seks dan otak.

Aspek psikis yaitu perilaku seksual, sikap(perasaan/emosi), minat(cita-cita), pribadi, sosial dan moral.

Beberapa pengertian tugas- tugas perkembangan;

1.Menurut R.J. Havighurst tugas – tugas perkembangan diartikan sebagai tugas yang timbul pada suatu periode atau masa tertentu dalam kehidupan seorang.

2.Tugas-tugas perkembangan adalah petunjuk – petunjuk yang memungkinkan seseorang mengerti dan memahami apa yang diharapkan atau dituntut oleh masyarakat dan lingkungan lain terhadap seseorang dalam usia tertentu.

3. Tugas-tugas perkembangan merupakan petunjuk bagi seseorang tentang apa dan bagaimana yang diharapkan di masa yang akan datang, jika dia kelak telah mencapainya.

2.TUGAS-TUGAS PERKEMBANGAN MANUSIA PADA UMUMNYA

Tugas-tugas perkembangan manusia pada umumnya berbeda dalam tiap masa kehidupan yang dirangkum sebagai berikut :

2.1.Pada masa Bayi dan Kanak-Kanak awal :

  1. Belajar jalan, makan dan mengendalikan buang air kecil dan besar.
  2. Memperoleh keseimbangan psikologi.

  3. Belajar konsep sederhana tentang realita sosial dan realita pisik.

  4. Belajar menjalin hubungan secara emosional antara orang tua, saudara dan orang lain.

  5. Belajar membedakan antara yang benar dan yang salah serta mengembangkan hati nurani.

  6. Belajar membedakan jenis kelamin dan menghargainya.

2.2.Pada masa Kanak-Kanak Akhir :

  1. Belajar tentang ketrampilan pisik dalam permainan yang ringan dan mudah.
  2. Membentuk sikap sehat demi kepentingan pertumbuhan.
  3. bergaul dengan teman seusia.

  4. Belajar menyesuaikan diri.

  5. Mengembangkan kata hati, moral dan ukuran nilai.

  6. Mengembangkan ketrampilan dasar.

2.3.Pada Masa Remaja :

  1. Memperoleh kebebasan secara emosional dari orang tuanya dan orang dewasa lainya.
  2. Memilih dan mempersiapkan diri ke arah suatu pekerjaan.
  3. Menjalin hubungan baru dengan teman sebaya baik sesama jenis maupun lain jenis.

  4. Mengembangkan ketrampilan dan konsep intelektual yang diperlukan sebagai warganegara yang terpuji.

  5. Mempersiapkan diri untuk pernikahan.

  6. Menyusun nilai kata hati yang sesuai dengan gambaran dunia yang diperoleh dari ilmu pengetahuan yang memadai.

2.4.Pada Masa Dewasa Awal :

  1. Mulai bekerja dalam suatu jabatan.

  2. Memilih teman bergaul sebagai calon suami atau istri.

  3. Mulai bertanggung jawab sebagai warganegara secara layak.

  4. Belajar hidup bersama dengan suami dan istri.

  5. Belajar mengasuh anak-anak.

  6. Mulai hidup berkeluarga dan mengelola berumah tangga.

2.5.Pada Masa Setengah Baya :

  1. Menetapkan dan memelihara suatu standar kehidupan ekonomi bagi kehidupannya.

  2. Membantu anak-anak remajanya untuk menjadi orang dewasa yang bertanggung jawab dan bahagia.

  3. Mengembangkan kegiatan pengisi waktu luang yang sesuai dengan umur.

2.6.Pada Masa Tua :

  1. Menyesuaikan diri dalam masa pensiun dan pendapatan berkurang.

  2. Memperbanyak beribadah kepada Tuhan YME.

  3. Menyiapkan dan menyesuaikan diri dalam keadaan meninggalnya suami atau istrinya.

3.TUGAS-TUGAS PERKEMBANGAN REMAJA PADAM UMUMNYA

Menurut Karl C.Garrison ada 6 kelompok pembagian tugas perkembangan yang berbeda yaitu :

  1. Menerima Keadaan Jasmani

Para remaja diharapkan dapat menerima keadaan diri sebagaimana adanya keadaan diri mereka sendiri; bukan khayalan dan impian.Diharapkan mereka memanfaatkan dan memelihara secara efektif.

  1. Memperoleh Hubungan Baru dan Lebih Matang dengan Teman Sebaya Antara Dua Jenis Kelamin

Akibat adanya kematangan organ reproduksi memang diharapkan remaja dapat mencari dapat memperoleh teman baru dan menjadi matang berhubungan dengan teman sebaya lawan jenis dalam kelompok mereka.buruknya dari pergaulan tersebut mereka yang tidak diterima oleh kelompok lain membuat kelompok sendiri yang dikenal sebagai “gnag”.

  1. Memperoleh Kebebasan Emosional dari Orang Tua

Tindakan masa kecil diharapkan dihilangkan sebab pentingnya kebebasan emosi ini dapat memupuk mentalitas dalam menyelesaikan setiap masalah dan dapat bertanggung jawab sendiri terhadap setiap langkah pilihannya yang ditempuh.

  1. Mendapatkan Perangkat Nilai Hidup dan Filsafah Hidup

Remaja sangat tertarik pada persoalan yang menyangkut kehidupan dan falsafah hidup, serta soal kaegamaan.Mereka tertarik pada tujuan hidup, memusatkan perhatian pada standar perilaku pada diri, keluarga dan orang lain.Sehingga dapat menuntun dan mewarnai berbagai aspek kehidupannya dalam masa dewasa dan selanjutnya(berguna sebagai kendali atau kemudi dalam kehidupan).

  1. Memiliki Citra-diri yang realistis

Remaja diharapkan memiliki gambaran diri secara realistis, tidak lagi atas dasar hayal (fantasi) tentang gambaran yang muluk-muluk seperti apa yang seringkali mereka pikirkan dan alami dalam masa pubertas atau masa kanak-kanak.

Baca entri selengkapnya »

Posted Januari 6, 2010 by downixs in kumpulan makalah

Tagged with ,

Strategi Pembelajaran Mahasiswa   1 comment

BAB I

PENDAHULUAN

Latar belakang

Gejala dalam hidup manusia yang disebut sukses tampaknya amat menarik untuk dipelajari. Sebab dengan memahami berbagai segi tentang sukses, seorang bertambah pengetahuannya, dapat tergugah hasratnya untuk berusaha meraih sukses, lebih luas kesadaranya terhadap perjuangan mencapai sukses, dan mungkin lebih besar kemungkinan suksesnya pula dalam semua kegiatan. Sukses ialah Pencapaian yang berangsur-angsur meningkat terhadap suatu tujuan atau cita-cita yang berharga.

Hasrat untuk belajar dengan cara yang baik hanyalah tumbuh dalam diri seseorang mahasiswa kalau ia menginsafi pentingnya kecakapan itu. Dengan cara belajar yang baik, pelajaran akan dapat mudah dikuasai sepenuhnya. Dengan menguasai pelajaran secara sempurna, ujian akan dapat ditempuh dengan berhasil. Waktu dan kebiasaan yang baik dalam belajar, demikian pula sekedar uang yang diperlukan untuk membeli suatu barang yang memungkinkan seorang mahasiswa dapat belajar dengan lebih baik. Tidaklah ada artinya kalau dibandingkan dengan hasil yang akan diperoleh. Bahkan menurut Sutan Sjahrir dalam bukunya Renungan Indonesia, belajar dengan cara yang baik akan membentuk watak yang baik pula.

Kalau seorang mahasiswa sampai tidak berhasil dalam usaha belajarnya di Perguruan Tinggi karena tidak mempunyai cara belajar yang efektif dan efisien, maka akan lebih banyak lagi waktu, tenaga dan uang yang terbuang percuma dengan sia-sia. Lebih pahit lagi, kegagalan itu akan selalu nampak dan merupakan kenang-kenangan yang tidak mengembirakan. Sebaliknya hasil dari usaha yang sukses bukan saja berupa ijazah, pengetahuan dan pengakuan masyarakat kepadanya sebagai seorang sarjana, melainkan juga berupa perasaan puas terhadap diri sendiri karena telah dapat mengatasi semua tantangan dan kesukaran di Perguruan Tinggi. Perasaan puas yang tidak ternilai harganya ini tidak dapat dibeli dengan Kekayaan berapapun besarnya.

Rumusan masalah

1.Apa yang menjadi kesulitan seorang mahasiswa malas belajar ?

2. Bagaimana metode belajar yang efektif dan efisien ?

Tujuan masalah

1.Mahasiswa mengerti kesulitan yang selama ini menghambat dalam proses belajar.

2.Mahasiswa mengetahui metode cara belajar yang baik sehingga sukses dalam perkuliahan

BAB II

PEMBAHASAN

1.A.Teori belajar

Para ahli belajar berusaha dengan sungguh-sungguh untuk menjelaskan tentang bagaimana manusia belajar, sedang guru dalam menjalankan tugasnya selalu memikirkan tentang bagaimana mempengaruhi anak belajar. Jadi guru sering lebih mementingkan prosedur dari pada penjelasannya. Namun telah menunjukkan kegagalan dalam mengakui hubungan antara teori dan penerapannya. Menurut Hilgard (1964) ada enam langkah yang akan ditempuh, mulai dari penelitian murni ke pengembangan teknologi instruksional dan penerapan dalam belajar. Tanpa memperhatikan sikap terhadap teori belajar, para guru melakukan tugas mengajarnya selalu didasarkan pada teori. Sebagai contoh, guru yang sedang merangsang siswa untuk berkosentrasi pada ‘merasakan gerakannya’ yang sedang dilakukan, maka guru telah menerapkan salah satu teori belajar motorik, dengan atau tanpa sepengetahuannya. Kalau diteliti manfaat dari penerapan teori ini, maka teori ini bukanlah merupakan teori yang terbaik, yang dapat berlaku untuk semua situasi. Salah satu tujuan dari mempelajari teori belajar adalah agar mengacu kita untuk menguji konsep-konsep teoritis yang ada, yang akan dapat dipakai sebagai landasan dalam keyakinan dan praktek para guru atau pelatih.

B.Belajar dan penampilan.

Perbedaan antar belajar dan penampilan (learning and performance) adalah belajar terjadi dalam diri individu dan karena itu tidak dapat diamati secara langsung. Apa yang dimaksudkan dengan ‘ telah melihat seseorang belajar’ adalah kita telah melihat perubahan dalam perilaku. Jika kita menduga telah terjadi belajar apabila kita melihat telah terjadi suatu peningkatan dalam tingkat penampilan dalam jangka waktu tertentu. Penampilan motorik (motor performance) dalam hubungannya dengan belajar dalam arti yang lebih luas adalah suatu ekspresi sementara dari perilaku keterampilan motorik . Keahlian (proficiency) adalah tingkat penampilan pada titik dan waktu tertentu. Hal ini terjadi berdasarkan fakta bahwa perkembangan keahlian dari hari ke hari dipengaruhi oleh beberapa kondisi sementara, termasuk fluktuasi fisiologis dan motivasi.

C.Masalah-masalah mengenai belajar

Rintangan dan masalah yang banyak dihadapi oleh mahasiswa selain menyangkut macam-macam hal seperti kesehatan jasmani, keadaan keuangan atau kesulitan rumah tangga juga mengenai persoalan cara belajar. Penelitian oleh C.C. Wrenn dan Reginald Bell mengenai masalah pokok mahasiswa di perguruan tinggi ada 7 hal sebagai berikut:

  1. Kesukaran dalam mengatur pemakaian waktu belajar.
  2. Ketidaktahuan mengenai ukuran-ukuran baku yang harus dipenuhi dalam pelaksanaan tugas-tugas.
  3. Kebiasaan-kebiasaan membaca yang lambat.
  1. Kekurangan buku pelajaran, Buku bahasa asing.
  2. Cara dan sistem mengajar dari para dosen.
  3. Pergantian peraturan
  4. Kepergian dosen

Gugusan masalah yang ternyata paling banyak mendapat perhatian mahasiswa adalah mengenai ‘Penyesuaian terhadap tugas-tugas diperguruan tinggi’ dan kesukaran yang paling banyak dialami mahasiswa adalah:

  1. Tidak tahu bagaimana cara belajar yang efektif dan efisien.
  2. Tidak dapat memusatkan perhatian dengan baik.

Kesulitan tersebut diatas menurut pandangan mahasiswa sendiri dan sebagian tidak termasuk dalam lingkungan cara belajar. Tetapi hal ini merupakan masalah transisi dari SMA ke Perguruan Tinggi / Universitas. Mengenai kekurangan yang dirasakan pada lulusan SMA oleh para dosen dikemukakan 8 hal sebagai berikut:

1.Bahan pelajaran di SMA.

2.Cara belajar di SMA.

3.Cara mengajar di SMA.

4.Pengaruh dari luar misalnya keadaan ekonomi, pemondokan atau keluarga.

5.Guru SMA.

6.Pribadi murid SMA.

7.Bentuk SMA.

8.Kekurangan ujian penghabisan SMA. Baca entri selengkapnya »

Posted Januari 6, 2010 by downixs in kumpulan makalah

Tagged with ,

Dasar-Dasar Guru Pendidikan Jasmani   Leave a comment

DASAR-DASAR PENJAS

1.Arti olahraga secara akademis yaitu suatu gerak badan untuk memelihara dan meningkatkan kemampuan gerak,serta dapat mendukung setiap aktivitas dalam kehidupan sehari-hari yang bersifat rutin.sehingga dapat menyehatkan badan maupun untuk keperluan rekreasi (REFLESING).

Ciri-ciri olahraga;

  • Memiliki aturan yang jelas (ROLE OF THE GAME).
  • Persaingan yang kompetitif (bernuansa perlombaan/pertandingan).
  • Even akbar (ada panitia penyelenggara,penonton dan wasit).
  • Memiliki peraturan yang baku/standar/resmi.
  • Sesuai dengan hakekat olahraga.
  • Otoritas (di akui oleh lembaga terkait contoh KONI-IOC).

2.Pengertian olahraga menurut hukum dari berbagai sumber :

Keolahragaan yaitu segala aspek yang berkaitan dengan olahraga yang memerlukan pengaturan, pendidikan, pelatihan, pembinaan, pengembangan,dan pengawasan.

Keolahragaan nasional yaitu keolahragaan yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang berakar pada nilai-nilai keolahragaan, kebudayaan nasional Indonesia, dan tanggap terhadap tuntutan perkembangan olahraga. Baca entri selengkapnya »

Posted Januari 6, 2010 by downixs in kumpulan makalah

Tagged with ,

Revolusi Belajar dalam Pembelajaran   Leave a comment

Revolusi Belajar dalam Pembelajaran

Jika kita melihat suatu permainan yang baru, besar kemungkinan kita akan menganggap permainan itu sulit. Tetapi setelah kita mengetahui cara atau teknik permainan tersebut, tentu kita akan menganggap permainan itu mudah, bahkan mungkin akan sangat menggemarinya.

Sebenarnya demikian juga dengan belajar. Ketika kita telah memahami cara belajar yang benar maka belajar menjadi sebuah kegiatan yang sangat menyenangkan bagi siapapun. Sementara sebagai guru, kita seringkali mendapati siswa yang mengeluh karena kesulitan dalam belajar atau bahkan tidak menyenangi kegiatan belajar.

Tak sedikit siswa menganggap belajar sebagai sebuah beban atau momok. Jika sudah demikian, siswa akan terus mengalami kesulitan untuk menerima pelajaran apapun. Maka potensi besar yang ada dalam diri setiap siswa pun tidak tergali secara maksimal.

Mengajarkan cara belajar agar dapat menggali potensi yang ada sebenarnya merupakan bagian dari revolusi belajar.  Saat ini revolusi belajar telah banyak diterapkan di berbagai tingkatan sekolah terutama pada beberapa sekolah unggulan dan bimbingan belajar. Revolusi belajar sendiri dapat diartikan suatu kegiatan belajar yang memanfaatkan serta menyelaraskan cara kerja otak kiri dan kanan.  Karena sebenarnya konsep revolusi belajar didasarkan pada fungsi dan struktur otak manusia,  yang terdiri dari belahan kiri dan kanan atau disebut otak kiri dan otak kanan.

Di dalam bukunya yang berjudul Revolusi Belajar untuk Anak, Bob samples (2002) melontarkan gagasan menakjubkan tentang : (1) Fungsi otak-pikiran sebagai sistem terbuka;  (2) Modalitas, kecerdasan, gaya, dan kreatifitas dalam belajar, serta cara-cara mengembangkannya: (3) Pemanfaatan musik, suara, relaksasi, gambar, humor, dan mimpi untuk membangun suasana bermain dan belajar secara efektif serta mengasyikkan dengan anak-anak, tanpa mengurangi hakikat pembelajaran; (4) Aktivitas, kiat, dan saran yang mudah dilakukan untuk mengembangkan kemampuan belajar dan mengakses informasi melalui seluruh modalitas belajar yang kita miliki.

Adapun revolusi belajar yang dapat dilakukan meliputi : bagaimana cara membaca, cara menghapal, serta bagaimana cara berpikir kreatif. Salah satu metode membaca yang baik adalah dengan menggunak metode SQ3R: survey (meninjau), question (bertanya), read

(membaca), recite (menuturkan) , dan review (mengulang).

Disamping itu perlu juga memperhatikan tipe modalitas belajar dari masing-masing siswa. Secara umum tipe modalitas belajar dapat dibagi menjadi tiga  yakni : visual, auditorial dan kinestetik. Seorang guru hendaklah memperhatikan aspek modalitas belajar para siswanya. Artinya seorang guru harus mempu memfasilitasi semua tipe modalitas belajar dari para siswanya. Bukan sebaliknya, hanya memperhatikan hanya salah satu tipe modalitas belajar saja.

Modalitas belajar adalah kemampuan potensial yang dimiliki seseorang dalam menyerap segala macam pelajaran atau pengetahuan. Siswa yang memiliki tipe belajar visual akan lebih cepat menangkap pelajaran berupa gambar atau grafik.  Tipe modalitas belajar auditorial biasanya mudah menangkap materi pelajaran jika melalui suara. Sedangkan tipe belajar kinestetis adalah tipe belajar yang lebih cenderung pada kegiatan melakukan praktek secara langsung.

Cara mencatat yang baik adalah dengan memggunakan metode Cornell dan Mind map. Mencatat dengan metode Cornell, yaitu dengan membagi dua kolom pada buku catatan kita. Kolom yang lebih kecil digunakan untuk mencatat hal-hal yang sifatnya khusus, seperti bagian materi yang sulit atau mencatat rumus-rumus penting.

Sedangkan metode Mind map adalah sebuah cara mencatat yang kreatif, efektif, dan mampu memetakan pikiran yang ada dalam diri kita. Mind map sebenarnya merupakan suatu sistem grafis yang melibatkan seluruh potensi otak kiri dan otak kanan. Mind map sangat berguna untuk membuka potensi otak yang masih tersembunyi dalam suatu proses berpikir.

Untuk mengingat, bisa digunakan metode  loci, assosiasi dan chunking. Ketiga metode ini bisa meningkatkan daya ingat karena memaksimalkan kerja otak kanan. Contoh metode asosiasi adalah mengambil suku kata yang mudah diingat. Misalnya, untuk mengingat negara-negara yang ada di Asia Selatan, bisa dibuat kalimat bapa ibhune srimala, yang artinya Bangladesh, Pakistan, India, Bhutan Nepal, Srilangka dan Maladewa. Metode chunking, adalah metode untuk mengingat angka dengan cara mengelompokannya sehingga mudah dihafal.

Sedangkan metode loci adalah metode yang menggunakan simbol atau gambar yang berasosiasi dengan pemahaman. Metode ini mengasosiasikan item-item yang ingin diingat (dihapalkan) dengan tempat atau benda tertentu secara spesifik dan familiar dengan kita. Jadi kita harus memilih tempat yang kita kenal dengan baik. Misalnya, bagian rumah atau kamar. Maka kita dapat mengasosiasikan item-item yang ingin kita ingat dengan benda-benda yang ada di kamar. Dengan membayangkan benda-benda tersebut, maka diharapkan kita mampu mengingat item-item yang sudah diasosiasikan dengan benda-benda tersebut.

(-)Anda ingin anak anda sukses dalam belajar? Bacalah buku menarik ini,
dapatkan di CORDOVA Bookstore Online

Baca entri selengkapnya »

Posted Januari 6, 2010 by downixs in kumpulan makalah

Tagged with ,

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.