Archive for the ‘kumpulan makalah’ Category

Ahlussunnah Wal Jama’ah ( Aswaja )   5 comments

Aswaja

I Pengantar

Telaah terhadap Ahlussunnah Wal Jama’ah ( Aswaja ) sebagai bagaian dari kajian keislaman –merupakan upaya yang mendudukkan aswaja secara proporsional, bukannya semata-mata untuk mempertahankan sebuah aliran atau golongan tertentu yang mungkin secara subyektif kita anggap baik karena rumusan dan konsep pemikiran teologis yang diformulasikan oleh suatu aliran, sangat dipengaruhi oleh suatu problem teologis pada masanya dan mempunyai sifat dan aktualisasinya tertentu.

Pemaksaan suatu aliran tertentu yang pernah berkembang di era tertentu untuk kita yakini, sama halnya dengan aliran teologi sebagai dogma dan sekaligus mensucikan pemikiran keagamaan tertentu. Padahal aliran teologi merupakan fenomena sejarah yang senantiasa membutuhkan interpretasi sesuai dengan konteks zaman yang melingkupinya. Jika hal ini mampu kita antisipasi berarti kita telah memelihara kemerdekaan (hurriyah); yakni kebebasan berfikir (hurriyah al-ra’yi), kebebasan berusaha dan berinisiatif (hurriyah al-irodah) serta kebebasan berkiprah dan beraktivitas (hurriyah al-harokah) (Said Aqil Siradj : 1998).

Berangkat dari pemikiran diatas maka persoalan yang muncul kemudian adalah bagaimana meletakkan aswaja sebagai metologi berfikir (manhaj al-fikr)?.Jika mengharuskan untuk mengadakan sebuah pembaharuan makna atau inpretasi, maka pembaharuan yang bagaimana bisa relevan dengan kepentingan Islam dan Umatnya khususnya dalam intern PMII. Apakah aswaja yang telah dikembangkan selama ini didalam tubuh PMII sudah masuk dalam kategori proporsional? Inilah yang mungkin akan menjadi tulisan dalam tulisan ini.

II Aswaja Dan Perkembangannya

Melacak akar-akar sejarah munculnya istilah ahlul sunnah waljamaah, secara etimologis bahwa aswaja sudah terkenal sejak Rosulullah SAW. Sebagai konfigurasi sejarah, maka secara umum aswaja mengalami perkembangan dengan tiga tahab secara evolutif. Pertama, tahab embrional pemikiran sunni dalam bidang teologi bersifat eklektik, yakni memilih salah satu pendapat yang dianggap paling benar. Pada tahab ini masih merupakan tahab konsolidasi, tokoh yang menjadi penggerak adalah Hasan al-Basri (w.110 H/728 M). Kedua, proses konsolidasi awal mencapai puncaknya setelah Imam al-Syafi’I (w.205 H/820 M) berhasil menetapkan hadist sebagai sumber hukum kedua setelah Al- qur’an dalam konstruksi pemikiran hukum Islam. Pada tahab ini, kajian dan diskusi tentang teologi sunni berlangsung secara intensif. Ketiga, merupakan kristalisasi teologi sunni disatu pihak menolak rasionalisme dogma, di lain pihak menerima metode rasional dalam memahami agama. Proses kristalisasi ini dilakukan oleh tiga tokoh dan sekaligus ditempat yang berbeda pada waktu yang bersamaan, yakni; Abu Hasan al-Asy’ari (w.324 H/935 M)di Mesopotamia, Abu Mansur al-Maturidi (w.331 H/944 M) di Samarkand, Ahmad Bin Ja’far al-Thahawi (w.331 H/944 M) di Mesir. ( Nourouzzaman Shidiqi : 1996). Pada zaman kristalisasi inilah Abu Hasan al-Asy’ari meresmikan sebagai aliran pemikiran yang dikembangkan. Dan munculnya aswaja ini sebagai reaksi teologis-politis terhadap Mu’tazilah, Khowarij dan Syi’ah yang dipandang oleh As’ari sudah keluar dari paham yang semestinya.

Lain dengan para Ulama’ NU di Indonesia menganggap aswaja sebagai upaya pembakuan atau menginstitusikan prinsip-prinsip tawasuth (moderat), tasamuh (toleran) dan tawazzun (seimbang) serta ta’addul (Keadilan). Perkembangan selanjutnya oleh Said Aqil Shiroj dalam mereformulasikan aswaja sebagai metode berfikir (manhaj al-fikr) keagamaan yang mencakup semua aspek kehidupan yang berdasarkan atas dasar modernisasi, menjaga keseimbangan dan toleransi, tidak lain dan tidak bukan adalah dalam rangka memberikan warna baru terhadap cetak biru (blue print) yang sudah mulai tidak menarik lagi dihadapan dunia modern. Dari sinilah PMII menggunakan aswaja sebagai manhaj al fikr dalam landasan gerak. Baca entri selengkapnya »

Posted Januari 6, 2010 by downixs in Education, kumpulan makalah

Tagged with

Sosiologi Olahraga   8 comments

BAB I

PENDAHULUAN

1.Latar belakang

Kajian olahraga terhadap ilmu olahraga diawali dengan keterlibatan sosiologi sebagai salah satu ilmu yang digunakan untuk mengkaji fenomena keolahragaan. Konsep sosiologi dipaparkan sebagai dasar untuk memahami konsep-konsep sosiologi olahraga, khususnya berkaitan dengan proses sosial yang menyebabkan terjadinya dinamika dan perubahan nilai keolahragaan dari waktu ke waktu. Fenomena olahraga mengalami perkembangan begitu pesat sampai kedalam seluruh aspek olahraga. Olahraga tidak hanya dilakukan untuk tujuan kebugaran badan dan kesehatan, tetapi juga menjangkau aspek politik, ekonomi, sosial,dan budaya. Oleh karenanya pemecahan masalah dalam olahraga dilakukan dengan pendekatan inter-disiplin, dan salah satu disiplin ilmu yang dimanfaatkan adalah sosiologi.

Dari sisi pelaku dan proses sosial yang terbentuk, semakin memantapkan keyakinan bahwa olahraga merupakan kegiatan yang kecil dan dilakukan dalam perikehidupan masyarakat, artinya fenomena-fenomena sosial yang terjadi dalam masyarakat telah tercermin dalam aktivitas olahraga dengan terdapatnya nilai, norma, pranata, kelompok, lembaga, peranan, status, dan komunitas.

Sosiologi berupaya mempelajari masyarakat dipandang dari aspek hubungan antar individu atau kelompok secara dinamis, sehingga terjadi perubahan-perubahan sebagai wujud terbentuknya dan terwarisinya tata nilai dan budaya bagi kesejahteraan pelakunya untuk peningkatan harkat dan martabat kemanusiaan secara utuh menyeluruh. Manusia memiliki hasrat bermain dan bergerak sebagai wujud nyata aktualisasi dirinya untuk mengembangkan dan membina potensi yang dimilikinya yang berguna bagi keperluan hidup sehari-hari. Olahraga yang kita lihat pada era sekarang pada hakekatnya merupakan aktivitas gerak fisik yang sudah mengalami pelembagaan formal. Disana terdapat nilai dan norma baku yang bersifat mengikat para pelaku, penyelenggara, dan penikmatnya agar olahraga bisa berlangsung dengan adil, tertib, dan aman.

2.Rumusan masalah

1.Apa pengertian dari ilmu sosiologi olahraga ?

2.Bagaimana kontribusi olahraga dilihat dari ilmu sosiologi olahraga ?

3.Tujuan

1.Mengetahui arti sebenarnya ilmu sosiologi olahraga.

2.Mengetahui kontribusi olahraga dilihat dari sisi ilmu sosiologi olahraga.

BAB II

PEMBAHASAN

A.PENGERTIAN SOSIOLOGI

Secara umum, sosiologi merupakan ilmu yang mempelajari masyarakat dan proses-proses social yang terjadi di dalamnya antar hubungan manusia dengan manusia, secara individu maupun kelompok, baik dalam suasana formal maupun material, baik statis maupun dinamis.

Menurut Selo Soemardjan dan Soelaeman Soemardi, sosiologi diartikan sebagai ilmu masyarakat yang mempelajari struktur sosial dan proses sosial,termasuk perubahan sosial. Struktur sosial adalah keseluruhan jalinan antara unsur-unsur sosial yang pokok yaitu kaidah sosial (norma), lembaga sosial, kelompok serta lapisan sosial. Proses social adalah pengaruh timbale balik antara berbagai segi kehidupan bersama, misalnya pengaruh timbale balik antara kemampuan ekonomi yang tinggi dengan stabilitas politik dan hukum, stabilitas politik dengan budaya, dan sebagainya.

Telaah yang lebih dalam tentang sifat hakiki sosiologi akan menampakkan beberapa karakteristiknya yaitu :

1.Sosiologi adalah ilmu sosial berbeda jika dibandingkan dengan ilmu alam / kerohanian.

2.Sosiologi merupakan disiplin ilmu kategori bukan normatif, artinya bersifat non etis yakni kajian dibatasi pada apa yang terjadi, sehingga tidak ada penilaian dalam proses pemerolehan dan penyusunan teori.

3.Sosiologi merupakan disiplin ilmu pengetahuan murni, bukan ilmu pengetahuan terapan, artinya kajian sosiologi ditujukan untuk membentuk dan mengembangkan ilmu pengetahuan secara abstrak.

4.Sosiologi meupakan ilmu pengetahuan empiris dan rasional artinya didasarkan pada observasi obyektif terhadap kenyataan dengan menggunakan penalaran.

5.Sosiologi bersifat teoritis yaitu berusaha menyusun secara abstrak dari hasil observasi. Abstrak merupakan kerangka unsur yang tersusun secara logis, bertujuan untuk menjelaskan hubungan sebab akibat berbagai fenomena.

6.Sosiologi bersifat komulatif, artinya teori yang tersusun didasarkan pada teori yang mendahuluinya.

Obyek suatu disiplin ilmu dibedakan menjadi obyek material dan obyek formal. Obyek material adalah sesuatu yang menjadi bidang/kawasan kajian ilmu, sedang obyek formal adalah sudut pandang / paradigma yang digunakan dalam mengkaji obyek material.

Sebagai ilmu sosial,obyek material sosiologi adalah masyarakat, sedang obyek formalnya adalah hubungan antar manusia, dan proses yang timbul dari hubungan manusia dalam masyarakat. Konsepsi masyarakat (society) dibatasi oleh unsur – unsur :

  • Manusia yang hidup bersama.
  • Hidup bersama dalam waktu yang relatif lama.
  • Mereka sadar sebagai satu kesatuan.
  • Mereka merupakan suatu sistem hidup bersama yang mampu melahirkan kebudayaan.

Secara khusus, sosiologi merupakan ilmu yang mempelajari masyarakat dipandang dari aspek hubungan antara individu atau kelompok. Hubungan yang terjadi karena adanya proses sosial dilakukan oleh pelaku dengan berbagai karakter, dilakukan melalui lembaga sosial dengan berbagai fungsi dan struktur sosial. Keadaan seperti ini ternyata juga terdapat dalam dunia olahraga sehingga sosiologi dilibatkan untuk mengkaji masalah olahraga.

B.PENGERTIAN SOSIOLOGI OLAHRAGA

Sosiologi olahraga merupakan ilmu terapan, yaitu kajian sosiologis pada masalah keolahragaan. Proses sosial dalam olahraga menghasilkan karakteristik perilaku dalam bersaing dan kerjasama membangun suatu permainan yang dinaungi oleh nilai, norma, dan pranata yang sudah melembaga. Kelompok sosial dalam olahraga mempelajari adanya tipe-tipe perilaku anggotannya dalam mencapai tujuan bersama, kelompok sosial biasanya terwadahi dalam lembaga sosial, yaitu organisasi sosial dan pranata. Beragam pranata yang ada ternyata terkait dengan fenomena olahraga.

C.BIDANG KAJIAN SOSIOLOGI OLAHRAGA

Bidang kajian sosiologi olahraga sangat luas, mengingat hal itu para ahli berupaya mencari batasan bidang kajian yang relevan misalnya:

a.Heizemann menyatakan bagian dari teori sosiologi yang dimasukkan dalam ilmu olahraga meliputi:

  • Sistem sosial yang bersangkutan dengan garis sosial dalam kehidupan bersama, seperti kelompok olahraga, tim, dan klub olahraga lainnya.
  • Masalah figure sosial, seperti figure olahragawan, Pembina, yang berkaitan dengan usia, pendidikan, dan pengalaman.

b.Plessner dalam studi sosiologi olahraga menekankan pentingnya perhatian yang harus diarahkan pada pengembangan olahraga dan kehidupan dalam industri modern dengan mengkaji teori kompensasi.

c.G Magname menguraikan tentang kedudukan olahraga dalam kehidupan sehari-hari, masalah olahraga rekreasi, masalah juara, dan hubungan antara olahraga dengan kebudayaan.

d.John C.Phillips mengkaji tema yang berhubungan dengan olahraga dan kebudayaan, pertumbuhan, dan rasional dalam olahraga.

e.Abdul Kadir Ateng menawarkan pokok kajian sosiologi olahraga yang meliputi pranata sosial, seperti sekolah, dan proses sosial seperti perkembangan status sosial atau prestise dalam kelompok dan masyarakat.

Berikut ini contoh-contoh sosiologi olahraga yang dinyatakan oleh Abdul Kadir Ateng:

  • Pelepasan emosi (dengan cara yang dapat diterima masyarakat).
  • Pembentukan pribadi (mengembangkan identitas diri)
  • Kontrol sosial (penyerasian dan kemampuan prediksi)
  • Sosialisasi (membangun perilaku dan nilai-nilai bersama yang sesuai)
  • Perubahan sosial (interaksi sosial, asimilasi dan mobilitas)
  • Kesadaran (pola tingkah laku yang benar)
  • Keberhasilan (cara pencapaian dengan turut aktif atau sebagai penikmat)

BAB III

KESIMPULAN

Olahraga sebagai suatu aktivitas yang melibatkan banyak pihak telah disikapi secara dinamis dari pemahaman terhadap yang dianggap sebagai aktivitas primitive untuk mempertahankan hidup berubah menjadi proses sosial yang menghasilkan karakteristik perilaku dalam bersaing dan bekerja sama membangun suatu permainan yang dinaungi oleh nilai, norma, dan pranata lembaga.

Kajian sosiologis yang berkaitan dengan kelompok sosial dapat dikenakan pada olahraga berdasarkan pada beberapa hal yakni situasi kondisi dan struktur, serta fungsi kelompok olahraga. Sarat dengan situasi dan kondisi yang kental akan persaingan dan tata aturan yang relative ketat sehingga tercipta rasa senang, santai, dan gembira.

Berangkat dari paparan diatas, bentuk interaksi sosial dapat berupa kerja sama, persaingan dan pertikaian, sehingga membutuhkan penyelesaian sementara waktu, menyadari keterkaitan dan keterikatannya dengan individu lain. Manusia membentuk kelompok sosial untuk memecahkan masalah hidupnya dengan mengunakan pendekatan ilmu sosiologi.

Olahraga telah diapresiasikn sedemikian tinggi sebagai media untuk menunjukkan hegemoni, sehingga untuk menyelenggarakan,dan menciptakan para pelakunya, telah diupayakan berbagai pendekatan dengan melibatkan berbagai disiplin ilmu, yang disebut pendekatan inter-disiplin adalah pendekatan yang didasarkan pada pengetahuan dari ilmu psikologo, sosiologi, anatomo, dan fisiologi. Sedangkan pendekatan cros-disiplin adalah pendekatan yang difokuskan pada ilmu motor learning, psikologi olahraga, dan sosiologi olahraga.

DAFTAR PUSTAKA

SAPTO ADI DAN MU’ARIFIN (2007)“SOSIOLOGI OLAHRAGA”UPT PERPUS UM, MALANG

Posted Januari 6, 2010 by downixs in kumpulan makalah

Tagged with ,

Tugas Perkembangan Remaja   3 comments

BAB II

PEMBAHASAN

TUGAS – TUGAS PERKEMBANGAN REMAJA

DAN PELAKSANAANYA

1.ARTI DAN MAKNA TUGAS – TUGAS PERKEMBANGAN

Pendapat beberapa ahli tentang pengertian perkembangan;

  1. Ahli biologi oleh Drs. H.M.Arifin, M.Ed yaitu suatu perubahan dalam tubuh dan integritasberbagai bagian kedalam kesatuan fungsional (dapat diamati) yang saling berkesinambungan, contoh melihat kelakuan para remaja.
  2. Menurut Doring, langfeld, dan Weld perkembangan dicakup dalam satu kata yaitu”kematangan” yaitu suatu perubahan pisik dan psikis telah mengalami tumbuh dan berkembang pada tingkat tertentu sebagai akibat dari pengaruh mengenai kehidupan organisme, contoh seorang remaja yang dapat berkencan tanpa diajarkan terlebih dahulu.

Aspek pisik yaitu jasmani, kelenjar-kelenjar seks dan otak.

Aspek psikis yaitu perilaku seksual, sikap(perasaan/emosi), minat(cita-cita), pribadi, sosial dan moral.

Beberapa pengertian tugas- tugas perkembangan;

1.Menurut R.J. Havighurst tugas – tugas perkembangan diartikan sebagai tugas yang timbul pada suatu periode atau masa tertentu dalam kehidupan seorang.

2.Tugas-tugas perkembangan adalah petunjuk – petunjuk yang memungkinkan seseorang mengerti dan memahami apa yang diharapkan atau dituntut oleh masyarakat dan lingkungan lain terhadap seseorang dalam usia tertentu.

3. Tugas-tugas perkembangan merupakan petunjuk bagi seseorang tentang apa dan bagaimana yang diharapkan di masa yang akan datang, jika dia kelak telah mencapainya.

2.TUGAS-TUGAS PERKEMBANGAN MANUSIA PADA UMUMNYA

Tugas-tugas perkembangan manusia pada umumnya berbeda dalam tiap masa kehidupan yang dirangkum sebagai berikut :

2.1.Pada masa Bayi dan Kanak-Kanak awal :

  1. Belajar jalan, makan dan mengendalikan buang air kecil dan besar.
  2. Memperoleh keseimbangan psikologi.

  3. Belajar konsep sederhana tentang realita sosial dan realita pisik.

  4. Belajar menjalin hubungan secara emosional antara orang tua, saudara dan orang lain.

  5. Belajar membedakan antara yang benar dan yang salah serta mengembangkan hati nurani.

  6. Belajar membedakan jenis kelamin dan menghargainya.

2.2.Pada masa Kanak-Kanak Akhir :

  1. Belajar tentang ketrampilan pisik dalam permainan yang ringan dan mudah.
  2. Membentuk sikap sehat demi kepentingan pertumbuhan.
  3. bergaul dengan teman seusia.

  4. Belajar menyesuaikan diri.

  5. Mengembangkan kata hati, moral dan ukuran nilai.

  6. Mengembangkan ketrampilan dasar.

2.3.Pada Masa Remaja :

  1. Memperoleh kebebasan secara emosional dari orang tuanya dan orang dewasa lainya.
  2. Memilih dan mempersiapkan diri ke arah suatu pekerjaan.
  3. Menjalin hubungan baru dengan teman sebaya baik sesama jenis maupun lain jenis.

  4. Mengembangkan ketrampilan dan konsep intelektual yang diperlukan sebagai warganegara yang terpuji.

  5. Mempersiapkan diri untuk pernikahan.

  6. Menyusun nilai kata hati yang sesuai dengan gambaran dunia yang diperoleh dari ilmu pengetahuan yang memadai.

2.4.Pada Masa Dewasa Awal :

  1. Mulai bekerja dalam suatu jabatan.

  2. Memilih teman bergaul sebagai calon suami atau istri.

  3. Mulai bertanggung jawab sebagai warganegara secara layak.

  4. Belajar hidup bersama dengan suami dan istri.

  5. Belajar mengasuh anak-anak.

  6. Mulai hidup berkeluarga dan mengelola berumah tangga.

2.5.Pada Masa Setengah Baya :

  1. Menetapkan dan memelihara suatu standar kehidupan ekonomi bagi kehidupannya.

  2. Membantu anak-anak remajanya untuk menjadi orang dewasa yang bertanggung jawab dan bahagia.

  3. Mengembangkan kegiatan pengisi waktu luang yang sesuai dengan umur.

2.6.Pada Masa Tua :

  1. Menyesuaikan diri dalam masa pensiun dan pendapatan berkurang.

  2. Memperbanyak beribadah kepada Tuhan YME.

  3. Menyiapkan dan menyesuaikan diri dalam keadaan meninggalnya suami atau istrinya.

3.TUGAS-TUGAS PERKEMBANGAN REMAJA PADAM UMUMNYA

Menurut Karl C.Garrison ada 6 kelompok pembagian tugas perkembangan yang berbeda yaitu :

  1. Menerima Keadaan Jasmani

Para remaja diharapkan dapat menerima keadaan diri sebagaimana adanya keadaan diri mereka sendiri; bukan khayalan dan impian.Diharapkan mereka memanfaatkan dan memelihara secara efektif.

  1. Memperoleh Hubungan Baru dan Lebih Matang dengan Teman Sebaya Antara Dua Jenis Kelamin

Akibat adanya kematangan organ reproduksi memang diharapkan remaja dapat mencari dapat memperoleh teman baru dan menjadi matang berhubungan dengan teman sebaya lawan jenis dalam kelompok mereka.buruknya dari pergaulan tersebut mereka yang tidak diterima oleh kelompok lain membuat kelompok sendiri yang dikenal sebagai “gnag”.

  1. Memperoleh Kebebasan Emosional dari Orang Tua

Tindakan masa kecil diharapkan dihilangkan sebab pentingnya kebebasan emosi ini dapat memupuk mentalitas dalam menyelesaikan setiap masalah dan dapat bertanggung jawab sendiri terhadap setiap langkah pilihannya yang ditempuh.

  1. Mendapatkan Perangkat Nilai Hidup dan Filsafah Hidup

Remaja sangat tertarik pada persoalan yang menyangkut kehidupan dan falsafah hidup, serta soal kaegamaan.Mereka tertarik pada tujuan hidup, memusatkan perhatian pada standar perilaku pada diri, keluarga dan orang lain.Sehingga dapat menuntun dan mewarnai berbagai aspek kehidupannya dalam masa dewasa dan selanjutnya(berguna sebagai kendali atau kemudi dalam kehidupan).

  1. Memiliki Citra-diri yang realistis

Remaja diharapkan memiliki gambaran diri secara realistis, tidak lagi atas dasar hayal (fantasi) tentang gambaran yang muluk-muluk seperti apa yang seringkali mereka pikirkan dan alami dalam masa pubertas atau masa kanak-kanak.

Baca entri selengkapnya »

Posted Januari 6, 2010 by downixs in kumpulan makalah

Tagged with ,

Strategi Pembelajaran Mahasiswa   1 comment

BAB I

PENDAHULUAN

Latar belakang

Gejala dalam hidup manusia yang disebut sukses tampaknya amat menarik untuk dipelajari. Sebab dengan memahami berbagai segi tentang sukses, seorang bertambah pengetahuannya, dapat tergugah hasratnya untuk berusaha meraih sukses, lebih luas kesadaranya terhadap perjuangan mencapai sukses, dan mungkin lebih besar kemungkinan suksesnya pula dalam semua kegiatan. Sukses ialah Pencapaian yang berangsur-angsur meningkat terhadap suatu tujuan atau cita-cita yang berharga.

Hasrat untuk belajar dengan cara yang baik hanyalah tumbuh dalam diri seseorang mahasiswa kalau ia menginsafi pentingnya kecakapan itu. Dengan cara belajar yang baik, pelajaran akan dapat mudah dikuasai sepenuhnya. Dengan menguasai pelajaran secara sempurna, ujian akan dapat ditempuh dengan berhasil. Waktu dan kebiasaan yang baik dalam belajar, demikian pula sekedar uang yang diperlukan untuk membeli suatu barang yang memungkinkan seorang mahasiswa dapat belajar dengan lebih baik. Tidaklah ada artinya kalau dibandingkan dengan hasil yang akan diperoleh. Bahkan menurut Sutan Sjahrir dalam bukunya Renungan Indonesia, belajar dengan cara yang baik akan membentuk watak yang baik pula.

Kalau seorang mahasiswa sampai tidak berhasil dalam usaha belajarnya di Perguruan Tinggi karena tidak mempunyai cara belajar yang efektif dan efisien, maka akan lebih banyak lagi waktu, tenaga dan uang yang terbuang percuma dengan sia-sia. Lebih pahit lagi, kegagalan itu akan selalu nampak dan merupakan kenang-kenangan yang tidak mengembirakan. Sebaliknya hasil dari usaha yang sukses bukan saja berupa ijazah, pengetahuan dan pengakuan masyarakat kepadanya sebagai seorang sarjana, melainkan juga berupa perasaan puas terhadap diri sendiri karena telah dapat mengatasi semua tantangan dan kesukaran di Perguruan Tinggi. Perasaan puas yang tidak ternilai harganya ini tidak dapat dibeli dengan Kekayaan berapapun besarnya.

Rumusan masalah

1.Apa yang menjadi kesulitan seorang mahasiswa malas belajar ?

2. Bagaimana metode belajar yang efektif dan efisien ?

Tujuan masalah

1.Mahasiswa mengerti kesulitan yang selama ini menghambat dalam proses belajar.

2.Mahasiswa mengetahui metode cara belajar yang baik sehingga sukses dalam perkuliahan

BAB II

PEMBAHASAN

1.A.Teori belajar

Para ahli belajar berusaha dengan sungguh-sungguh untuk menjelaskan tentang bagaimana manusia belajar, sedang guru dalam menjalankan tugasnya selalu memikirkan tentang bagaimana mempengaruhi anak belajar. Jadi guru sering lebih mementingkan prosedur dari pada penjelasannya. Namun telah menunjukkan kegagalan dalam mengakui hubungan antara teori dan penerapannya. Menurut Hilgard (1964) ada enam langkah yang akan ditempuh, mulai dari penelitian murni ke pengembangan teknologi instruksional dan penerapan dalam belajar. Tanpa memperhatikan sikap terhadap teori belajar, para guru melakukan tugas mengajarnya selalu didasarkan pada teori. Sebagai contoh, guru yang sedang merangsang siswa untuk berkosentrasi pada ‘merasakan gerakannya’ yang sedang dilakukan, maka guru telah menerapkan salah satu teori belajar motorik, dengan atau tanpa sepengetahuannya. Kalau diteliti manfaat dari penerapan teori ini, maka teori ini bukanlah merupakan teori yang terbaik, yang dapat berlaku untuk semua situasi. Salah satu tujuan dari mempelajari teori belajar adalah agar mengacu kita untuk menguji konsep-konsep teoritis yang ada, yang akan dapat dipakai sebagai landasan dalam keyakinan dan praktek para guru atau pelatih.

B.Belajar dan penampilan.

Perbedaan antar belajar dan penampilan (learning and performance) adalah belajar terjadi dalam diri individu dan karena itu tidak dapat diamati secara langsung. Apa yang dimaksudkan dengan ‘ telah melihat seseorang belajar’ adalah kita telah melihat perubahan dalam perilaku. Jika kita menduga telah terjadi belajar apabila kita melihat telah terjadi suatu peningkatan dalam tingkat penampilan dalam jangka waktu tertentu. Penampilan motorik (motor performance) dalam hubungannya dengan belajar dalam arti yang lebih luas adalah suatu ekspresi sementara dari perilaku keterampilan motorik . Keahlian (proficiency) adalah tingkat penampilan pada titik dan waktu tertentu. Hal ini terjadi berdasarkan fakta bahwa perkembangan keahlian dari hari ke hari dipengaruhi oleh beberapa kondisi sementara, termasuk fluktuasi fisiologis dan motivasi.

C.Masalah-masalah mengenai belajar

Rintangan dan masalah yang banyak dihadapi oleh mahasiswa selain menyangkut macam-macam hal seperti kesehatan jasmani, keadaan keuangan atau kesulitan rumah tangga juga mengenai persoalan cara belajar. Penelitian oleh C.C. Wrenn dan Reginald Bell mengenai masalah pokok mahasiswa di perguruan tinggi ada 7 hal sebagai berikut:

  1. Kesukaran dalam mengatur pemakaian waktu belajar.
  2. Ketidaktahuan mengenai ukuran-ukuran baku yang harus dipenuhi dalam pelaksanaan tugas-tugas.
  3. Kebiasaan-kebiasaan membaca yang lambat.
  1. Kekurangan buku pelajaran, Buku bahasa asing.
  2. Cara dan sistem mengajar dari para dosen.
  3. Pergantian peraturan
  4. Kepergian dosen

Gugusan masalah yang ternyata paling banyak mendapat perhatian mahasiswa adalah mengenai ‘Penyesuaian terhadap tugas-tugas diperguruan tinggi’ dan kesukaran yang paling banyak dialami mahasiswa adalah:

  1. Tidak tahu bagaimana cara belajar yang efektif dan efisien.
  2. Tidak dapat memusatkan perhatian dengan baik.

Kesulitan tersebut diatas menurut pandangan mahasiswa sendiri dan sebagian tidak termasuk dalam lingkungan cara belajar. Tetapi hal ini merupakan masalah transisi dari SMA ke Perguruan Tinggi / Universitas. Mengenai kekurangan yang dirasakan pada lulusan SMA oleh para dosen dikemukakan 8 hal sebagai berikut:

1.Bahan pelajaran di SMA.

2.Cara belajar di SMA.

3.Cara mengajar di SMA.

4.Pengaruh dari luar misalnya keadaan ekonomi, pemondokan atau keluarga.

5.Guru SMA.

6.Pribadi murid SMA.

7.Bentuk SMA.

8.Kekurangan ujian penghabisan SMA. Baca entri selengkapnya »

Posted Januari 6, 2010 by downixs in kumpulan makalah

Tagged with ,

Dasar-Dasar Guru Pendidikan Jasmani   Leave a comment

DASAR-DASAR PENJAS

1.Arti olahraga secara akademis yaitu suatu gerak badan untuk memelihara dan meningkatkan kemampuan gerak,serta dapat mendukung setiap aktivitas dalam kehidupan sehari-hari yang bersifat rutin.sehingga dapat menyehatkan badan maupun untuk keperluan rekreasi (REFLESING).

Ciri-ciri olahraga;

  • Memiliki aturan yang jelas (ROLE OF THE GAME).
  • Persaingan yang kompetitif (bernuansa perlombaan/pertandingan).
  • Even akbar (ada panitia penyelenggara,penonton dan wasit).
  • Memiliki peraturan yang baku/standar/resmi.
  • Sesuai dengan hakekat olahraga.
  • Otoritas (di akui oleh lembaga terkait contoh KONI-IOC).

2.Pengertian olahraga menurut hukum dari berbagai sumber :

Keolahragaan yaitu segala aspek yang berkaitan dengan olahraga yang memerlukan pengaturan, pendidikan, pelatihan, pembinaan, pengembangan,dan pengawasan.

Keolahragaan nasional yaitu keolahragaan yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang berakar pada nilai-nilai keolahragaan, kebudayaan nasional Indonesia, dan tanggap terhadap tuntutan perkembangan olahraga. Baca entri selengkapnya »

Posted Januari 6, 2010 by downixs in kumpulan makalah

Tagged with ,

Revolusi Belajar dalam Pembelajaran   Leave a comment

Revolusi Belajar dalam Pembelajaran

Jika kita melihat suatu permainan yang baru, besar kemungkinan kita akan menganggap permainan itu sulit. Tetapi setelah kita mengetahui cara atau teknik permainan tersebut, tentu kita akan menganggap permainan itu mudah, bahkan mungkin akan sangat menggemarinya.

Sebenarnya demikian juga dengan belajar. Ketika kita telah memahami cara belajar yang benar maka belajar menjadi sebuah kegiatan yang sangat menyenangkan bagi siapapun. Sementara sebagai guru, kita seringkali mendapati siswa yang mengeluh karena kesulitan dalam belajar atau bahkan tidak menyenangi kegiatan belajar.

Tak sedikit siswa menganggap belajar sebagai sebuah beban atau momok. Jika sudah demikian, siswa akan terus mengalami kesulitan untuk menerima pelajaran apapun. Maka potensi besar yang ada dalam diri setiap siswa pun tidak tergali secara maksimal.

Mengajarkan cara belajar agar dapat menggali potensi yang ada sebenarnya merupakan bagian dari revolusi belajar.  Saat ini revolusi belajar telah banyak diterapkan di berbagai tingkatan sekolah terutama pada beberapa sekolah unggulan dan bimbingan belajar. Revolusi belajar sendiri dapat diartikan suatu kegiatan belajar yang memanfaatkan serta menyelaraskan cara kerja otak kiri dan kanan.  Karena sebenarnya konsep revolusi belajar didasarkan pada fungsi dan struktur otak manusia,  yang terdiri dari belahan kiri dan kanan atau disebut otak kiri dan otak kanan.

Di dalam bukunya yang berjudul Revolusi Belajar untuk Anak, Bob samples (2002) melontarkan gagasan menakjubkan tentang : (1) Fungsi otak-pikiran sebagai sistem terbuka;  (2) Modalitas, kecerdasan, gaya, dan kreatifitas dalam belajar, serta cara-cara mengembangkannya: (3) Pemanfaatan musik, suara, relaksasi, gambar, humor, dan mimpi untuk membangun suasana bermain dan belajar secara efektif serta mengasyikkan dengan anak-anak, tanpa mengurangi hakikat pembelajaran; (4) Aktivitas, kiat, dan saran yang mudah dilakukan untuk mengembangkan kemampuan belajar dan mengakses informasi melalui seluruh modalitas belajar yang kita miliki.

Adapun revolusi belajar yang dapat dilakukan meliputi : bagaimana cara membaca, cara menghapal, serta bagaimana cara berpikir kreatif. Salah satu metode membaca yang baik adalah dengan menggunak metode SQ3R: survey (meninjau), question (bertanya), read

(membaca), recite (menuturkan) , dan review (mengulang).

Disamping itu perlu juga memperhatikan tipe modalitas belajar dari masing-masing siswa. Secara umum tipe modalitas belajar dapat dibagi menjadi tiga  yakni : visual, auditorial dan kinestetik. Seorang guru hendaklah memperhatikan aspek modalitas belajar para siswanya. Artinya seorang guru harus mempu memfasilitasi semua tipe modalitas belajar dari para siswanya. Bukan sebaliknya, hanya memperhatikan hanya salah satu tipe modalitas belajar saja.

Modalitas belajar adalah kemampuan potensial yang dimiliki seseorang dalam menyerap segala macam pelajaran atau pengetahuan. Siswa yang memiliki tipe belajar visual akan lebih cepat menangkap pelajaran berupa gambar atau grafik.  Tipe modalitas belajar auditorial biasanya mudah menangkap materi pelajaran jika melalui suara. Sedangkan tipe belajar kinestetis adalah tipe belajar yang lebih cenderung pada kegiatan melakukan praktek secara langsung.

Cara mencatat yang baik adalah dengan memggunakan metode Cornell dan Mind map. Mencatat dengan metode Cornell, yaitu dengan membagi dua kolom pada buku catatan kita. Kolom yang lebih kecil digunakan untuk mencatat hal-hal yang sifatnya khusus, seperti bagian materi yang sulit atau mencatat rumus-rumus penting.

Sedangkan metode Mind map adalah sebuah cara mencatat yang kreatif, efektif, dan mampu memetakan pikiran yang ada dalam diri kita. Mind map sebenarnya merupakan suatu sistem grafis yang melibatkan seluruh potensi otak kiri dan otak kanan. Mind map sangat berguna untuk membuka potensi otak yang masih tersembunyi dalam suatu proses berpikir.

Untuk mengingat, bisa digunakan metode  loci, assosiasi dan chunking. Ketiga metode ini bisa meningkatkan daya ingat karena memaksimalkan kerja otak kanan. Contoh metode asosiasi adalah mengambil suku kata yang mudah diingat. Misalnya, untuk mengingat negara-negara yang ada di Asia Selatan, bisa dibuat kalimat bapa ibhune srimala, yang artinya Bangladesh, Pakistan, India, Bhutan Nepal, Srilangka dan Maladewa. Metode chunking, adalah metode untuk mengingat angka dengan cara mengelompokannya sehingga mudah dihafal.

Sedangkan metode loci adalah metode yang menggunakan simbol atau gambar yang berasosiasi dengan pemahaman. Metode ini mengasosiasikan item-item yang ingin diingat (dihapalkan) dengan tempat atau benda tertentu secara spesifik dan familiar dengan kita. Jadi kita harus memilih tempat yang kita kenal dengan baik. Misalnya, bagian rumah atau kamar. Maka kita dapat mengasosiasikan item-item yang ingin kita ingat dengan benda-benda yang ada di kamar. Dengan membayangkan benda-benda tersebut, maka diharapkan kita mampu mengingat item-item yang sudah diasosiasikan dengan benda-benda tersebut.

(-)Anda ingin anak anda sukses dalam belajar? Bacalah buku menarik ini,
dapatkan di CORDOVA Bookstore Online

Baca entri selengkapnya »

Posted Januari 6, 2010 by downixs in kumpulan makalah

Tagged with ,

Preses Penilaian   1 comment

EVALUASI HASIL BELAJAR

BAB – I

PENDAHULUAN

1. Umum.

a. Kegiatan Evaluasi Hasil Belajar merupakan salah satu upaya pencapaian tujuan pendidikan karena hasil evaluasi ini merupakan indicator dari keberhasilan pencapaian tujuan pendidikan baik secara parsiil maupun dari keseluruhan proses belajar mengajar yang dapat digunakan sebagai bahan therapy kegagalan belajar.

b. Evaluasi hasil belajar merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari usaha-usaha pendidikan secara keseluruhan termasuk untuk mengukur tingkat efisiensi dan efektifitas dari segenap aspek kurikulum pendidikan yang meliputi penentuan bahan ajaran, kualitas dan kuantitas alat instruksi, metoda mengajar, bimbingan dan pengasuhan dengan menggunakan waktu dan kualitas serta kuantitas tenaga pendidik yang tersedia.

c. Kegiatan evaluasi hasil belajar pada hakekatnya adalah kegiatan pengukuran dan penilaian terhadap perkembangan peserta didik sebagai hasil dari proses belajar mengajar. Dan dengan terbatasnya waktu yang tersedia untuk setiap mata pelajaran dalam menyelenggarakan suatu pendidikan, maka perlu adanya penyesuaian penggunaan metoda evaluasi hasil belajar yang praktis dan sistematis.

2. Maksud dan tujuan.

a. Maksud. Evaluasi hasil belajar ini dimaksudkan sebagai pedoman umum untuk mencapai keseragaman dalam penggunaan evaluasi hasil belajar yang berdaya guna dan tepat guna agar tercapai tujuan pendidikan.

b. Tujuan. Evaluasi hasil belajar ini bertujuan untuk mencapai hasil didik yang sebaik-baiknya dalam suatu proses belajar mengajar.

3. Ruang Lingkup dan Tata Urut. Naskah ini meliputi penjelasan tentang pokok-pokok evaluasi hasil belajar, evaluasi aspek jasmani peserta didik sebagai hasil proses belajar mengajar. Disusun dengan tata urut sebagai berikut :

  1. Pendahuluan.
  2. Pokok-pokok evaluasi hasil belajar.
  3. Penentuan nilai perkembangan peserta didik.
  4. Evaluasi akhir pelajaran.
  5. Penutup.

4. Pengertian-Pengertian. Lihat Lampiran A.

BAB II

POKOK-POKOK EVALUASI HASIL BELAJAR

5. Umum. Pokok-pokok evaluasi hasil belajar terdiri dari tujuan, fungsi, obyek, cirri-ciri dan tahap-tahap kegiatan evaluasi perkembangan peserta didik yang meliputi aspek-aspek penilaian yaitu aspek sikap dan perilaku, aspek pengetahuan dan keterampilan serta aspek jasmani.

6. Tujuan Evaluasi Hasil Belajar. Tujuan evaluasi hasil belajar adalah mengukur tingkat keberhasilan pencapaian tujuan pendidikan setiap Peserta didik yang memiliki aspek sikap dan perilaku , aspek pengetahuan dan aspek ketrampilan serta aspek jasmani.

7. Fungsi Evaluasi Hasil Belajar. Fungsi evaluasi hasil belajar untuk mengetahui tingkat kemampuan peserta didik yang dapat digunakan dalam :

a. Therapi bagi peserta didik yang mengalami kegagalan belajar.

b. Menentukan keberhasilan (lulus/tidak lulus).

c. Menentukan klasisifikasi dan reklasifikasi personel.

d. Perbaikan penyelenggaraan proses pendidikan (umpan balik).

8. Obyek dan Ciri Alat Evaluasi Hasil Belajar yang baik.

a. Perkembangan sikap dan perilaku.

b. Perkembangan pengetahuan dan ketrampilan.

c. Perkembangan jasmani.

9. Ciri-ciri alat evaluasi hasil belajar yang baik. Ciri-ciri alat evaluasi hasil belajar yang baik adalah :

a. Valid. Alat evaluasi hasil belajar yang valid adalah yang dapat mengukur apa yang seharusnya diukur, setiap kegiatan evaluasi hasil belajar ditujukan untuk memperoleh gambaran yang seharusnya tentang kemampuan Peserta didik dalam hasil proses belajar mengajar.

b. Obyektif. Alat evaluasi hasil belajar yang obyektif adalah alat evaluasi hasil belajar yang dapat memberikan gambaran yang benar tentang sesuatu yang dievaluasikan.

c. Reliabel. Alat evaluasi hasil belajar yang realibel adalah alat evaluasi hasil belajar yang stabil dan dapat dipercaya dimana apabila digunakan berulang-ulang akan menunjukan hasil yang relatif sama.

d. Mempunyai kemampuan membanding . Alat evaluasi hasil belajar yang mempunyai kemampuan membanding adalah alat evaluasi hasil belajar yang dapat mem-bedakan tingkat intensitas belajar antara Peserta didik yang satu dengan lainnya dan antara yang pandai dengan Peserta didik yang kurang pandai.

e. Memenuhi kemampuan sampling. Alat evaluasi hasil belajar yang memenuhi kriteria sampling adalah alat evaluasi hasil belajar yang memuat persoalan-persoalan yang mewakili setiap bagian materi pelajaran secara sistimatis dan merata.

f. Sesuai dengan tingkat belajar peserta didik. Alat evaluasi hasil belajar yang sesuai dengan tingkat berfikir Peserta didik adalah alat evaluasi hasil belajar yang menggunakan bahasa peristilahan sesuai dengan taraf berfikir Peserta didik. Hendaklah dihindari adanya alat evaluasi hasil belajar yang tidak dapat dikerjakan oleh peserta didik hanya dikarenakan tidak dimengertinya maksud bahasa dan peristilahan yang digunakan.

10. Tahap-Tahap Kegiatan Evaluasi. Tahap-tahap kegiatan evaluasi perkembangan Peserta didik dalam proses belajar mengajar terdiri dari : pre tes, tes selama proses belajar mengajar dan tes akhir meliputi aspek-aspek penilaian yaitu aspek sikap dan perilaku, aspek pengetahuan dan ketrampilan dan aspek jasmani, sebagai berikut :

a. Tes awal. Yang dimaksud dengan tes awal adalah usaha untuk mengukur tingkat kemampuan Peserta didik pada awal memasuki pendidikan dari seluruh aspek penilaian yang meliputi aspek-aspek sikap dan perilaku, pengetahuan dan ketrampilan serta jasmani.

1) Tujuan tes awal.

a. Bahan untuk pengelompokan peserta didik dalam kelompok-kelompok belajar.

b. Bahan untuk penentuan kegiatan binbingan dan pengasuhan.

2) Tes awal aspek sikap dan perilaku. Tes awal aspek sikap dan perilaku dilaksanakan hanya apabila diperlukan bagi kepentingan lembaga khususnya untuk mengetahui motivasi Peserta didik dalam mengikuti pendidikan yang bersangkutan. Tes dilaksanakan melalui penyiapan cekhlis isian yang disusun oleh lembaga sesuai kebutuhan, selanjutnya hasil tes digunakan sebagai data peserta didik dalam aspek sikap dan perilaku . Bagi pendidikan yang tidak melaksanakan pre tes aspek sikap dan perilaku , data sikap dan perilaku awal peserta didik diambilkan dari data yang dibawa sebagai persyaratan administrasi awal, khususnya tentang data sikap dan perilaku seperti : Hasil psikotes, daftar penilaian dari satuan pengirim dan lain-lain.

3) Tes awal aspek pengetahuan dan ketrampilan. Tes awal aspek pengetahuan dan ketrampilan atau lebih dikenal dengan istilah diagnostik I dilaksanakan untuk mengetahui apakan calon Pserta didik sudah mengetahui pengetahuan dasar yang dipersyaratkan dalam menerima pengetahuan dari berbagai pelajaran yang akan didapat dari pendidikan yang bersangkutan. Bentuk tes awal aspek pengetahuan dan ketrampilan menggunakan tehnik tes dengan berbagai bentuk baik tes obyektif maupun tes subyektif sesuai dengan kebutuhan, jenis pendidikan serta tingkat intelektualitas Peserta didik.

4) Tes awal aspek Jasmani. Tes awal aspek jasmani dilakukan sebagai bahan input jasmani peserta didik berupa tes kesegaran jasmani. Pelaksanaannya didahului dengan pemeriksaan kesehatan yang diperlukan untuk mengikuti tes kesegaran jasmani selanjutnya bentuk tes berupa tes kesegaran A dan tes kesegaran B sesuai petunjuk penyelenggaraan tes kesegaran jasmani yang diberlakukan.

b. Tes selama proses belajar mengajar. Yang dimaksud dengan tes selama proses belajar mengajar tes yang dilakukan untuk mengukur pencapaian tujuan pendidikan pada tahapan tujuan instruksional umum (TIU) maupun tujuan instruksional khusus (TIK).

1) Tujuan.

a) Untuk mengetahui perkembangan kemajuan belajar Peserta didik.

b) Untuk mengetahui kesulitan Peserta didik dalam menerima pelajaran.

2) Tes aspek sikap dan perilaku. Evaluasi aspek sikap dan perilaku selama proses belajar mengajar dilaksanakan dengan tehnik tes mata pelajaran dalam subyek Bin Kejuangan dan Kepribadian serta menggunakan tehnik non tes yaitu berupa : Observasi dan wawancara.

3) Tes aspek pengetahuan dan keterampilan. Tes selama proses belajar mengajar pada aspek pengetahuan dan keterampilan, dilakukan dengan :

a) Tes formatif yaitu tes yang dilakukan untuk mengetahui sejauh mana Peserta didik telah terbentuk setelah mengikuti suatu progaram tertentu.

Dalam pelaksanaanya tes formatif menggunakan semua bentuk tes yang diberlakukan dalam evaluasi aspek pengetahuan dan ketrampilan, hasilnya secara komuilatif akan diperhitungkan bersama tes-tes lainnya baik tes diagnostik maupun tes akhir.

b) Tes disgnostik yaitu tes yang digunakan untuk mengetahui kelemahan-kelemahan tersebut dapat dilakukan pemberian perlakuan yang tepat. Tes diagnostik diperlukan apabila terjadi kesulitan belajar diantara peserta didik hasil tes tersebut akan digunakan untuk mengetahui penyebab dan mencari therapi penyembuhan. Tes diagnostik ini apabila dilaksanakan nilaianya secara komulatif digabungkan beserta nilai-nilai tes lainnya yang hasil akhirnya merupakan prestasi Peserta didik dalam mata pelajaran tersebut.

4) Tes aspek Jasmani. Tes selama proses belajar dalam aspek jasmani dilaksanakan dengan tehnik tes mata pelajaran ketangkasan jasmani yang terdapat dalam subyek Bin jasmnai yang hasilnya secara komulatif akan diperhitungkan bersama tes kesegaran jasmani dan tes evaluasi fisik pada tes akhir

c. Tes Akhir. Yang dimaksud dengan tes akhir atau dikenal dengan istilah tes sumatif, adalah tes yang dilakukan setelah program setiap bidang studi atau setiap kegiatan kurikuler selesai dilaksanakan seluruhnya.

1) Tujuan.

a) Untuk mengukur pencapaian tujuan kurikuler .

b) Daftar dalam penghitungan pencapaian prestasi setiap Peserta didik.

2) Tes akhir aspek sikap dan perilaku. Evaluasi aspek sikap dan perilaku menggunakan tehnik non tes yaitu berupa : observasi dan wawancara yang hasil/nilainya digabung dengan teknik tes terhadap hasil/nilai prestasi materi pelajaran (bila ada) yang terpadat pada subyek Bin Kejuangan dan Kepribadian dalam RPP Kurikulum.

3) Tes akhir aspek pengetahuan dan ketrampilan. Evaluasi aspek pengetahuan dan ketrampilan atau dikenal dengan istilah tes sumatif, merupakan tes yang mutlak dilaksanakan dalam rangka evaluasi aspek pengetahuan dan ketrampilan setelah kegiatan program pengajaran dari suatu mata pelajaran selesai dilaksanakan. Hasil/nilai tes akhir ini digabungkan dengan nilai tes lainnya untuk satu mata pelajaran dengan menggunakan rumus :

N MP = NTf + NTd + NTs

n

N MP = Nilai prestasi dalam MP tertentu.

NTf = Nilai tes formatif (apabila ada).

NTd = Nilai tes diagnostik. (apabila ada).

NTs = Nilai tes sumatif.

n = Jumlah banyaknya tes yang dilaksanakan.

3) Tes akhir aspek jasmani. Tes akhir aspek jasmani merupakan kegiatan dalam evaluasi aspek jasmani meliputi tes kesegaran dan tes evaluasi fisik dengan didahului oleh observasi terhadap postur tubuh, yang pelaksanaannya sebagai berikut :

a) Kesegaran, dengan tes kesegaran A dan Tes kesegaran B.

b) Evaluasi fisik dengan tes ketangkasan pada setiap jenis ketangkasan jasmani yang ditentukan, sesuai dengan jenis dan macam pendidikannya, meliputi : Berenang, Lintas Medan, Halang Rintang, Ketahanan Mars dan Kecepatan Mars.

11. Evaluasi aspek dan perilaku. Tujuan evaluasi aspek sikap dan perilaku adalah untuk mengukur tingkat keberhasilan pencapaian tujuan pendidikan dibidang sikap dan perilaku.

12. Unsur-unsur yang di evaluasi aspek sikap dan perilaku

a. Bentuk non tes, yaitu :

1) Mental spiritual, terdiri dari :

a) Ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

b) Kejujuran.

c) Penguasaan diri.

d) Toleransi sosial dalam kehidupan beragama.

2) Mental Idiologi, terdiri dari :

a) Keyakinan dan pengalaman terhadap Pancasila dan UUD 1945.

b) Rasa persatuan dan kesatuan bangsa.

3) Mental keprajuritan, terdiri dari :

a) Disiplin.

b) Ketabahan dan keuletan.

c) Keberanian.

d) Rasa Tanggung Jawab.

e) Percaya kepada diri sendiri.

f) Kemampuan menyelesaikan tugas.

g) Inisiatif.

h) Loyalitas trimarga.

i) Kemampuan menyatakan kehendak.

j) Keterbukaan.

k) Kewibawaan.

l) Kemampuan kerja sama

m) Kemampuan mengambil keputusan.

n) Kemampuan merencanakan.

o) Kemampuan meyesuaiakan diri.

p) Kemampuan mengembangkan diri.

q) Kemampuian berorganisasi.

b. Bentuk tes yaitu materi pelajaran yang terpadat pada subyek Bin Kejuangan dan Kepribadian dalam RPP Kurikulum pendidikan yang bersangkutan.

13. Tehnik dan alat yang digunakan :

a. Bentuk non tes.

1) Tehnik. Tehnik evaluasi yang digunakan dalam mengevaluasi aspek sikap dan perilaku berupa tehnik non tes, yaitu :

a) Observasi

(1) Observasi dilakukan selama dalam proses belajar mengajar, termasuk pada saat kritis seperti tes jasmani , latihan, kegiatan non kurikulum dan lain-lain.

(2) Observasi dilakukan oleh segenap personel lemdik yang tugas atau jabatannya berhubungan langsung dengan peserta didik, sehingga memungkinkan untuk melakukan observasi.Yang termasuk katagori ini adalah :

(a) Komandan-komandan Satuan Pendidikan.

(b) Tenaga Pendidik.

(c) Para pembimbing/pengasuh Peserta didik.

b) Wawancara.

(1) Wawancara dilakukan untuk melengkapi data evaluasi sikap dan perilkau yang telah dilakukan dengan observasi.

(2) Wawancara dilakukan terutama oleh Komandan Satuan Pendidikan.

2) Alat. Alat yang digunakan dalam mengevaluasi aspek sikap dan perilaku adalah :

a) Observasi menggunakan cekhlist observasi.

b) Wawancara menggunakan pedoman wawancara.

b. Bentuk tes yaitu teknik dan alat yang digunakan sama dengan teknik dan alat pada aspek pengetahuan dan keterampilan.

14. Tata cara pelaksanaan.

a. Pelaksanaan evaluasi.

1) Bentuk non tes. Evaluasi sikap dan perilaku dilaksanakan secara periodik setiap bulan dan didokumentasikan di staf yang terkait dengan pengajaran, dengan tujuan untuk kepentingan therapi dan menjamin obyektifitas penilaian.

2) Bentuk tes. Evaluasi sikap dan perilaku dilaksanakan setelah satu mata pelajaran yang terdapat dalam subyek Bin Kejuangan dan Kepribadian pada RPP Kurikulum selesai diajarkan.

b. Pembobotan.

1) Bentuk non tes.

a) Pembobotan dibedakan untuk setiap jenis pendidikan

b) Pembobotan ditentukan sebagai berikut :

NOMOR URUT UNSUR PENILAIAN BOBOT
DIK GOL PA DIK GOL BA
1 2 3 4
1. Mental Spiritual
  1. Ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
  2. Kejujuran
  3. Penguasaan diri
  4. Toleransi sosial dalam kehidupan beragama
50

50

45

35

50

50

45

35

2. Mental Ideologi
  1. Keyakinan dan Pengamalan terhadap Pancasila dan UUD 45.
  2. Rasa Persatuan dan Kesatuan Bangsa
50

50

50

50

3. Mental Keprajuritan
  1. Disiplin
  2. Ketabahan dan keuletan
  3. Keberanian
  4. Rasa Tanggung Jawab
  5. Percaya pada diri sendiri
  6. Kemampuan menyelesaikan tugas
  7. Inisiatif
  8. Loyalitas Tri Marga
  9. Kemampuan menyatakan kehendak
  10. Keterbukaan
  11. Kewibawaan
  12. Kemampuan kerja sama
  13. Kemampuan mengambil keputusan
  14. Kemampuan merencanakan
  15. Kemampuan menyesuaikan diri
  16. Kemampuanemengembangkan diri
  17. Kemampuan berorganisasi
50

45

45

45

45

45

45

45

35

45

45

35

45

35

45

40

40

50

50

40

45

50

40

50

50

40

35

35

40

35

40

40

35

35

Jumlah 1000 1000

c) Kriteria penilaian untuk setiap unsur penilaian dari aspek sikap dan perilaku dapat dilihat pada lampiran “B”.

2) Bentuk tes.

a) Pembobotan nilai dari materi pelajaran (apabila ada yang terdapat dalam subyek Bin Kejuangan dan Kepribadian pada RPP Kurikulum, dengan menggunakan rumus :

Bobot Mata Pelajaran = JJP X B X 1000

(5 X JM) + (3 X JP) + (2 X JF)

Keterangan :

JJP = Jumlah Jam Pelajaran (sesuai bobot MP yang dicari)

B = Bobot sesuai katagori (sesuai bobot katagori MP yang cari, Mutlak : 5, Penting : 3, Faedah : 2)

JM = Jumlah jam pelajaran katagori mutlak

JP = Jumlah jam pelajaran katagori penting

JF = Jumlah jam pelajaran katagori faedah

Contoh.

Pada pendidikan Secaba PK Tahap I terdapat materi pelajaran dalam subyek Bin Kejuangan dan Kepribadian pada RPP Kurikulum, sebagai berikut :

(1) Peanan Agama dalam kehidupan sehari-hari = 10 JP, katagori Mutlak.

(2) Pancasila = 15 JP, katagori Mutlak

(3) Binwasitalid = 16 JP, katagori Penting

(4) GBHN = 13 JP, katagori Berfaedah

Mencari bobot materi pelajaran tersebut, sebagai berikut :

(1) MP Peranan Agama dalam kehidupan sehari-hari =

JJP X B X 1000 = 50.000 = 251

(5 X JM) + (3 X JP) + (2 X JF) 199

(2) MP Pancasila = 377

(3) MP Binwasitalid = 241

(4) MP GBHN = 131

3) Kriteria penialan untuk setiap unsur penilaiandari aspek sikap dan perilaku bentuk non tes dapat dilihat pada lampiran C.

4) Cara menghitung nilai masak

a) Bentuk non tes. Cara menghitung nilai masak tiap-tiap unsur menggunakan rumus sebagai berikut :

NM = å N x B

1000

NM = Nilai masak setiap unsur penilaian.

N = Nilai Mentah setiap unsur penilaian.

B = Bobot

Contoh perhitungan nilai masak :

Unsur penilaian dalam kriteria aspek sikap dan perilaku pada unsur penilaian keberanian dalam kriteria mental prajurit = 800

Bobot nilai pada unsur penilaian keberanian = 40.

Nilai masak pelajar A pada unsur penilaian keberaniaan, adalah :

800 x 40 = 32

1000

Jika rata-rata dari 23 unsur penilaian hasil nilai mentah bobot nilai pelajar A seperti tersebut diatas, maka nilai masak pelajar A dlaam aspek sikap perilaku adalah :

  1. x 32 = 736

b) Bentuk tes. Cara menentukan nilai masak, dengan cara : Nilai mentah tiap-tiap materi X bobot tiap-tiap materi pelajaran.

(1) MP Peranan Agama Dalam kehidupan

sehari-hari, nilai = 80

(2) MP Pancasila = 70

(3) MP Binwasitalid = 75

(4) MP GBHN = 80

Menentukan nilai masak, dengan cara :

(1) MP Peranan Agama X Bobot

80 x 251 = 20080

(2) MP Pancasila X Bobot

70 x 377 = 26390

(3) MP Binwasitalid x Bobot

75 x 241 = 18075

(4) MP GBHN x Bobot

80 x 131 = 10480

5) Cara menghitung nilai prestasi. Urutan menghitung nilai prestasi murni, sebagai berikut :

  1. Cari nilai prestasi dari hasil bentuk non tes.
  2. Cari nilai prestasi dari hasil bentuk tes (apabila ada)
  3. Perbandingan indeks hasil nilai prestasi bentuk non tes dengan indeks hasil prestasi bentuk tes adalah = 70 : 30

Mencari nilai prestasi masing-masing tes, menggunakan rumus sebagai berikut :

a) Bentuk non tes.

NP = å NM

NP = Nilai prestasi

NM = Jumlah nilai masak.

b) Bentuk tes.

NP = å NM

100

NP = Nilai prestasi

NM = Jumlah nilai masak.

Contoh :

(1) Nilai prestasi pelajar A dalam bentuk non tes =

23 x 32 = 736

(2) Nilai prestasi pelajar A dalam bentuk tes =

2080 x 26390 x 18075 x 10480 = 75025 = 750,25

100 100

Menentukan nilai prestasi murni hasil perbandingan bobot nilai prestasi bentuk non tes dan nilai prestasi bentuk tes adalah sebagai berikut :

Npm = Npnt X 70 + Npt X 30

100 100

= 736,00 X 70 + 750,25 X 30

100 100

= 515,2 + 225,075 = 740,275

Catatan : Apabila pada kurikulum tidak terdapat materi pelajaran dalam subyek bin kejuangan dan kepribadian (ekstra kurikuler), maka nilai prestasi yang digunakan adalah prestasi bentuk non tes.

15. Evaluasi aspek Ilmu pengetahuan dan ketrampilan. Tujuan evaluasi aspek pengetahuan dan ketrampilan adalah untuk mengukur tingkat kecakapan dibidang akademik baik berupa ilmu pengetahuan maupun ketrampilan sebagai bagian dari pengukuran tingkat keberhasilan pencapaian tujuan pendidikan secara keseluruhan.

16. Unsur-unsur yang dievaluasi.

a. Pengetahuan.

1) Penguasaan materi secara teoritis sesuai tingkat kecakapan yang dituntut.

2) Kemampuan memecahkan persoalan secara logis dan sistimatis.

b. Keterampilan.

1) Mempunyai kemampuan melaksanakan suatu pekerjaan sesuai tingkat kecakapan yang harus dicapai.

2) Mempunyai kemampuan memecahkan persoalan yang berkaitan dengan suatu pekerjaan secara logis dan sistimatis.

17. Tehnik dan bentuk evaluasi aspek ilmu pengetahuan dan ketrampilan.

a. Teknik. Teknik evaluasi yang digunakan dalam mengevaluasi aspek pengetahuan dan ketrampilan berupa tehnik tes, meliputi :

  1. Tes tertulis.
  2. Tes lisan (oral).
  3. Tes praktek baik berupa aplikasi, ketrampilan maupun ketangkasan.

b. Bentuk. Bentuk tes yang digunakan tergantung tehnik evaluasi yang dipilih, meliputi :

1) Tes tertulis. Tes tertulis adalah jenis tes yang diberikan secara tertulis, dengan bentuk :

a) Tes obyektif, terdiri dari :

(1) Benar – salah.

(a) Hal-hal yang harus diperhati-kan dalam menyusun soal Benar-Salah:

i. Beri petunjuk pengerjaan-nya dengan jelas dan memakai kalimat sederhana yang dapat dipahami oleh Peserta idik dengan mudah.

ii. Kalimat pernyataan harus tegas, benar atau sebaliknya.

iii. Hindarkan pemakaian per-nyataan yang terlalu umum, juga kata-kata yang memberikan petunjuk secara tidak langsung bahwa pernyataan tersebut benar atau salah.

iv. Hindarkan penggunaan kata-kata yang negatif seperti tidak, bukan dan lain-lain.

(b) Cara menentukan nilai, dengan menggunakan rumus :

Score = Jumlah jawaban benar = B – S

Score

Nilai = X Indek soal B – S

Jumlah soal

(2) Pilihan Jamak.

(a) Soal tes bentuk pilihan jamak, terdiri atas pembawa pokok persoalan dan pilihan jamak.

(b) Pembawa pokok persoalan dapat dikemukakan dalam bentuk pernyataan dan dapat pula dalam bentuk pertanyaan yang belum lengkap, sering disebut Stem.

(c) Pilihan jawaban itu kalimat disebut Option.

i. Option yang tidak merupakan jawaban yang benar.

ii. Analisa hubungan antar hal, yaitu yang dapat diguna-kan untuk melihat kemampuan peserta didik dalam meng-analisis hubungan antara pertanyaan dengan alasan.

iii. Variasi negatif artinya setiap pertanyaan mempunyai beberapa kemungkinan jawaban, diantaranya disediakan satu kemungkinan jawaban yang salah. Tugas peserta didik adalah memilih jawab yang salah tersebut.

iv. Variasi berganda, artinya memilih beberapa kemungkinan jawaban yang semua betul, tetapi ada jawaban yang paling betul. Tugas peserta didik adalah mencarai jawaban yang paling betul tersebut.

v. Variasi yang tidak lengkap, artinya memiliki beberapa kemungkinan jawaban yang ke-semuanya belum lengkap. Tugas peserta didik mencari satu kemungkinan dan menyelesaikan-nya.

(d) Hal-hal yang harus diperhati-kan dalam menyusun tes tertuis dengan bentuk pilihan jamak.

i. Berilah petunjuk menger-jakannya yang jelas.

ii. Jangan memasukan materi yang tidak relevan dengan kenyataan.

iii. Pernyataan dan option hendaknya merupakan kesatuan kalimat yang tidak terputus.

iv. Panjang option pada suatu soal hendaknya sama.

v. Usahakan agar sistem dann option tidak mudah diasosiasi-kan.

vi. Dalam penyusunannya, pola kemungkinan jawaban yang betul hendaknya jangan sistimatis.

(e) Cara menentukan nilai dengan menggunakan rumus :

Score = Jumlah jawaban benar = å B

Score

Nilai = X indeks soal pilihan jamak

Jumlah soal

(3) Isian.

(a) Bentuk isian merupakan soal yang menghendaki jawaban dengan suatu perkataan atau suatu bilangan yang jawabannya hanya dapat dinilai benar atau salah.

(b) Kalimat sependek mungkin.

(c) Usahakan memberikan kemung-kinan jawaban dengan kata atau kalimat yang pasti kebenarannya.

(d) Jumlah yang dikosongkan (option) tipe soal maksimal 4.

(e) Tidak dibenarkan option yang pertama diletakan didepan kalimat.

(f) Option harus dapat digabungkan /disatukan dengan pernyataan.

(g) Cara menentukan nilai, dengan menggunakan rumus :

Score = å B

Score

Nilai = X Indek soal uraian

Jml option yang harus diisi

b) Tes subyektif berupa uraian (essay)

(1) Tes uraian terutama bertujuan untuk mengukur kemampuan menguraikan apa yang terdapat dalam pikiran tentang suatu masalah yang diajukan.

Jawaban diberikan dalam bentuk uraian berupa kalimat yang berangkai dan disusun secara sistimatis. Bentuk jawaban dari tes uraian ini, secara garis besar dapat digolongkan kedalam dua golongan, yaitu :

(a) Uraian bebas (convergan), yakni tes yang harus dijawab dengan uraian secara bebas.

Contoh : Salah satu prinsip pen-didikan TNI-AD adalah “Pendidikan Militer merupakan pendidikan yang bertingkat dan berlanjut” Jelaskan maknanya.

(b) Uraian terikat (divergan), yakni tes yang harus dijawab dengan uraian yang berdasarkan teori tertentu.

Contoh : Katdaldik adalah seperang-kat dukumen pendidikan sebagai alat kendali dalam operasi pendidikan yang merupakan perwujudan kurikulum pendidikan TNI AD. Uraikanlah sruktur Katdaldik TNI AD.

(2) Hal-hal yang harus diperhatikan dalam menyusun tes tertulis bentuk uraian (essay) :

(a) Petunjuk harus tegas dan jelas.

(b) Unsur-unsur yang harus di-uraikan, disusun secara sistimatis.

(c) Kelengkapan jawaban harus merupakan satu uraian yang me-nerangkan satu permasalahan.

(3) Cara menentukan nilai tes uraian .

(a) Cari dahulu nilai uraian sesuai dengan tingkat kesukarannya, caranya adalah sebagai berikut :

i. Tentukan nilai bobot indek kesukaranya, yaitu :

Bobot uraian sekar = 5

Bobot uraian sedang = 3

Bobot uraian mudah = 2

ii. Cari nilai setiap soal uraian dengan menggunakan rumus sebagai berikut :

Untuk soal sukar :

5

X Nur

5 n1 + 3 n2 + 2 n3

Untuk soal sedang :

3

X Nur

5 n1 + 3 n2 + 2 n3

Untuk soal mudah :

2

X Nur

5 n1 + 3 n2 + 2 n3

Baca entri selengkapnya »

Posted Januari 6, 2010 by downixs in kumpulan makalah

Tagged with

Evaluasi Hasil Belajar   Leave a comment

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar belakang

Pendidikan jasmani Olahraga dan Kesehatan merupakan bagian integral dari pendidikan secara keseluruhan, bertujuan untuk mengembangkan aspek kebugaran jasmani, keterampilan gerak, keterampilan berfikir kritis, keterampilan sosial, penalaran, stabilitas emosional, tindakan moral, aspek pola hidup sehat dan pengenalan lingkungan bersih melalui melalui aktivitas jasmani. Olahraga dan kesehatan terpilih yang direncanakan secara sistematis dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional.

Pendidikan sebagai suatu proses pembinaan manusia yang berlangsung seumur hidup, pendidikan jasmani, olahraga dan keehatan yang diajarkan di sekolah memiliki peranan sangat penting, yaitu member kesempatan kepada peserta didik untuk terlibat langsung dalam berbagai pengalaman belajar melalui aktivitas jasmani, olahraga dan kesehatan yang terpilih yang dilakukan secara sistematis. Pembekalan pengalaman belajar itu di arahkan untuk membina pertumbuhan fisik dan pengembangan psikis yang lebih baik, sekaligus membentuk pola hidup sehat dan bugar sepanjang hayat.

Pendidikan memiliki sasaran pedagogis, oleh karena itu pendidikan kurang lengkap tanpa adanya pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan, karena gerak sebagai aktivitas jasmani adalah dasar bagi manusia untuk mengenal dunia dan dirinya sendiri yang secara alami berkembnag searah dengan perkembangan zaman.

Pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan merupakan media untuk mendorong pertumbuhan fisik, perkembangan psikis, keterampilan motorik, pengetahuan dan penalaran, penghayatan nilai-nilai (sikap-mental-emosional sportivitas-spiritual-sosial), serta pembiasaan pola hidup sehat yang bermuara untuk merangsang pertumbuhan dan perkembangan kualitas fisik dan psikis yang seimbang.

Sehingga format penilaian sikap dalam pendidikan jsmani sangat di perlukan oleh seorang guru pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan. Untuk bahan menilai dan mengevaluasi peserta didik sehingga di dapatkan sebuah nilai yang obyektif. Agar guru pendidikan jasmani memiliki wibawa diantara guru mata pelajaran yang lain

  1. Rumusan Masalah

Apa tujuan membuat tes untuk mengukur sikap siswa dalam pembelajaran pendidikan jasmani ?

  1. Tujuan

Mengetahui tujuan pembuatan tes untuk mengukur sikap siswa dalam pembelajaran pendidikan jasmani.

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

Tes awal aspek sikap dan perilaku dilaksanakan hanya apabila diperlukan bagi kepentingan lembaga khususnya untuk mengetahui motivasi Peserta didik dalam mengikuti pendidikan yang bersangkutan. Tes dilaksanakan melalui penyiapan cekhlis isian yang disusun oleh lembaga sesuai kebutuhan, selanjutnya hasil tes digunakan sebagai data peserta didik dalam aspek sikap dan perilaku . Bagi pendidikan yang tidak melaksanakan pre tes aspek sikap dan perilaku , data sikap dan perilaku awal peserta didik diambilkan dari data yang dibawa sebagai persyaratan administrasi awal, khususnya tentang data sikap dan perilaku seperti : Hasil psikotes, dan daftar penilaian

Penyusunan format observasi ini di latar belakangi oleh adanya masalah yang di hadapi para guru dalam melakukan penilaian terhadap sikap siswa selama mengikuti pembelajaran pendidikan jasmani. Masalah tersebut muncul dari keabstrak-an fenomena sikap, yang masih berupa konsep umum, yang sulit diamati dan diukur, jika belum dijabarkan dan didefinisikan menjadi indicator dan descriptor.Indikator tersebut disusun dari amatan terhadap perilaku-perilaku yang ditampilkan siswa selama mengikuti pembelajaran Pendidikan Jasmani,yang di asumsikan sebagai cerminan sikap siswa.Setelah indikator-indikator tersebut tersusun,kemudian di jabarkan deskriptornya yaitu sebagai penjelas atau operasionalisasi perilaku,agar memudahkan Guru dalam melakukan pengamatan,pengukuran dan penilaian.

Berdasarkan kajian dari beberapa teori sikap yang ada,pada konteks ini,sikap siswa selama mengikuti pembelajaran Pendidikan Jasmani merupakan respon evaluative siswa atas suatu objek (Pembelajaran Pendidikan Jasmani) yang lebih diketahui,dipahami,dirasakan,dialami dan diyakini sehingga menimbulkan kecenderumgan bertindak atau berperilaku baik secara positif (menerima,menyenangi,mendukung,menghargai,melaksanakan dengan sukarela dan bersemangat dan sebagainya) maupun secara negative (menolak,membenci,tidak mendukung,melecehkan,melaksanakan dengan keterpaksaan dan keengganan dan sebagainya).

Perwujudan sikap Selama mengikuti pembelajaran Pendidikan Jasmani dapat digali dari perilaku-perilaku yang ditampilkan siswa selama pembelajaran berlangsung,baik dalam bentuk verbal maupun non verbal.Perilaku itu dibatasi pada perilaku yang muncul dari proses interaksi antara siswa dengan Guru, siswa lain,lingkungan atau sumber-sumber belajar yang digunakan dan untuk memudahkan proses pengamatannya,dilakukan kategorisasi sikap berdasarkan / dimensi yaitu dimensi social,kepemimpinan,etika,partisipasi,kedisiplinan,penampilan dan dimensi control diri.Dari dimensi-dimensi sikap ini,kemudian dijabarkan lagi menjadi indicator dan descriptor penjelasnya.

  1. Manfaat Format Observasi Sikap

Alat penilaian yang berupa format observasi sikap ini dikembangkan sebagai salah satu upaya untuk memecahkan masalah yang dihadapi guru pendidikan jasmani dalam melakukan penilaian sikap siswanya.Format ini akan membantu guru dalam mengamati,mengukur dan menilai sikap siswa selama mengikuti pembelajaran Pendidikan Jasmani secara sistematis,benar dan dapat dipertanggung jawabkan.Hasil penilaian tersebut dimanfaatkan sebagai umpan balik untuk memperbaiki proses pembelajaran (evaluasi proses/formatif/diagnosis/motivatif),juga bisa difungsikan sebagai evaluasi produk(sumatif).Dari sisi siswa,alat ini dapat dimanfaatkan sebagai alat untuk melakukan self-evaluation,yaitu untuk melibatkan siswa dalam penyelenggaraan pembelajaran pendidikan jasmani.

  1. Petunjuk Umum Pengamatan Sikap

Format observasi ini digunakan dan diisi oleh guru pada saat pembelajaran berlangsung,yaitu saat dilapangan.Agar perilaku yang ditampilkan siswa tidak dibuat-buat (tendesius,karena dinilai) dan merupakan cerminan sikapnya terhadap pendidikan jasmani,dalam melaksanakan pengisian format observasi ini,hendaknya dilakukan dengan mempertimbangkan hal-hal berikut ini :

  1. Dilakukan tanpa sepengetahuan siswa
  2. Dilakukan secara berulang-ulang,karena perilaku yang teramati tidak semuanya muncul pada setiap pembelajaran ,dan dengan diulang-ulang dapat meningkatkan kejelian,ketelitian dan keajegan.
  3. Pelaksanaan penilaian ini tidak dialokasiakan dalam waktu yang khusus,tetapi dilakukan sesuai dengan kesempatan yang dimiliki oleh guru selama pembelajaran berlangsung.Misalnya ; Observasi dilakukan setelah pemberian materi,bersamaan dengan proses mengendalikan dan mengevaluasi/mengkoreksi siswa yang sedang melakukan tugas gerak tertentu atau pada situasi-situasi khusus seperti pada waktu kegiatan ekstra kurikuler dan pertandingan antar kelas yang masih dalam konteks dan ruang lingkup pembelajaran Pendidikan Jasmani.
  4. Target jumlah siswa dan jumlah indicator yang diamati dalam satu kali pembelajaran disesuaikan dengan kemampuan masing-masing guru dan karakteristik kancah setempat.

Untuk itu kemampuan guru dalam menggunakan format ini perlu dilatih dan diperlukan ketelatenan dalam melaksanakan uji coba pengamatan secara berulang kali. Baca entri selengkapnya »

Posted Januari 6, 2010 by downixs in kumpulan makalah

Tagged with ,

Penyesuaian Diri Remaja   Leave a comment

2.5 Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Proses Penyesuaian Diri pada Remaja.

Sebagaimana telah dipahami bahwa dalam perkembangannya manusia akan melewati masa remaja. Remaja adalah anak manusia yang sedang tumbuh selepas masa anak – anak menjelang dewasa. Dalam masa ini tubuhnya berkembang sedemikian pesat dan terjadi perubahan – perubahan dalam bentuk fisk dan psikis.

Badannya tumbuh berkembang menunjukkan tanda – tanda orang dewasa, perilaku sosialnya berubah semakn menyadari keberadaa dirinya, ingin diakui dan berkembang pemikiran maupun wawasannya secara lebih luas.

Secara keseluruhan kepribadian mempunyai fungsi sebagai penentu primer dalam penyesuaian diri. Penentu berarti faktor yang mendukung, mempengaruhi, atau menimbulkn efek bagi proses penyesuaian. Secara sekunder proses penyesuaian ditentukan oleh faktor – faktor yang menentukan kepribadian itu sendiri baik internal maupun eksternal.

Penentu penyesuaian identik dengan faktor – faktor yang mengatur perkembangan dan terbentuknya pribadi secara bertahap. Penentu itu dapat dikelompokkan sebagai berikut :

  1. Kondisi – kondisi fisik, termasuk didalamnya keturunan, konstitusi fisik, susunan saraf kelenjar, sistem otot, kesehatan, penyakit dan sebagainya.
  2. Perkembangan dan kematangan khususnya kematangan intelektual, sosial, moral dan emosional.
  3. Penentu psikologis, termasuk didalamnya pengalaman, belajarya, pemgkondisian, penentua diri (self – determination), frustasi dan konflik.
  4. Kondisi lingkungan khususnya kelurga dan sekolah.
  5. Penentu cultural termasuk agama.

Pemahaman tentang faktor – faktor diatas dan bagamana fungsinya dalam penyesuaian merupakan syarat untuk memahami proses penyesuaian diri. Berikut akan dijelaskan mengenai faktor – faktor diatas.

  1. Kondisi Jasmaniah

Kondisi jasmaniah merupakan kondisi primer bagi tingkah laku maka dapat diperkirakan bahwa system syaraf, kelenjar dan otot merupakan faktor yang penting bagi proses penyesuaian diri.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa gangguan – gangguan dalam system syaraf, kelenjar dan otot menimbulkan gejala – gejala gangguan mental, tingkah laku dan kepribadian. Dengan demikian, kondisi sistem tubuh yang baik merupakan syarat bagi tercapainya proses penyesuaian diri yang baik.

Disamping itu, kesehatan dan penyakit jasmaniah juga berhubungan dengan penyesuaian diri. Kualitas penyesuaian diri yang baik hanya dapat diperoleh dan dipelihara dalam kondisi kesehatan jasmaniah yang baik pula. Ini berarti bahwa gangguan penyakit jasmaniah yang diderita oleh seseorang akan mengganggu proses penyesuaian dirinya. Gangguan penyakit yang kronis dapat menimbulkan kurangnya kepercayaan pada diri sendiri, perasaan rendah diri, ketergantungan, perasaan ingin dikasihani dan sebagainya.

  1. Perkembangan, kematangan dan penyesuaian diri.

Sikap dapat diartikan sebagai kesediaan bereaksi indiviu terhadap suatu hal. Lebih terperinci lagi sikap dapat diartikan sebagai kecenderungan yang relatif stabil yang dimiliki seseorang dalam mereaksi (baik reaksi negatif maupun reaksi positif) terhadap dirinya sendiri, orang lain, benda situasi / kondisi sekitarnya. Sikap remaja awal yang berkembang terutama menonjol dalam sikap sosial, lebih – lebih sikap sosial yang berhubungan dengan teman sebaya. Sikap positif remaja awal terhadap teman sebaya berkembang dengan pesat setelah remaja mengenal adanya kepentingan dan kebutuhan yang sama.

Sikap solider atau senasib seperjuangan dirasakan dalam kehidupan kelompok baik dalam kelompok yang sengaja dibentuk ataupun kelompok yang terbentuk dengan sendirinya. Simpati dan merasakan perasaan orang lain telah mulai berkembang dalam usia remaja awal. Remaja berusaha bersikap sesuai dengan norma kelompokmya.

Sesuai dengan hukum perkembangan, tingkat kematangan yang dicapai berbeda – beda antara individu yang satu dengan yang lainnya, sehingga pencapaian pola – pola penyesuaian diri pun berbeda pula secara individual. Dengan kata lain, pola penyesuaian diri akan bervariasi sesuai dengan tingkat perkembangan dan kematangan yang dicapainya. Kondisi – kondisi perkembangan mempengaruhi setiap aspek kepribadian seperti emosional, sosial, moral, keagamaan dan intelektual.

  1. Penentu psikologis terhadap penyesuaian diri.

Faktor psikologis ini banyak sekali macamnya diantaranya adalah :

  1. Pengalaman

Tidak semua pengalaman mempunyai arti bagi penyesuaian diri. Pengalaman yang menyenangkan akan menimbulkan penyesuaian diri yang baik dan sebaliknya.

  1. Belajar

Proses belajar merupakan suatu dasar yang fundamental dalam proses penyesuaian diri, karena melalui belajar ini akan berkembang pola – pola respon yang akan membentuk kepribadian. Sebagaian besar respon dan ciri kepribadian lebih banyak yang diperoleh dari proses belajar daripada yang diperoleh secara diwariskan. Proses belajar ini akan berlangsung sepanjang hayat.

  1. Determinasi diri

Dalam proses penyesuaian diri, disamping ditentukan oleh faktor – faktor terebut diatas, orang itu sendiri menentukan dirinya, terdapat faktor kekuatan yang mendorong untuk mencapai taraf penyesuaian yang tinggi. Faktor – faktor itulah yang disebut determinasi diri. Baca entri selengkapnya »

Posted Januari 6, 2010 by downixs in kumpulan makalah

Tagged with ,

Rencana Pembelajaran   Leave a comment

BAB 1

PENDAHULUAN

    1. LATAR BELAKANG

Rencana ialah suatu cara agar dapat memperoleh hasil yang maksimal. Dan rencana selalu digunakan untuk pencapaian suatu tujuan yang mengambarkan suatu pengorganisasian.

Rencana pembelajaran merupakan suatu perkiraan atau proyeksi dari pembelajaran yang akan dilakukan untuk pencapaian kompetensi yang direncanakan. Pelaksanaan dalam pembuatan rencana pembelajaran pada awal sebelum pembelajaran dimulai, merupakan suatu langkah yang harus ditempuh guna mendukung proses belajar mengajar dan pencapaiaan tujuan dari pembelajaran tersebut.

Isi dari rencana pembelajaran tersebut meliputi sebagai berikut : Mata Pelajaran, Kelas/Semester, Pertemuan Ke, Alokasi Waktu, Kompetensi Dasar, Indikator, Materi Pokok, Skenario Pembelajaran, Media / Alat, Evaluasi. Dengan kompetensi yang sudah direncanakan maka pembelajaran akan lebih optimal dan tujuan dari pembelajaran akan tercapai.

    1. RUMUSAN MASALAH
  • Apa yang dimaksud dengan rencana pembelajaran?
  • Apa saja isi dari rencana pembelajaran tersebut?
    1. TUJUAN PENULISAN MAKALAH
  • Mengetahui maksud dari rencana pembelajaran
  • Mengetahui isi dari rencana tersebut

2.PEMBAHASAN

2.1 PENGERTIAN RENCANA PEMBELAJARAN

  • Pengertian rencana pembelajaran

- Perkiraan atau proyeksi mengenai tindakan apa yang akan dilakukan pada saat melaksanakan kegiatan pembelajaran

- Rencana yang mengambarkan prosedur dan pengoraginasian pembelajaran untuk mencapai satu kompetensi dasar yang ditetapkan dalam standar isi dan telah dijabarkan dlam silabus

- Pembelajaran adalah proses yang ditata dan diatur menurut langkah-langkah tertentu agar dalam pelaksanaannya dapat mencapai hasil yang diharapkan

- RPP disusun untuk satu Kompetensi Dasar.

Prinsip-Prinsip Pengembangan RPP

  • Memperhatikan perbedaan individu peserta didik

  • Mendorong partisipasi aktif peserta didik

  • Mengembangkan buadaya membaca dan menulis proses pembelajaran

  • Memberikan umpan balik dan tindak lanjut

  • Keterkaitan dan keterpaduan

  • Menerapkan teknologi informasi dan komunikasi

Tujuan Dan Manfaat

    • Memberikan landasan pokok bagi guru dan siswa dalam mencapai kompetensi

    • dasar dan indikator

    • Memberi gambaran mengenai acuan kerja jangka pendek

    • Karena disusun dengan menggunakan pendekatan sistem, memberi

    • pengaruh terhadap pengembangan individu siswa

    • Karena dirancang secara matang sebelum pembelajaran, berakibat terhadap nurturant effect

Baca entri selengkapnya »

Posted Januari 6, 2010 by downixs in kumpulan makalah

Tagged with ,

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.