Metode dan Teknik Penelitian   Leave a comment


Metode dan teknik penelitian

Pengantar

Metode dan teknik penelitian merupakan alat-alat untuk menjaga supaya hasil penelitian
dapat dipercaya. Jadi, suatu prosedur harus diikuti, supaya peneliti lain bisa melihat dengan
baik-baik dalam laporan ilmiah: apa persoalan, bagaimana data dikumpulkan dan dari mana
kesimpulan yang ditarik? Suatu prinsip ilmiah ialah, bahwa seorang lain yang akan
mengulang suatu penelitian dengan metode dan teknik yang tepat sama, harus memperoleh
hasil yang sama: data yang sama dan kesimpulan juga sama.

Dalam ilmu alam metode penelitian pada garis besar biasanya ditentukan oleh alat
yang digunakan untuk mengukur sesuatu. Jarak antara teori dan observasi atau pengamatan
tidak telalu jauh: boleh dikatakan bahwa metode dan teknik penelitian hampir sama dengan
teori. Tetapi dalam ilmu-ilmu sosial dan ilmu musik hal ini lebih sulit, oleh karena si peneliti
menjadi bagian dari system pengukuran. Misalnya, kalau seseorang ditanyakan pendapatnya
mengenai suatu hal, jawabannya akan dipengaruhi oleh cara pertanyaan tersebut diucapkan
oleh si pewawancara. Oleh karena itu, dalam ilmu-ilmu sosial perlu dipertimbangkan dengan
baik-baik metode yang mana akan diambil untuk mengumpulkan data, misalnya, melalui
daftar pertanyaan, wawancara yang bebas, atau observasi berpartisipasi (participant’s
observation).

Yang paling penting dari sudut metode dan teknik penelitian ialah bahwa data dan
kesimpulan yang ditarik dapat diperiksa lagi oleh peneliti lain menurut prosedur yang
dilaporkan secara jelas. Yaitu, si peneliti harus melapor mengenai keputusan-keputusan yang
diambil untuk menjawab pertanyaan ilmiah dan sebagainya. Biasanya si peneliti mengetahui
mengenai jalan yang diambil, tetapi kadang-kadang lupa melapor mengenai itu. Sebenarnya
sebagian besar dari metode dan teknik penelitian merupakan pemikiran yang logis, common
sense saja; tetapi jangan lupa melapor tentang hal yang begitu ‘biasa’ itu, karena seringkali
juga ada jalan lain yang bisa dipilih!

Wim van Zanten: Methode dan teknik penelitian – beberapa catatan, versi 3 April 2005
Dalam penelitian dapat dilihat tiga fase, yaitu: 1. penulisan rencana penelitian dan
persiapan lain; 2. perkupulan data; 3. analisa dan laporan. Sekarang saya akan menjelaskan
sifat ketiga fase tersebut secara singkat. Sebenarnya, bagian fase pertama akan dibicarakan
secara lebih panjang-lebar daripada fase kedua dan ketiga.

Persiapan dengan rencana penelitian

Rencana penelitian biasanya perlu untuk mendapat dana dari beberapa instansi, tetapi yang
yang paling penting ialah bahwa si peneliti sendiri sadar mengenai apa yang akan diteliti,
supaya tidak ada terlalu banyak perobahan-perobahan dalam penelitiannya. Dalam rencana
penelitian kita akan menguraikan apa yang akan diteliti, dan menurut prosedur yang mana.
Dari rencana penelitian persoalan harus jelas: apa yang akan diteliti, dan – mungking saja ini
masih lebih penting – apa yang tidak akan diteliti. Sebaiknya, garis-besar persoalan penelitian
sudah ditulis pada halaman pertama sejelas mungkin. Kemudian persoalan dibicarakan lebih
mendalam dalam bagian-bagian berikut: latar-belakang teorinya, metode dan teknik, jadwal,
dana, metode laporan, dan sebagainya.

Keputusan yang diambil harus dipertanggungjawabkan. Kalau saya ingin meneliti
kawih Sunda, biasanya itu merupakan sesuatu yang terlalu luas. Jadi, mungkin saja saya
memutuskan untuk meneliti gaya nanyian beberapa pesinden, atau analisa isinya rumpaka
yang dipakai, atau interaksi antara pesinden dan penonton. Pilihan itu harus dijelaskan dalam
rencana penelitian, dengan penjelasan mengapa itu dipilih.

Pilihan fokus penelitian itu juga dipengaruhi oleh penulisan-penulisan ilmiah yang
sudah diterbitkan. Jangan kita mulai dari awal: literatur yang paling penting harus dibaca
sebelum penelitian dimulai. No excuse, kalau literatur tidak berada dalam perpustakan sendiri
(STSI); literatur harus juga dicari di tempat lain atau dari orang lain. Itu masih merupakan
kelemahan di Indonesia: yang sudah diterbitkan dalam bahasa asing seringkali tidak dicari
dan tidak dibaca.1 Boleh ditambah di sini, bahwa mungkin saja seorang peneliti yang sudah

1 Hari-hari ini pencarian itu secara relatif mudah, dengan Internet dan program seperti Google. Dengan Google
Scholar (http://www.scholar.google.com/) kadang-kadang mendapat referensi kepada tulisan lain. Advanced
search dalam Google biasanya lebih baik daripada search saja. Kalau mengetik nama seseorang ‘Wim van
Zanten’ atau ‘Sean Williams’ mendapat sedikit informasi mengenai tulisannya dalam bidang Cianjuran.
Sebenarnya, banyak peneliti sudah mulai website sendiri dan kadang-kadang itu mengandung informasi yang
bermakna (site saya: http://website.leidenuniv.nl/~zantenwvan/). Dari Internet pasti juga mendapat banyak
informasi yang tidak relevan. Lebih penting lagi: jangan lupa, bahwa tidak setiap publikasi dari seorang penulis
bisa dicari dengan metode ini. Hampir setiap penerbitan majalah Ethnomusicology mengandung daftar-dafter

Wim van Zanten: Methode dan teknik penelitian – beberapa catatan, versi 3 April 2005
menulis mengenai suatu kesenian atau daerah akan terus menulis mengenai persoalan itu, jadi
tulisan itu harus dicari! Secara terus-terang, bagaimana mau menulis mengenai notasi
karawitan Sunda kalau (sebagian dari) buku saya (van Zanten 1987 atau 1989) dan artikel
saya (van Zanten 1995a)2 mengenai persoalan ini belum dibaca? Kalau ingin menulis
mengenai aspek gender dalam Cianjuran maka harus membaca tulisan saya, dan juga tulisan
Sean Williams (1998 dan disertasinya 1990, atau edisi pasar 2001 dengan Oxford University
Press). Mungkin saja aspek gender dalam film saya mengenai Saluang jo dendang di
Minangkabau juga bermanfaat (van Zanten 2002).

Saya mengerti fasilitas di Bandung terbatas, tetapi persoalan ini juga ada hubungan
dengan ‘kebudayaan ilmiah’ (academic culture) di Indonesia. Indonesia kaya sekali dengan
macam-macam kesenian, tetapi representasi Indonesia dalam forum ilmiah international tidak
cukup: biasanya kesenian Indonesia direpresentasi oleh peneliti luar negeri. Sayang itu!
Mungkin saja itu juga disebabkan oleh kelemahan dalam bahasa Inggeris. Mau-tidak mau,
hari-hari ini bahasa Inggeris merupankan bahasa ilmiah. Pada tingkat S2, dan pasti pada
tingkat S3, literatur yang relevan dalam bahasa Inggeris harus diketahui.

Sebenarnya, boleh saja ada tulisan yang relevan dalam bahasa asing yang lain:
Spanyol Jepang, Belanda atau Russia. Sebaiknya itu juga diketahui, sekurang-kurangnya
secara garis-besar3 dan mungkin saja dengan tolongan orang yang bisa membaca bahasa asing
itu. Kalau, misalnya, ingin meneliti perkembangan sastra Sunda dalam 150 tahun terakhir ini,
itu tidak bisa dilakukan dengan baik-baik tanpa mengetahui bahasa Belanda, karena politik
bahasa pada waktu penjajahan Belanda mempengaruhi perkembangan sastra Sunda. Kalau
ingin meneliti mengenai perkembangan teori etnomusikologi, itu tidak bisa tanpa membaca
banyak buku dalam beberapa bahasa: Inggeris, Jerman, Perancis, ….. Itu harus
dipertimbangkan. Mungkin saja penelitian harus difokuskan, misalnya kepada perkembangan
teori etnomusikologi antara 1880-1930 di Europa, dan dengan demikian, pengetahuan bahasa
Jerman bersama bahasa Inggeris mungkin sudah cukup.

tulisan dan CD/kaset audio/ film mengenai terbitan yang paling penting di beberapa daerah (Asia/ Africa/
Europe/ America’s/..). Itu bemanfaat sekali.
2 Semua tulisan, film, dan sebagainya dikasih kepada Perpustakaan STSI atau jurusan karawitan STSI; sekarang
beberapa publikasi saya tidak ada lagi dalam perpustakaan STSI. Saya akan mengirim tulisan ini lagi kepada
jurusan karawitan.
3 Dalam perpustakaan yang besar (universitas di negara Barat, dan sebagainya) seringkali berada informasi
mengenai artikel-artikel yang ditulis dalam majalah-majalah (melalui Internet; dan biasanya informasi hanya
diberikan kalau langganan). Untuk bidang musik sudah beberapa puluhan tahun berada RILM yang menerbitkan
buku dengan abstrak-abstrak artikel dalam majalah musik (khususnya musik Barat – etnomusicologi cuma
beberapa majalah).

Wim van Zanten: Methode dan teknik penelitian – beberapa catatan, versi 3 April 2005
Pilihan fokus penelitian itu akan mempengaruhi metode dan teknik penelitian. Kalau,
misalnya, dipilih analisa rumpaka yang dipakai oleh juru kawih, itu berarti bahwa buku-buku
dengan rumpaka harus dicari dalam perpustakaan maupun buku tulis dengan juru-juru kawih.
Kalau ingin meneliti interaksi antara juru kawih dengan penonton, maka itu berarti harus
mengobservasi banyak pertunjukan.

Fokus juga ditentukan oleh waktu dan dana yang tersedia. Kalau ingin meneliti
pengaruh ensemble perunggu di Thailand kepada gamelan Indonesia, itu akan berarti anda
harus jalan ke Thailand dan hidup di sana untuk mengumpulkan data di lapangan dan
perpustakaan. Itu juga berarti bahasa Thai harus dipelajari. Apakah dana dan waktu berada
untuk itu? Penelitian yang paling menarik ialah penelitian yang mengandung pertanyaan yang
baik dan yang bisa diselenggarakan secara effisien. Jangan lupa: penelitian baru selesai
setelah laporan ditulis. Penelitian yang terlalu luas tidak akan diselesaikan.

Rencana penelitian tidak usah terlalu panjang; menurut saya, untuk penelitian S3
cukuplah 12-15 halaman. Akan tetapi, itu juga tergantung syarat-syarat instansi yang akan
memberi dana. Di Belanda sekarang seringkali ada 2 babakan untuk orang yang mencari dana
untuk penelitiannya. Dalam babakan pertama setiap calon harus menyerahkan cuma dua
halaman dengan rencana penelitiannya. Dari calon ini (misalnya 60-80 orang) dipilih 20
orang yang diberikan kesempatan dalam babakan kedua, di mana diminta rencana penelitian
yang lebih luas, yaitu kira-kira 10-20 halaman. Dari 20 orang tersebut, 6-10 mendapat dana
dan yang lain ditolak. Institut ilmiah, seperti NWO (=Nederlands Wetenschappelijk
Onderzoeksinstituut) sudah minta rencana penelitian diisi dalam formulir dengan beberapa
pertanyaan yang standar mengenai penelitian yang direncanakan.

Rencana penelitian dapat diberikan macam-macam struktur. Dengan contoh kerangka
rencana penelitian di bawah ini saya juga memberi bobotnya dalam jumlah halaman yang
kiranya perlu uktuk bagian yang bersangkutan. Jadi, misalnya, kerangka dan bobot bagianbagian bisa sebagai berikut:

1. Judul, yang merupakan deskripsi yang singkat mengenai persoalan. Perlu dipikirkan
dengan baik-baik! Jangan lupa nama si peneliti dan institut, tanggal/tahun, dan sebagainya.
2. Pengantar: dalam ½ -2 halaman disajikan fokus penelitian. Fokus ini boleh – tetapi
tidak usah – diberikan dalam satu atau dua hipotesa, yaitu, pernyataan mengenai hubungan
Wim van Zanten: Methode dan teknik penelitian – beberapa catatan, versi 3 April 2005
antara dua atau lebih variabel. Misalnya, ‘dalam 20 tahun terakhir ini status sosial pemain
waditra dalam Cianjuran telah naik, kalau dibandingkan dengan status sosial juru mamaos’.

Pengantar rencana penelitian ini penting sekali: kalau si pembaca tidak langsung akan
merasa bahwa penelitian ini menarik maka dia mungkin saja tidak akan terus dengan
pembacaannya. Kalau si pembaca harus memutuskan apakah untuk penelitian ini diberi
subsidi atau tidak, payah si penulis rencana penelitian! Lihat juga metode penilaian yang
dilaksanakan sekarang di Belanda (di atas: rencana penelitian dalam 2 halaman!).

3. Kerangka teori (5 halaman). Bagian ini mencerminkan penelitian yang telah
dilakukan oleh orang lain, yaitu merupakan garis-besar intinya literatur yang sudah ada dan
yang relevan untuk penelitian sendiri. Jangan bagian ini diisi dengan pembahasan literatur
yang betul dalam bidang yang bersangkutan, tetapi yang sudah diketahui secara umum, atau
yang tidak betul-betul relevan untuk penelitian yang sekarang direncanakan. Persoalan
teoretis harus digunakan untuk memgambarkan hal-hal teoretis yang terikat dengan penelitian
sendiri: harus to the point. Kalau, mislanya, direncanakan penelitian mengenai interaksi antara
pesinden dan penonton dalam Jaipongan, baiklah, kita juga menggunakan data mengenai
interaksi ini yang sudah diketahui dari penelitian dalam wayang. Akan tetapi, yang ditulis
dalam buku yang bersangkutan mengenai struktur musik gamelan wayang, atau pembuatan
golek tidak ada relevansinya untuk penelitian sekarang.
Dalam bagian ini juga harus dijelaskan apa yang belum diketahui, dan apa yang akan
diteliti sekarang. Perlu juga dijelaskan kenapa titik-berat penelitian diletakkan pada suatu hal.
Untuk itu bisa diberikan alasan yang berdasarkan relevansi sekarang (misalnya, musik Islami
sekarang populer di Indonesia), tetapi juga yang relevan secara lebih teoretis (misalnya,
perbedaan interaksi antara pesinden dan penonton di Sunda dan Jawa).

Saya merasa, relevansi suatu persoalan lebih baik tidak dibesarkan terlalu banyak;
kualitas ilmiah jauh lebih penting, artinya, penelitian harus dilakukan dengan baik-baik. Jelas,
setiap peneliti harus betanggung-jawab terhadap uang dan kesempatan yang diberikan oleh
instansi-instansi untuk penelitiannya. Akan tetapi, apakah suatu penelitian betul-betul akan
bermanfaat untuk masyarakat, itu merupakan suatu pertanyaan yang sulit sekali. Dari sejarah
kita tahu bahwa seringkali hasil suatu penelitian pertama-tama tidak begitu diperhatikan,
tetapi setelah 30 atau 40 tahun baru dilihat relevansinya.

Dalam skripsi-skripsi STSI seringkali tidak terlalu jelas apa relevansinya. Pola yang
saya seringkali melihat ialah: saya akan meneliti permainan si A pada waditra X. Kemudian
banyak transkripsi musik, dan sebagainya. Itu bisa diperbaiki, kalau analisa si A dibandingkan

Wim van Zanten: Methode dan teknik penelitian – beberapa catatan, versi 3 April 2005
dengan analisa permainan si B dan si C pada waditra X. Perspektif bandingan membantu
untuk melihat relevansi secara ilmiah. Ilmu pengetahuan merupakan generalisasi dari
beberapa observasi, jadi deskripsi satu kasus biasanya tidak terlalu bermanfaat.

4. Metode dan teknik penelitian (5 halaman). Dalam teori telah digambarkan garis
besar penelitian. Sekarang persoalan harus difokuskan lebih lagi, supaya dapat dikumpulkan
data yang relevan untuk persoalan. Sebenarnya proses ini merupakan operasionalisasi. Yang
menjadi persoalan ialah, bahwa kita harus mencari jalan untuk mengumpulkan data supaya
pertanyaan-pertanyaan teori bisa terjawab.
Banyak pertanyaan teori tidak bisa dijawab secara empiris; kalau begitu, pertanyaan
itu tidak relevan secara ilmu empirik, seperti ilmu-ilmu sosial atau ilmu karawitan. Pertanyaan
apakah hal-hal transendental (transcendental) – seperti Allah – berada atau tidak, tidak bisa
dijawab secara empiris. Sama saja dengan hipotesa ‘warna suatu elektron ialah kuning’. Kita
tidak bisa melihat suatu elektron, jadi bagaimana mengukur warnanya? Hipotesa itu tidak bisa
dibuktikan secara empirik. Masih lebih penting ialah kalau data empirik tidak ada untuk
membuktikan atau menolakan hipotesa. Misalnya: ‘pada zaman Dalem Pancaniti tempo untuk
mamaos lagu lebih cepat daripada tempo hari ini’. Dari mana mendapat informasi mengenai
tempo pada waktu Dalem Panciniti? Jelas, mungkin saja, ada tulisan, atau petunjuk lain
mengenai tempo itu, dan kalau demikian metode pengumpulan data perlu dijelaskan. Dalam
hal ini, apakah suatu pertanyaan ilmiah baik atau tidak, kita bisa berbeda pendapat. Saya
sendiri biasanya tidak terlalu tertarik kepada pertanyaan seperti ‘apakah musik berada lebih
dulu daripada bahasa?’ Akan tetapi pada waktu Kurt Sachs dan Jaap Kunst grand theories,
yang menghadapi pertanyaan seperti itu, laku.

Dalam teori kita berbicara mengenai struktur musik, mengenai penjiwaan lagu, dan
lain sebagainya. Struktur musik dapat diukur, misalnya, dengan transkripsi banyak lagu yang
direkam; kemudian transkripsi-transkripsi itu dibandingkan: ada bagian A, B, C, yang
biasanya diatur menurut AABB AACC; ada motif X, Y, Z, dan sebagainya. Jadi, kalau
dengan teliti dijelaskan apa yang termasuk ‘struktur musik’, itu sudah beres.

Penjiwaan lagu tidak dapat diukur secara langsung. Secara tidak langsung kita bisa
mencoba untuk mengerti apa itu ‘jiwa lagu’ di Cianjuran melalui wawancara dengan banyak
seniman dan penggemar. Dari perkataan mereka mungkin saja ada pola bahwa nada ageung
lebih menentukan ‘jiwa lagu’ daripada nada alit. Kalau berada sistematik dalam persoalan ini

– artinya banyak responden setuju dalam soal ini – maka bisa dicoba untuk mengukur itu
secara empirik. Misalnya, suatu lagu dinyanyikan, dan kemudian dikerjakan dengan teknik
Wim van Zanten: Methode dan teknik penelitian – beberapa catatan, versi 3 April 2005
komputer, supaya kita mendapat 3 versi: rendah, menengah dan tinggi. Sekarang banyak
orang diminta versi mana yang paling ‘dijiwai’ dan versi mana yang paling ‘kurang dijiwai’.
Kalau secara sistematis responden memilih versi yang rendah (ageung) maka ini membantu
hipotesa bahwa nada ageung lebih menentukan ‘jiwa lagu’ daripada nada alit. Sepintas lalu
hasil ini menarik, cuma harus dipertimbangkan bahwa mungkin masih ada banyak faktor lain
yang menetukan ‘jiwa lagu’, jadi persoalan tidak betul-betul diselesaikan. Jadi, mungkin saja,
kita tidak akan mencoba untuk mengukur ‘jiwa lagu’.

Dalam bagian metode dan teknik juga perlu memberi definisi yang akan digunakan
untuk konsep yang paling penting.4 Misalnya, kalau kita ingin tahu mengenai ‘struktur
musik’, apa yang dimaksudkan secara terperinci? Dari teori kita tahu bahwa dalam banyak
macam musik di dunia nada terakhir dalam frase merupakan nada yang penting dalam sistem
klasifikasi struktur-struktur frase dan lagu. Tetapi, kalau dalam Cianjuran suatu frase diakhiri
dengan suatu ‘buntut’, apakah nada ‘buntut’ itu diambil sebagai nada terakhir, atau nada
pokok, yaitu nada sebelum nada ‘buntut’? Hal-hal seperti itu perlu dibicarakan, dengan
menggunakan teori yang sudah berada. Pertanyaan seperti ‘Apa itu ornamen (sénggol)?’ dan
‘Apa itu arkuh lagu?’ tidak baru; sudah dipersoalkan dalam literatur.

Konsep yang telah dioperasionalisasikan perlu diukur dalam fase pengumpulan data.
Dalam rencana penelitian harus dijelaskan juga cara yang mana yang akan diambil untuk
pengumpulan data. Dengan kata lain: (1) data mana akan dikumpulkan (2) di mana dan (3)
dengan metode yang mana. Jelas, biasanya pengumpulan literatur baru (atau literatur yang
belum dibaca, tetapi referensinya diperoleh dari literatur yang lain) juga termasuk penelitian.
Literatur itu perlu dikumpulkan di perpustakaan atau secara lain (lihat juga di atas ini).

Kalau data juga dikumpulkan dengan mewawancarai orang maka harus dijelaskan
apakah itu akan dilakukan secara wawancara terbuka (cuma berberapa topic diskusi
ditentukan; itu merupakan cara yang paling sulit, karena sulit untuk menjaga proses
pengukuran); atau dengan daftar pertanyaan dengan klasifikasi jawaban yang tertutup (itu
menjaga ‘obyektivitas’ pengukuran, tetapi bisanya hasilnya titak terlalu mendalam). Dan
siapa akan diwawancarai? Kalau kita ingin suatu generalisasi yang dapat dipercaya, maka
biasanya diperlukan sampel random (random sample) dari kelompok yang diteliti. Seringkali
itu agak sulit kalau penelitian dilakukan oleh satu orang. Tetapi selalu harus diperhatikan
apakah data yang dikumpulkan boleh dianggap ‘representatif’ untuk populasi yang diteliti,
yaitu, mencerminkan situasi dalam populasi dengan betul-betul.

4 Definisi-definisi konsep juga dibicarakan dalam bagian teori. Dalam bagian metode dan teknik dibicarakan
khususnya mengenai operationalisasi konsep itu: bagaimana konsep itu akan diukur.

Wim van Zanten: Methode dan teknik penelitian – beberapa catatan, versi 3 April 2005
Untuk penelitian dalam bidang karawitan informasi audiovisual penting sekali. Jadi,
perlu dijelaskan apakah musik akan direkam, dibuat film atau membuat foto. Sebenarnya,
rekaman tidak usah dilakukan sendiri, kadang-kadang sudah ada rekaman tersedia yang bisa
digunakan. Akan tetapi dalam hal ini kita harus hati-hati: rekaman orang lain biasanya
dilakukan dengan maksud yang berlainan dengan rencana penelitian kita. Jadi, mungkin saja
ada bias dalam bahan yang dikumpulkan oleh orang lain. Itu perlu dibicarakan.

Kalau kita sendiri mengumpulkan data audiovisual, juga harus dipertimbangkan apa
yang dilakukan dengan rekaman itu: apakah hanya digunakan untuk analisa, dokumentasi,
ataukah kita ingin menerbit suatu audio CD, atau VCD dengan bahan audiovisual ini? Kalau
bahan cuma dikumpulkan untuk dokumentasi dan analisa teknis, maka biasanya itu tidak
cocok untuk membuat suatu CD atau film.

Data juga bisa dikumpulkan dengan observasi bersama participasi (participant’s
observation). Dalam bidang musik itu seringkali berarti: sendiri belajar main musik yang
diteliti. Dengan metode itu kita bisa berkomunikasi secara non-verbal, tanpa bahasa. Kita
mencoba untuk ngabeo apa yang dimainkan oleh gurunya dan kita bisa dikoreksi secara nonverbal: guru akan mengulang lagi cara yang betul. Jangan lupa bahwa kebanyakan pemain
musik tidak bisa berbicara secara analitis mengenai musiknya. Mereka cuma main musik,
tidak bisa, atau tidak ingin, berbicara mengenai musik secara teknis.

Sebenarnya observasi dengan participasi juga bisa dilakukan kalau kita, misalnya
ingin meneliti tentang organisasi festival pop. Mungkin saja kita mencoba untuk ikut dalam
organisasi beberapa festival dan belajar dari observasi-observasi pada waktu berpartisipasi.

Observasi berpartisipasi tidak bisa selalu dilakukan. Misalnya, kalau musik itu
digunakan dalam suatu ritual maka partisipasi sulit untuk orang luar.5 Jelas, rekaman dan
laporan mengenai ritual mengandung aspek-aspek etis yang perlu diperhatikan. Persoalan
aspek etis luas. Secara umum dapat dikatakan bahwa kita harus menjaga supaya penelitian
kita tidak mempunyai aspek negatif terhadap responden-responden. Sebaliknya, jangan
dikasih harapan terlalu besar terhadap perbaikan situasi responden. Dengan rekaman musik
kita juga harus memperhatikan intellectual property rights.

Dalam bagian metode dan teknik penelitian ini juga harus diberi informasi mengenai
metode yang nanti dipakai untuk analisa data. Transkripsi musik bisa dilakukan melalui

5 Lihat laporan rekaman permainan angklung Baduy pada ritual ngarérémokeun Dewi Asri di Kadujangkung
pada bulan Oktober 1992 dalam van Zanten 1995. Enip Sukanda dan saya tidak diperbolehkan hadir pada
tempat, karena juga ada Baduy Dalem yang hadir. Kita mendapat permisi untuk tinggal di rumah yang dekat
dengan tempat ritual itu. Rekaman audio dapat dilakukan dari rumah ini dan kami bisa melihat kegiatan pada
tempat itu melalui lobang sebesar kira-kira 8×8 cm dalam dinding.

Wim van Zanten: Methode dan teknik penelitian – beberapa catatan, versi 3 April 2005
telinga kita sendiri, atau dengan program komputer. Cara pengukuran sesuatu, atau
pengumpulan data harus terikat dengan metode yang dipakai dalam fase analisa. Misalnya,
kalau kita ingin menganalisa sénggol dalam mamaos Cianjuran dengan komputer, sebaiknya
juru mamaos direkam tanpa iringan waditra, supaya analisa dengan komputer lebih mudah.

Juga bentuk publikasi perlu dipertimbangkan sebelum penelitian dimulai: artikel,
disertasi, CD, film, dan sebagainya. Lihat juga di bawah ini.

5. Jadwal, dana (1-2 halaman). Jadwal penelitian perlu untuk merencanakan
penelitian dengan baik-baik. Itu juga perlu untuk memberi bobot kepada bagian-bagian
penelitian. Misalnya, kalau analisa nanti khususnya diselenggarakan secara teknis-musikal,
maka mungkin saja periode untuk mengumpulkan data di lapangan diambil secara relatif
singkat dan banyak waktu disediakan untuk analisa. Penulisan laporan juga perlu
direncanakan dengan biak-baik: biasanya proses penulisan panjang!
Pemikiran mengenai uang penting untuk menentukan apa yang bisa dan apa yang
tidak bisa dilakukan. Alat rekaman suara dan gambar, komputer, pembuatan CD-ROM, dll.
perlu dimasukkan anggaran. Kalau kita ingin melakukan penelitian di perpustakaan di
Amerika, itu mahal sekali: ongkos perjalanan dan ongkos sehari-hari. Apakah tidak ada
metode lain untuk mendapat informasi yang perlu? Jangan lupa bahwa rencana penelitian
perlu justru untuk memelih jalan yang efektif: dengan fasilitas, uang dan waktu yang terbatas,
bagaimana bisa mendapat jawaban yang paling baik kepada pertanyaan-pertanyaan ilmiah?

6. Daftar referensi (1-2 halaman). Jangan semua yang pernah dibaca dimasukkan di
sini, cuma referensi yang digunakan dalam rencana penelitian. Referensi harus teliti sekali!
Pengumpulan data

Kebanyakan ini sudah dibicarakan dalam bagian ‘Rencana penelitian’. Di sini di tambah
sedikit. Sebaiknya dikumpulkan beberapa macam data: buku, kaset, wawancara dengan orang,
informasi dari instansi pemerinta, dan sebagainya. Ini dengan maksud bahwa kita perlu
membagi resiko: kadang-kadang suatu jalan tidak berhasil, jadi dipilih jalan yang lain.
Kualitas informasi perlu dijaga dengan baik-baik. Kalau kualitas data kurang baik maka
analisa juga tidak akan memberi hasil yang baik. Data harus diperiksa kembali, khususnya
kalau dikumpulkan melalui wawancara. Kalau kita membuat rekaman audio atau video, maka

Wim van Zanten: Methode dan teknik penelitian – beberapa catatan, versi 3 April 2005
langsung informasi mengenai tempat, waktu, pemain, isinya (nama lagu, kata-kata lagu,
kapan diselenggarakan), dan lain-lain harus dicatat. Itu bisa dilakukan dalam buku tulis
dengan potlod atau balpen atau dalam file komputer, tetapi juga pada kaset-kaset supaya nanti
tidak ada keliruan kalau mencari data tersebut. Jangan lupa bahwa ingatan kita terbatas!
Menjaga supaya cacatan-catatan ini tidak hilang. Misalnya, setelah satu buku tulis (40
halaman) penuh, maka kita bisa membuat fotokopinya. Kaset yang penuh harus dibuka (di
belakang) supaya tidak akan direkam lagi. Hal administratif yang dilakukan dengan baik ini
akan bermanfaat pada fase analisa.

Bisanya pada waktu pengumpulan data itu sudah menjadi jelas bahwa kita tidak bisa
ikut rencana penelitian secara penuh; adaptasi diperlukan atas pengalaman di lapangan. Kalau
begitu, cobalah supaya adaptasi dilakukan sedemikian rupa bahwa intinya penelitian tidak
akan dirobah. Sebaiknya, kita juga kadang-kadang memikirkan hasil perkumpulan data: apa
yang masih perlu menurut rencana penelitian? Mungkin saja dalam rencana penelitian kita
sudah masukkan periode kedua (yang biasanya lebih singkat) untuk mengumpulkan data.
Sebaiknya itu direncanakan setelah (sebagian) data dari periode pertama telah dianalisa.

Analisa dan laporan

Setelah fase perkumpulan data selesai kita mulai menganalisa data. Biasanya kita mulai
dengan membuat inventarisasi data: kaset-kaset, rekaman sendiri, wawancara dan sebagainya
yang belum dilakukan pada fase pengumpulan data. Dalam fase ini kita harus lagi
memikirkan macam-macam laporan yang direncanakan (CD, film, buku). Untuk disertasi,
sebaiknya kita sudah mulai lagi dengan kerangka, yaitu, daftar isi kira-kira apa dan bobotnya
kira-kira berapa besar (dalam halaman)?

Kalau suatu penelitian rumit, maka kadang-kadang kita bingung mengenai metode
yang dipakai untuk analisa, dan di mana analisa harus dimulai. Kalau saya sementara tidak
melihat jalan ke luar, saya seringkali mendengar lagi rekaman, membaca lagi catatan-catatan,
dan sebagainya. Mulai saja, dengan apa saja, tetapi jangan berhenti, karena berfrustrasi.
Berhenti sementara bisa, atau pindah ke bagian yang lain dalam penelitian. Kalau data yang
tadi dianggap sulit akan diperiksa lagi, mungkin saja kita melihat cara untuk analisanya.

Kalau rencana penelitian baik, garis besar metode analisa sudah diketahui. Akan
tetapi, untuk penelitian yang agak lama (seperti S3) kadang-kadang ada perkembangan yang
baru, seperti program komputer yang baru. Mungkin saja, data yang dikumpulkan juga

Wim van Zanten: Methode dan teknik penelitian – beberapa catatan, versi 3 April 2005
mengandung macam data yang tidak disebut dalam rencana penelitian. Jelas, dari pengalaman

di lapangan, kita juga melihat kemungkinan baru untuk pekerjaan ilmiah kita.

Dalam fase analisa ini kita hampir pasti melihat bahwa membaca literatur yang baru

perlu, karena pemunculan aspek-aspek yang belum diramalkan dalam rencana penelitian. Itu

baik, tetapi jangan bacalah terlalu banyak: pemikiran sendiri mengenai data sendiri

merupakan tugas yang paling penting. Juga, pada waktu kita membaca 100 artikel, maka

sudah ada 1000 artikel baru yang diterbitkan. Jadi, yang dibaca harus ada ikatan yang jelas

mengenai persoalan dan data kita.

Analisa dan laporan sebaiknya jalan bersama. Kalau analisa sebagian dari data selesai,

sebaiknya itu dilapor dalam tulisan suatu bab dalam buku, yang didiskusi dengan

pembimbing. Ceramah untuk kongres (dalam negri/ luar negri), atau artikel, juga baik untuk

mendapat kritik dari teman-teman. Kadang-kadang artikel yang sudah diterbitkan dalam

majalah internasional, bisa dikerjakan sedikit supaya menjadi bab dalam disertasi. Itu

tergantung universitas dan pembimbing.

Lagi, saya menegaskan bahwa dalam bidang kita, karawitan/ musik, laporan dalam

bentuk CD, CD-ROM, film dan sebagainya perlu dipikirkan dengan baik-baik. Internet juga

merupakan medium yang baik untuk publikasi yang menggabungkan tulisan – yang biasanya

lebih analitis – dengan suara dan gambar.

Referensi

[Maaf kebanyakan referensi cuma kepada tulisan sendiri, karena sekarang tidak ada banyak waktu dan di sini
saya tidak mpunyai informasi yang luas mengenai persoalan ini.]

-Williams, Sean (1990), The Urbanization of Tembang Sunda, an Aristocratic Musical Genre of West Java,

Indonesia. PhD diss., University of Washington

-(1998), ‘Constructing gender in Sundanese music’, Yearbook for Traditional Music 30:74-84.

-(2001), The ancestral ship…. ? [dasarnya: PhD dissertation 1990.] Oxford University Press.

-Zanten, Wim van (1987), Tembang Sunda; An ethnomusicological study of the Cianjuran music in West Java,
xv + 305 pp. With musical examples, photo’s, tables, register; ISBN 90-6624-076-8. Leiden. [PhD dissertation
University of Leiden].

-(1989), Sundanese music in the Cianjuran style; Anthropological and musicological aspects of
Tembang Sunda. [with Demonstration tape: cassette tape 90 min. with documentation, ISBN 90 6765 456 6.]
Dordrecht/ Providence-USA: Foris. [KITLV Verhandelingen 140, xiii + 246 pp., ISBN 90 6765 455 8. Revised
version of PhD dissertation 1987.]

-(1994), Statistika untuk ilmu-ilmu sosial. Edisi kedua. [Edisi pertama, 1980; edisi pertama, cetakan
kedua, 1982.] 498 + xxii pp., tabel, register, daftar istilah statistika Inggeris-Indonesia. Jakarta: Gramedia.

-(1995a) ‘Notation of music; Theory and practice in West Java’, in van Zanten, Wim and Marjolijn van
Roon, Oideion; The performing arts world-wide 2, pp.209-33. Leiden: Research School CNWS.

-(1995b), ‘Aspects of Baduy music in its sociocultural context, with special reference to singing and
angklung’, Bijdragen tot de Taal-, Land-en Volkenkunde 151:516-44.

-(2002) Play the saluang flute, use your fifth finger; Lyrical songs from Payakumbuh, West Sumatra.
Educational film [DVD/ video] + documentation book 32 pp. [ISBN 90-74917-26-7; NUR 064-055.] Leiden:
Institute of Cultural and Social Studies, Leiden University / International Institute for Asian Studies.

Wim van Zanten: Methode dan teknik penelitian – beberapa catatan, versi 3 April 2005

 

About these ads

Posted November 26, 2009 by downixs in kuliah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: