Tes Ketrampilan Olahraga   2 comments


 

Kesahihan Tes Khusus Keterampilan Olahraga

PSSJ Pendidikan Olahraga dan Kesehatan

 

Abstraks: Tes khusus keterampilan olahraga yang baik, sehanisnya memiliki dua fungsi, pertama berfungsi selektif, dan kedua berfungsi prediktif. Tes yang memiliki kemampuan prediktif yang tinggi, dimungkinkan akan dapat memprediksi keberhasilan mahasiswa dalam menempuh matakuliah sesuai dengan kurikulum. Tes khusus seharusnya tidak hanya diwakili oleh sebagian matakuliah, melainkan harus dapat mewakili komponen-komponen penting dari semua matakuliah teori dan praktik yang akan disajikan. Tes ACSPFT (Asian Committee on Standardization of Physical Fitness Test) dan tes kemampuan motorik umum secara teoritis telah memiliki kesahihan isi (content validity) yang dapat digunakan untuk mengukur keterampilan dasar calon mahasiswa PSSJ POK FIP IKIP MALANG, karena memiliki komponen- komponen penting dari semua matakuliah teori dan praktik yang ada. Sehingga tes ini layak digunakan sebagai butir tes khusus keterampilan olahraga.

 

Kata-kata koaci: tes keterampilan, kemampuan motorik, kesegaran jasmani.

 

Seleksi penerimaan mahasiswa baru (Sipenmaru) calon mahasiswa Program Studi Setara Jurusan (PSSJ) Pendidikan Olahraga dan Kesehatan (POK) Fakultas Ihnu Pendidikan (FIP) IKIP MALANG dikenal dengan dua macam cara: Pertama melalui penelusuran minat, bakat dan kemampuan (PMDK), dan kedua melalui ujian tulis yang dilanjutkan dengan tes khusus keterampilan olahraga.

 

Tes khusus keterampilan olahraga, bukan sekedar syarat formal untuk menentukan jumlah mahasiswa yang dibutuhkan, tetapi harus berfungsi ganda yaitu: (1) sebagai alat untuk menyeleksi calon mahasiswa yang berpotensi, dan (2) tes tersebut harus mampu ditempuh dalam perkuliahan. Dengan demikian mahasiswa yang diterima benar-benar memiliki kemampuan dasar yang memadai untuk dapat menyelesaikan tugas-tugasnya secara baik sesuai dengan waktu yang telah ditentukan.

Butir tes yang digunakan untuk menyeleksi calon mahasiswa PSSJ POK FIP KIP MALANG, meliputi: (1) Tes aerobik lari 2,4 km, (2) tes shooting bola basket, (3) tes passing bola voli, (4) tes dribble sepakbola, dan (5) tes renang. Yang menjadi masalah adalah: mengapa tes khusus yang digunakan hanya diwakili dari lima matakuliah teori dan praktik? Apakah butir tes tersebut juga mampu mewakili komponen-komponen penting matakuliah yang lain? Apakah materi tes khusus yang digunakan selama ini telah memiliki kesahihan yang tinggi dan mampu memprediksi terhadap keberhasilan mahasiswa dalam menempuh matakuliah teori dan praktik yang disajikan dalam kurikulum PSSJ POK FIP IKIP MALANG?

Tulisan ini bertujuan menganalisis tentang tes khusus keterampilan olahraga yang telah digunakan di PSSJ POK FIP IKIP MALANG sampai dengan tahun 1994, dibandingkan dengan alat tes yang lain. Di samping beberapa alternatif dalam memilih butir-butir tes yang layak digunakan sebagai alat seleksi bagi calon mahasiswa PSSJ POK FIP IKIP MALANG.

 

TUJUAN PENGUKURAN DAN EVALUASI

Penentuan calon mahasiswa baru yang layak diterima pada PSSJ POK FIP IKIP MALANG, selama ini selalu dilakukan melalui tes. Tes tersebut dilakukan untuk mengumpulkan data tentang keterampilan motorik awal yang telah dimiliki calon mahasiswa sebelum mengikuti perkuliahan. Menurut Scott (19S9) pengukuran dapat menggunakan banyak cara diantaranya dengan menggunakan tes, yang bertujuan untuk menentukan status siswa dan tingkat kemampuan yang telah dimiliki. Verducci (1980); Kirkendall (1980); dan Safrit (1981) mengemukakan tujuan pengukuran dan evaluasi antara lain: (1) menentukan kedudukan siswa secara obyektif, (2) pengelompokan siswa sesuai dengan kemampuan, (3) mengarahkan siswa sesuai dengan program, (4) memprediksi tingkat kemampuan, (5) menentukan prestasi, (6) mengetahui sejumlah ciri khusus kemajuan siswa, (7) memotivasi siswa, (8) penentuan kelas, dan (9) mengevaluasi pengajaran.

Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa terdapat banyak tujuan pengukuran dan evaluasi. Dan salah satu tujuan pengukuran adalah melakukan seleksi, seperti juga tes khusus keterampilan olahraga pada PSSJ POK FIP IKIP MALANG. Tes khusus keterampilan olahraga di samping berfungsi sebagai alat seleksi sekaligus juga dapat berfungsi sebagai prediksi terhadap hasil belajar berdasarkan kemampuan motorik yang telah dimiliki sebelum mengikuti perkuliahan.

 

KRITERIA PENYUSUNAN TES

Penyusunan suatu tes keterampilan olahraga harus memenuhi berapa persyaratan. Para ahli menyatakan persyaratan tersebut meliputi: kesahihan (validity), keajegan atau keterandalan (reliability), objektif, ekonomis, menarik, dan dapat dilaksanakan. (Kirkendall, 1980); (Abdullah, 1988); (Arikunto, 1991).

Suatu alat tes yang sahih berarti alat tes tersebut akan mengukur apa yang seharusnya diukur. (Safrit, 1981); (Kirkendall, 1980). Alat tes memiliki keterandalan atau keajegan yang tinggi apabila alat tes tersebut mengukur secara tetap dan apa yang diukur (Kirkendall, 1980; Safrit, 1981; Abdullah, 1988) dan alat tes tersebut dikatakan obyektif apabila tes tersebut dilakukan oleh beberapa orang, memperoleh hasil yang sama atau hampir sama (Kirkendall, 1980).

Secara garis besar kesahihan dapat dibagi menjadi dua jenis: pertama logika (logical validity) terdiri dan kesahihan isi (content validity) dan konsep (construct validity) dan kedua kesahihan statistik (statistical validity) yang terdiri dan kesahihan kriterion (criterion validity) dan kesahihan ramalan (predictive validity) (Ary, 1979; Kirkendall, 1980; Safrit, 1981; Abdullah, 1988; dan Arikunto, 1991). Tes khusus keterampilan olahraga yang memiliki kemampuan prediksi yang tinggi akan mampu memprediksi hasil belajar yang akan dicapai calon mahasiswa selama mengikuti perkuliahan. Kesahihan prediksi yang tinggi dan suatu tes ditunjukkan oleh derajat kesahihan yang berapa koefisien korelasi yang tinggi. Derajat kesahihan prediksi suatu tes merupakan hasil koefisien korelasi antara nilai tes khusus keterampilan olahraga dengan nilai matakuliah teori dan praktik yang disajikan. Koefisien korelasi tersebut akan berguna menurut Bloom (1976); Mathews, (1976); dan Kirkendall, (1980) apabila r > 0,70. Kesimpulan yang dapat ditarik adalah, bahwa suatu korelasi akan memiliki makna apabila memiliki koefisien korelasi lebih besar dari 0,70 (r > 0,70). Selain tuntutan koefisien korelasi yang tinggi sesuai dengan ketentuan yang ada, syarat lain yang harus dipenuhi adalah variabel yang dikorelasikan harus memiliki hubungan fungsional agar kofisien korelasi yang diperoleh memiliki makna, variabel yang diambil sebagai butir tes merupakan faktor penting yang telah teruji secara teoritis maupun empiris.

 

Sifat Tes Keterampilan

Montoye (1978) mengemukakan tes keterampilan olahraga memiliki rifat-sifat sebagai berikut: (a) Tes keterampilan olahraga harus dapat membedakan tingkat kemampuan dari orang coba. (b) Tes keterampilan olahraga ditekankan pada kemampuan untuk menampilkan dasar keterampilan olahraga, dan bukan hanya menghitung banyaknya variabel yang mempengaruhi permainan dalam situasi pertandingan. (c) Semua tes keterampilan olahraga memerlukan tingkat kekuatan dan daya tahan, sehingga butir-butir tes yang ada harus memperlihatkan elemen-elemen yang penting. (d) Sejak munculnya tes kemampuan motorik, banyak guru-guru pendidikan jasmani telah terpedaya dan membandingkan tes kemampuan motorik secara umum dengan tes IQ (Intelegencia Question) dari para ahli psikologi. Tetapi dalam kenyataannya sampai sekarang tidak demikian. Contoh: Keterampilan senam tidak dapat dibandingkan dengan kemampuan shooting dalam bolabasket, (e) Beberapa kualitas utama seperti kecepatan, keseimbangan dan koordinasi secara umum sesuai dengan variasi cabang olahraga tertentu.

 

Kriteria Tes Keterampilan Olahraga yang Baik

Scott (1959) menyatakan kriteria tes keterampilan olahraga meliputi: (a) tes harus mengukur kemampuan yang penting, (b) tes harus menyerupai situasi permainan yang sesungguhnya, (c) tes harus mendorong bentuk permainan yang baik, (d) tes hanya melibatkan satu orang saja, (e) tes yang dilakukan harus menarik dan berarti, (f) tes harus dapat membedakan tingkat kemampuan, (g) tes harus dapat menunjang penskoran yang baik, (h) tes harus dapat dinilai sebagian dengan menggunakan statistik, (i) tes yang akan digunakan harus memberikan cukup percobaan, (j) tes harus memberikan makna untuk interpretasi penampilan.

Kriteria tes yang baik menurut Montoye (1988) adalah sebagai berikut: (a) hanya melibatkan satu orang pelaku, (b) teknik pengukuran dapat dilakukan dengan mudah dan teliti (akurat), (c) variabel-variabel yang tidak ada hubungannya dengan tes dibatasi seminim mungkin, (d) tes keterampilan harus disusun secara sederhana, (e) bentuk tes keterampilan dan teknik yang dilakukan harus mendekati sama dengan situasi permainan yang sesungguhnya, (f) tes yang diberikan harus sesuai dengan tingkat perbedaan, (g) tes yang akan digunakan harus sesuai dengan tingkatan yang ada, (h) tes dilakukan secara menyeluruh dan teliti sesuai dengan instruksi, (i) tes yang digunakan harus memenuhi prinsip-prinsip kesahihan, reliabilitas, dan obyektifitas.

Untuk memilih keterampilan dasar yang akan digunakan sebagai butir tes, menurut Montoye (1988), dapat dimulai dengan melakukan observasi secara subjektif dalam suatu pertandingan olahraga, hasil observasi ditabulasikan secara obyektif. Selain dengan observasi juga dapat dicari melalui studi literatur, opini para ahli dan sebagainya.

Kesimpulan dari pendapat di depan bahwa tes keterampilan yang baik adalah: (a) tes harus mengukur kemampuan yang penting, (b) tes harus menyerupai situasi permainan yang sesungguhnya, (c) tes harus mendorong bentuk permainan yang baik, dilaksanakan secara menyeluruh dan teliti sesuai dengan instruksi, (d) tes hanya melibatkan satu orang saja, (e) tes yang dilakukan harus menarik dan berarti, (f) tes harus dapat membedakan tingkat kemampuan, (g) tes harus dapat menunjang penskoran yang baik, (h) tes yang akan digunakan harus memberikan cukup percobaan, (i) tes harus memberikan makna untuk interpretasi penampilan, (j) teknik pengukuran dapat dilakukan dengan mudah dan teliti (akurat), (k) tes yang digunakan harus memenuhi prinsip-prinsip kesahihan, keajegan (reliabilitas), dan keobyektifian.

 

HAKIKAT TES KHUSUS KETERAMPILAN OLAHRAGA

Tes khusus keterampilan olahraga selain berfungsi sebagai syarat formal untuk mengukur kemampuan awal keterampilan motorik calon mahasiswa, selayaknya juga mampu menjaring calon mahasiswa juga benar-benar berkualitas. Kalau kualitas sebagai tuntutan, maka konsekuensinya alat ukur yang digunakan (butir tes) harus dapat mengukur apa yang seharusnya diukur (valid).

Terdapat beberapa macam kesahihan yang dapat digunakan sebagai kriteria untuk memilih butir tes, salah satunya adalah kesahihan isi (content validyty). Butir tes khusus keterampilan olahraga seharusnya disusun berdasarkan kesahihan isi dengan menganalisis semua matakuliah teori dan praktik yang akan disajikan. Analisis tersebut dimaksudkan untuk menemukan komponen-komponen penting yang dimiliki setiap matakuliah sebagai butir tes. Dengan demikian butir tes yang digunakan bukan hanya mewakili beberapa cabang olahraga tertentu, melainkan benar-benar dapat mewakili seluruh matakuliah teori dan praktik yang akan disajikan sesuai dengan kurikulum. Butir tes yaag disusun dari komponen-komponen penting yang dimiliki setiap matakuliah teori dan praktik, secara teoritis telah mencerminkan isi dari matakuliah yang akan disajikan, dan ini berarti tes tersebut telah berfungsi ganda, sebagai seleksi dan sebagai prediksi.

Tingkat keterampilan motorik awal yang telah dimiliki calon mahasiswa merupakan faktor penting yang turut menentukan keberhasilan calon mahasiswa tersebut dalam mengikuti matakuliah teori dan praktik. Hal ini selaras dengan teori belajar motorik yang dikemukan Oxendine (1984) dan Schmidt (1988) yang mengemukakan bahwa perubahan perilaku motorik sebagai akibat dari latihan dan pengalaman. Hurlock (1990) menyatakan keterampilan yang dipelajari dengan waktu dan usaha yang sama oleh orang yang sudah siap, akan lebih unggul dari pada orang yang belum siap untuk belajar. Konsep transfer of training dari Thorndike (dalam Winarno, 1994) dikemukakan bahwa transfer belajar akan terjadi apabila hal-hal lama yang telah dipelajari, memiliki unsur-unsur yang identik dengan unsur-unsur baru yang dipelajari.

Penyusunan butir tes khusus keterampilan olahraga yang digunakan harus benar-benar merupakan dasar dari semua matakuliah teori dan praktik yang akan disajikan sesuai dengan kurikulum, sehingga calon mahasiswa yang memperoleh basil tes khusus keterampilan olahraga yang tinggi, akan mampu menyelesaikan tugas-tugas matakuliah dengan lebih hagus dibandingkan dengan calon mahasiswa yang memperoleh hasil tes khusus keterampilan olahraga rendah.

Butir tes khusus keterampilan olahraga yang digunakan dalam seleksi calon mahasiswa bara PSSJ POK FIP IKIP MALANG, meliputi: (1) Tes aerobik lari 2,4 km, (2) tes shooting bola basket, (3) tes passing bola voli, (4) tes dribble sepakbola, dan (5) tes renang. Berdasarkan butir tes yang ada ternyata hanya mewakili lima matakuliah, dengan demikian secara teoritis berdasarkan kesahihan isi (content validity) tes tersebut belum mencerminkan seluruh matakuliah teori dan praktik yang disajikan dalam kurikulum. Hasil analisis tes khusus keterampilan olahraga PSSJ POK FIP IKIP MALANG, dapat dilihat pada tabel 1.

Matakuliah teori dan praktik yang disajikan untuk mahasiswa PSSJ POK FIP IKIP MALANG berdasarkan kurikulum lama, terdiri dari 21 matakuliah bidang studi dengan 28 SKS, dan 11 matakuliah pilihan dengan jumlah SKS 24. Untuk kurikulum 1992 matakuliah bidang studi teori dan praktik terdiri dari I5 matakuliah dengan jumlah SKS sebanyak 21, sedangkan untuk matakuliah pilihan ter­diri dari empat matakuliah dengan 8 SKS. (IKIP MALANG, 1993).

Konstruk Materi Indikator

 

Aerobik Lari 2,4 Km Daya tahan kardiovaskuler

 

Shooting Bolabasket Ketepatan shooting
Tes keterampilan sepakbola Passing Bolavoli Ketepatan passing

Koordinasi mata-tangan-kaki

 

Drible Sepakbola Kecepatan

Koordinasi mata-kaki

 

Renang 20 m Kecepatan

 

Matakuliah teori dan praktik bidang studi yang disajikan dalam kurikulum lama (sebelum kurikulum 1992) adalah sebagai berikut: Atletik 1-4, bolabasket 1-2, bolavoli 1-2, sepakbola 1-2, senam 1-4, renang 1-3, permainan bola kecil, softball, bola tangan, dan pencak silat. Sedangkan matakuliah teori dan praktek pilihan meliputi: Bulu tangkis, tenis meja, tenis lapangan, sepak takraw, bola keranjang, panahan, hoki, gulat, tinju, judo dan karate. (IKIP MALANG, 1993).

Matakuliah teori dan praktik bidang studi yang disajikan dalam kurikulum 1992 adalah sebagai berikut: Bolavoli 1-2, bolabasket 1-2, sepakbola 1-2, atletik 1-2, renang dan loncat indah 1-2, senam 1-2, softball, pencak silat, dan bola tangan. Sedangkan matakuliah teori dan praktik pilihan meliputi: Bulu tangkis, tenis meja, ternis lapangan, dan sepak takraw. (IKIP MALANG, 1993).

 

KOMPONEN-KOMPONEN PENTING MATAKULIAH TEORI DAN PRAKTIK

Dan seluruh matakuliah teori dan praktik yang akan disajikan, untuk kegiatan praktiknya, apabila ditinjau dan sistem energi yang digunakan, maka akan menggunakan sistem energi mulai dari anaerobik sampai aerobik. (Fox, 1984). Pate Russel R. dkk. (1984) mengemukakan, terdapat beberapa komponen penting yang diperlukan untuk menunjang keberhasilan dalam melakukan olahraga. Komponen-komponen tersebut metiputi: (a) kekuatan otot, (b) ketahanan otot, (c) power anaerobik, (d) kapasitas anaerobik, (e) daya tahan kanbonspiratory, (f) kelentukan, dan (g) komposisi tubuh. Lebih lanjut dikemukakan bahwa tidak semua cabang olahraga yang ada memerlukan komponen tersebut dengan persentase yang sama. Untuk cabang olahraga bolavoli kekuatan otot merupakan komponen yang sangat penting, tetapi untuk lari jarak jauh komponen tersebut dianggap tidak penting.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa calon mahasiswa yang mengambil PSSJ POK harus memiliki: kekuatan otot, kecepatan, ketepatan, kelentukan, daya tahan otot, daya tahan kardiovaskuler, kapasitas anaerobik, kelincahan, keseimbangan, koordinasi dan daya ledak yang memadai, karena komponten-komponen tersebut merupakan faktor penting yang dibutuhkan untuk dapat menyelesaikan matakuliah teori dan praktik yang akan disajikan.

Mengingat komponen-komponen tersebut merupakan bagian penting yang dapat membantu keberhasilan belajar, makin lengkap komponen tersebut dipunyai calon mahasiswa dengan kualitas yang tinggi, maka sangat memungkinkan mampu memprediksi keberhasilan belajar calon mahasiswa. Dengan demikian butir-butir tes khusus keterampilan olahraga seharusnya mengacu pada komponen tersebut, bukan kepada matakuliah tertentu seperti yang telah dilakukan selama ini.

Apabila unsur-unsur di atas digunakan sebagai acuan, maka terdapat beberapa alternatif tes khusus keterampilan olahraga yang dapat digunakan, diantaranya adalah: (1) Tes Asian Committee on Standardization of Physical Fitness Test (ACSPFT) untuk mahasiswa dan taruma yang telah dimodifikasi oleh Pusat Kesegaran Jasmani dan Rekreasi (1977). Dan (2) tes keterampilan motorik umum dari Scott dan Barrow (dalam Kirkendall, 1980).

Analisis komponen penting tes ACSPFT sebagai indikator terhadap tingkat kesegaran jasmani seorang calon mahasiswa dapat dilihat pada Tabel 2.

 

Konstruk Materi Indikator Kesegaran Jasmani

 

Lari cepat 50 m Kecepatan

 

Lompat jauh tanpa awalan Daya ledak

 

Bergantung angkat badan/siku Kekuatan otot lengan
Tes ACSPFT Lari hilir mudik 4 x 10 m Kelincahan

 

Baring duduk 30 detik Kekuatan otot perut

 

Lentuk togok kemuka Kelentukan

 

Lari jauh:

  • 1000 meter putera
  • 800 meter puteri
Daya tahan aerobik

 

Tingkat kesegaran jasmani yang diukur menggunakan tes ACSPFT bukan hanya kemampuan kardiovaskulernya saja, melainkan juga kemampuan otot. Indikator kesegaran jasmani dengan menggunakan tes ACSPFT meliputi: kecepatan, daya ledak, kekuatan otot lengan, kekuatan otot perut, kelincahan, kelentukan dan daya tahan aerobik.

Tes Kemampuan Motorik Umum terdapat beberapa macam, diantaranya adalah tes kemampuan motorik umum dari Scott yang dapat digunakan untuk siswa SLTA putri dan mahasiswa putri, dan tes kemampuan motorik umum dari Barrow untuk mengukur kemampuan motorik siswa SLTA putra dan mahasiswa putra. Komponen-komponen penting yang dapat diukur dengan menggunakan tes kemampuan motorik umum ini meliputi: kecepatan, kekuatan otot dan daya tahan, daya ledak, kinestesis, koordinasi mata dan tangan, koordinasi mata dan kaki, kelincahan, kelentukan, dan ketepatan.

Butir-butir tes kemampuan motorik umum dari Scott meliputi: Lari belak-belok dengan rintangan (obstacle race), melempar bola basket, lompat jauh tanpa awalan, wall pass, dan lari cepat selama 4 detik. Dan butir-butir tes kemampuan motorik umum yang dikembangkan Barrow meliputi: Lompat jauh tanpa awalan, melempar bola softball, lari belak-belok (Zigzag run), wall pass, medicine ball put, dan lari cepat 60 yard (dalam Kirkendall, 1980). Analisis komponen penting tes kemampuan motorik umum dari Scott dan Barrow dapat dilihat pada Tabel 3.

 

KESIMPULAN

Tes khusus keterampilan olahraga yang digunakan di PSSJ POK FIP IKIP MALANG, sampai dengan tahun 1994 masih menggunakan lima matakuliah berikut ini; lari 2,4 km, shooting bolabasket, passing bolavoli, dribling sepakbola, dan renang sebagai butir tes.

Konstruk Meteri Indikator

 

Obstacel race Kelincahan

 

Melempar bolabasket Kekuatan otot
Tes kemampuan motorik umum dari Scott Lompat jauh tanpa awalan
  • Daya ledak
  • Kekuatan otot

 

Wall pass. Ketepatan

 

Lari cepat selama empat detik Kecepatan

 

Lompat jauh tanpa awalan
  • Daya ledak
  • Kekuatan otot
Tes kemampuan motorik umum dari Barrow Melempar bola softball Kekuaran otot

 

Zigzag run Kelincahan

 

Wall pass Ketepatan

 

Medicine ball put Kekuatan otot

 

Lari cepat 60 yard kecepatan

 

Berdasarkan kesahihan isi, butir-butir tes tersebut belum dapat mewakili matakuliah teori dan praktik lain yang disajikan dalam kurikulum. Secara logika berarti tes tersebut belum mampu berfungsi sebagai prediktor terhadap keberhasilan belajar matakuliah teori dan praktik.

Alat tes lain yang memiliki kesahihan isi dan dapat digunakan untuk menyeleksi calon mahasiswa baru PSSJ POK FIP IKIP MALANG adalah tes ACSPFT dan tes Kemampuan Motorik Umum. Karena telah memiliki kesahihan isi, maka alat tes tersebut dimungkinkan memiliki kemampuan prediksi yang tinggi terhadap keberhasilan mahasiswa dalam menyelesaikan kuliahnya.

 

 

About these ads

Posted November 26, 2009 by downixs in kuliah

2 responses to “Tes Ketrampilan Olahraga

Berlangganan komentar dengan RSS.

  1. Salam Olahraga…….

  2. Salam Olahraga

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: